Rabu, 15 Februari 2017

Duh, Nindi

Duh, Nindi.
Konon, kamu tidak pernah tahu Semesta dengan segala takdirnya membawamu melangkah ke arah mana. Di satu titik persimpangan, kelak kamu menyadari telah sejauh ini melangkah. Kembali ke belakang sama halnya dengan menumbuk tepung. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah terus melangkah, berlari bila perlu. Jangan hiraukan yang telah tertinggal, biarkan mereka atau sesuatu itu pada tempatnya. Setiap orang atau setiap sesuatu punya porsinya masing-masing.

Selasa, 17 Januari 2017

Sebuah cerita yang tidak layak kamu atau siapapun tahu

Aku memulai menulis cerita ini dengan sesuatu yang menggenang di sudut mata.

Suatu hari aku melalui perjalanan panjang dengan teman-temanku, ke suatu kota nun jauh dari kota tempat tinggalku. Di perjalanan aku bertanya pada salah satu dari teman-temanku, bagaimana kalau aku mencintai seorang pria sejak lama, apakah aku harus bilang atau tetap diam saja seperti ini?. Temanku itu menjawab, kalau kamu ingin dipandang sebagai perempuan pada kodratnya, biarkan perasaan itu, jangan diungkapkan. Aku diam menunduk, aku tahu hakikatnya perempuan adalah menunggu. Mau semodern apapun, kodratnya perempuan adalah untuk dipilih. Dia, temanku, berkata benar. Dia menghormati diriku sebagai perempuan. Kemudian, aku menyanggahnya, tapi bagaimana ya, ini sudah di tahun akhir masa kuliah kita. Aku menyukainya sejak semester awal, hingga kini masih saja aku suka. Entah dia sadar atau tidak.
“Apakah dia ada di lingkaran pertemanan kita?”, temanku bertanya.
“Iya”, jawabku.
“Kamu pernah menunjukkan kamu mencintainya?”
“Selalu. Aku selalu menunjukan diriku ini nyata untuknya, aku ada mencintainya tapi sepertinya dia hanya memandangku sebagai teman.”
“Kasihan. Hahaha”
“Kurang ajar! Hahaha”
“Jangan diungkapkan, biar saja. Itu saranku, terimalah.”
“Baiklah, terimakasih.”

***

Dan, di sinilah aku. Tetap diam menunggu waktu terbaik kapan harus kuungkap perasaan itu. Sungguh, saran dari seorang laki-laki yang tengah patah hati itu, amat membekas. Duh teman, bagaimana pula aku bisa segila ini jatuh cinta pada kawanmu.

Adalah temanku yang lainnya, yang membuatku jatuh cinta sejak awal bertemu. Timbul begitu saja ketertarikan itu. Berusaha diam saja seperti ini, sejak lama, semakin menebalkan kekaguman akan sosoknya.

Terlalu banyak kesukaan aku dengannya. Cacat fisik kami, kopi kesukaan kami, waktu kesukaan kami, dan segala hal yang mungkin aku paksa hubung-hubungkan demi menyenangkan hatiku sendiri.

Susah memang menjalani cinta sepihak, cinta pada teman sendiri. Sering kali diminta jadi pendengar kisahnya dengan perempuan lain, diminta pendapat untuk hubungannya, dan selalu dipandang sebagai teman.

Hal-hal biasa di matanya yang dilakukan untukku, selalu menjadi istimewa di kenangku.

Yang paling kusuka adalah ketika berdua kita meraba jalan pulang di malam gelap dan hujan besar itu. Yang paling kurindu adalah satu meja denganmu, menatapmu menyeruput kopi dan menghisap rokok. Hanya kita berdua. Yang paling kuingin adalah mendengarkan semua lagu ciptaanmu, meski musiknya bukan seleraku, apapun tentangmu kusuka. Yang paling kuingat adalah semua tentangmu, segala hal yang kau lakukan selalu kusuka. Sejelek apapun kau saat tidur, sebau apapun kentutmu, selama apapun kau makan. Sungguh  selalu menarik bagiku tentangmu.

Ya Tuhan, bagi perempuan di usia yang sudah dewasa ini entah mengapa kisahku ini begitu kekanak-kanakan. Salahkah aku bila selama ini aku hanya melihat ke arahnya?

Ah, dia yang mungkin tak pernah menyadari temannya yang satu ini begitu mendewakannya.

Kamu, kalau sempat membaca ini, tolong sampaikan salamku pada keponakan-keponakanmu yang katanya menyukaiku, sampaikan padanya, doakan agar Teh Nindi bisa menjadi Tante Nindi. Tolong ya, lebih banyak doa lebih baik.


Aku mencintaimu. Seseorang itu.

Jumat, 18 November 2016

Mengapa?

Mengapa akhirnya kau pilih dia yang tidak berjuang sekuat aku mencoba? Akhirnya kita akan asing bagi diri masing-masing.

18112016

Minggu, 06 November 2016

Kau Menjelma Aku

Kita tidak pernah mengerti Semesta dengan segala permainannya dalam setiap pertemuan juga perpisahan. Meski tahu betul setiap pertemuan akan berakhir perpisahan. Tapi, siapa ingin berpisah bila sudah menikmati tiap-tiap hal dalam pertemuan?

Kau adalah anugerah yang Semesta berikan. Sayangnya, aku menyadari hal tersebut di ujung waktu. Padamu aku tahu di bumi ini ada seseorang sepertimu. Aku melihat diriku dalam bentuk lain pada dirimu. Aku lima tahun yang lalu. Kau menjelma aku sebagai bentuk lain yang bukan aku.

Kelak, aku tahu ini bukan perasaan cinta atau semacamnya. Tidak wajar. Begitu yang mereka katakan. Seminggu belakangan ini rasanya seperti mau gila memikirkannya. Tapi malam ini aku yakin betul, ini hanya daya tarik. Kau menjelma aku.

Maafkan atas perasaan keliru belakangan ini.

Nindiarh, 6 November.

Selasa, 11 Oktober 2016

Celoteh Nindis; Kangen.

Apa kabar? Bagaimana kamu melalui 70 hari belakangan ini?

Oh iya.
Selamat malam, atau pagi, atau sore. Bagaimanapun bentuk cuacanya, kuucapkan selamat buatmu.

Aku kelabu.

Ada banyak hal yang melayang-layang di benakku tapi sulit kutangkap, sehingga tak bisa kusajikan buatmu. Mari kita lupakan saja.

Sebab pada tulisan ini, sepenuhnya beralamat padamu. Entah akan kau baca atau tidak, aku tidak menjaminnya. Tidak besok, atau lusa, tidak minggu ini juga minggu depan. Bulan depan atau tahun depan, atau tidak sama sekali, itu juga tidak apa-apa.

Bagiku cukup kau abadi dalam tulisanku, hidup dalam kenanganku. Terukir sebagai salah satu manusia yang menjadi sejarah di kehidupanku, biarlah kau melegenda untukku.

Selamat 9 hari menjelang ulang tahun, ya!
Kalau kau bertanya -mungkin juga tidak- apa yang menjadi doaku buatmu, aku akan menjawabnya dengan malu-malu. Aku mendoakanmu agar kau segera tergenapi dalam hidupmu, dan pastikanlah di masa depanmu nanti adalah aku sebagai apapun yang terbaik di hidupmu, aku tidak memaksa.

Kalau kau tahu, ini adalah pengakuan keduaku. Perasaan itu, sebagaimana aku mencoba menikamnya dalam-dalam, sungguh tidak bisa kulenyapkan begitu saja. Sebagaimana kau memintaku bersikap sebiasa mungkin, pada kenyataannya ia telah mengakar di hatiku, tumbuh subur tanpa pernah kusiram.

Selama 70 hari ini, apakah kau pernah sekali saja benar-benar rindu padaku?

Apakah nanti, setelah kita melanjutkan kehidupan masing-masing, aku dengan cita-citaku dan kau dengan segala mimpimu, kau akan merasa rindu padaku?

Tapi aku bisa apa? Sekalipun rindu ada padaku. Rindu yang lain, rindu yang bukan teman kepada teman. Kalau kau mengerti.

Ah. Mari kita lupakan kembali.
Kondisiku sedang tidak baik-baik saja, dan yang kupikirkan adalah kamu. Bagaimana ini?
Padahal,
Sebatas aku hanya temanmu, sebatas kamu hanya khayalanku.

Sehat-sehatlah selalu. Aku sungguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh rindu!

Salam, aoelia.
11 Oktober 2016

Selasa, 20 September 2016

Hilang

Untuk mengenang kembali perjalanan menuju titik 3078 mdpl 17 Agustus 2015.

Aku sudah selesai mengeja namamu, tidak kutemui kejanggalan. Aku membacanya berulang kali. Satu, dua hingga tiga, namamu masih bisa kueja. Empat, lima lalu sebelas tiba-tiba namamu tidak jelas. Pandanganku kabur, namamu tak bisa lagi kujangkau.

Sepanjang langkah kutapak di bebatuan pasir menuju puncak, kuucap kembali namamu biar terus ku kenang. Sembari menahan sesak yang kadung memenuhi dada, seperti kehabisan oksigen. Aku tak menemui namamu di batas horison, antara bumi dan langit.

Lepas kemarau kering kemarin yang kau semai, satu hal kumenyadari, inginku bukan maumu. Untuk apalagi kita menahan? Maka kulepaskan engkau di ketinggian ini. Diamlah, terkubur, tertinggallah namamu di sana. Dan aku kembali dengan hilang.

Nindiarh, 17 September 2016.

Minggu, 11 September 2016

Celoteh (2)

Sejak awal kumenyadari ada sesuatu yang menghalangi langkah kita. Mengikat diri masing-masing pada sebuah batas bernama pertemanan. Sulit mengungkapnya, sulit untuk bilang bahwa selama ini yang aku butuhkan adalah pengakuan yang lain, bukan sebatas pada kata; teman. Ternyata aku berlomba dengan sesuatu yang tak kasat mata. Begitu dekat ia dengan diriku, lekat pada bayangan kita.

Bagaimana bisa aku menyangkal, bila di belakangmu aku aman. Di sisimu aku nyaman. Di depanmu aku tentram.

Satu cerita sedih menjelang hari raya. Entah bagaimana kebenarannya, tetapi membayangkannya saja hatiku sudah ngilu. Tenanglah, tenang, aku akan selalu mendukung segala keputusanmu.

Selamat bahagia, temanku.
Temanku yang semenjak hari itu hati ini milikmu.

nindiarh, 11 September'16