Bagiku mencintamu dalam tulisan yang kureka dan kucipta ini sudah lebih dari cukup. Tak perlu bagiku untuk berterus terang kepadamu. Apakah tak kau rasa setiap huruf ini dituju padamu? Setiap katanya ditaburi cinta. Bagiku cukup mencintaimu lewat kata-kata. Semacam puisi kualitas rendah atau prosa tanpa sastra. Tapi silakan diadu, cintakulah yang paling apa adaanya.
boleh bisa apasaja termasuk menulis, boleh tidak bisa apasaja kecuali menulis - Seno Gumira Ajidarma
Rabu, 22 April 2015
Asal denganmu.
Menjelang gelap menghadang
Dalam riuhnya dengung aku merapal doa
Semoga kelak terulang
Akan kuterjang asal dengan kau
Dua gelas kopi diatas meja
Sebatang rokok dijarimu
Bersama hujan yang mengempur
Aku merapal doa, tak apa begini lagi asal selalu denganmu
Sabtu, 18 April 2015
21
Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana. Tapi yang kutahu, seberapa lamakah aku dengan perasaan rindu ini? Jawabnya adalah selamanya. Sebab rindu ini hanya aku yang rasa. Hanya aku yang punya. Hanya aku. Selamanya tak pernah ada ujungnya, tak pernah ada penawarnya. Aku cinta padamu!
Selasa, 14 April 2015
Tanpa judul deh.
Setidaknya aku tidak begitu pusing memikirkan kemana rinduku harus berlabuh. Sebab rindu, sama seperti perasaan lainnya, perlu dituntaskan. Rasa-rasanya kalau terus merindu melulu, hati ngilu. Betapa nyeri dan menjerikannya sebuah perasaan bernama rindu.
Setelah beberapa waktu diselimuti rindu, kemudian dipertemukan walau beda. Karena aku tahu, rindu ini hanya aku yang punya, hanya aku yang rasa. Sementara kamu? Aku tidak tahu.
Adakah semisal itu yang kamu rasa akan diriku?
Begitu. Kita disibukan oleh aktifitas masing-masing, tenggelam dalam berbagai macam kegiatan.
Pada waktu yang telah diatur sedemikian oleh Sang Kuasa, kita dipertemukan. Orang-orang menganggap hal ini biasa, mungkin kamu pun demikian. Tetapi aku tidak.
Sebutlah aku orang paling lebay sejagat!
Aku bahagia walau sekilas bertegur sapa, menyebutkan ujung namamu. Hatiku berdesir kala punggungmu terlihat dibalik kacamataku. Padahal hanya sebatas punggungmu. Aku jadi ingat kalimat ajaib milik Dewi Lestari:
" Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat, bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara langit, awan atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
DEE - HANYA ISYARAT"
Iya aku hanya bisa mengagumimu sebatas punggungmu saja. Aku tak berani membayangkan jika aku hadir didepanmu. Berapa banyak orang yang akan mencemooh dan meremehkan rasaku? Aku tidak sanggup.
Baiklah, sekian dulu. Aku takut beberapa membaca ini kemudian mencari tahu.
14 april 2015
Rabu, 08 April 2015
Selasa, 04 November 2014
Ketika malam berkisah
Tak peduli jika disini hujan, badai, atau tertutup mega. Pasti di belahan bumi lain, mereka akan tetap bertugas, mendampingi malam.
Seperti malam, gelap dan kelam. Tetapi jika malam tidak gelap, aku tak akan bisa melihat ke tenggara, jika begitu aku tak bisa menemukan Antares; bintang yang paling terang.
Jika malam tidak gelap, aku tak bisa bertemu dengan Orion disebelah barat. Aku tak bisa menemukan Scorpio di langit timur. Aku tak bisa menyaksikan bagaimana Scorpio ingin membunuh kekasihku, Orion.
Seperti malam, gelap dan kelam.
Beberapa orang mengutuki malam, katanya malam hanya mengundang kesedihan. Tetapi kataku, begitulah malam diciptakan! Malam diciptakan untuk kita merenung, menikmati sisi lain kehidupan.
Seperti malam, gelap dan kelam.
Seperti hidupku, gelap dan kelam, namun aku bisa mewarnainya dengan cahaya Tuhan.
Terimakasih kelam, karenamu aku bertemu dengan(nya).
*Nindi Aulia Rahmah, kekasih sang pemburu
26 Oktober 2014