Selasa, 04 November 2014

Ketika malam berkisah

Seperti malam, gelap dan kelam. Tetapi bulan dan bintang tetap setia menemani.

Tak peduli jika disini hujan, badai, atau tertutup mega. Pasti di belahan bumi lain, mereka akan tetap bertugas, mendampingi malam.

Seperti malam, gelap dan kelam. Tetapi jika malam tidak gelap, aku tak akan bisa melihat ke tenggara, jika begitu aku tak bisa menemukan Antares; bintang yang paling terang.

Jika malam tidak gelap, aku tak bisa bertemu dengan Orion disebelah barat. Aku tak bisa menemukan Scorpio di langit timur. Aku tak bisa menyaksikan bagaimana Scorpio ingin membunuh kekasihku, Orion.

Seperti malam, gelap dan kelam.
Beberapa orang mengutuki malam, katanya malam hanya mengundang kesedihan. Tetapi kataku, begitulah malam diciptakan! Malam diciptakan untuk kita merenung, menikmati sisi lain kehidupan.

Seperti malam, gelap dan kelam.
Seperti hidupku, gelap dan kelam, namun aku bisa mewarnainya dengan cahaya Tuhan.

Terimakasih kelam, karenamu aku bertemu dengan(nya).

*Nindi Aulia Rahmah, kekasih sang pemburu
26 Oktober 2014

Sedekat Nadi

Hari-hariku belakangan, tampak jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku melupakan segala yang menikam. Ibaratnya, aku seperti lahir kembali!

Kau tahu, setelah aku tidak bersamamu lagi, aku berusaha untuk hidup tidak lagi dalam ketergantungan terhadapmu. Aku semakin mandiri sekarang. Jika suatu saat nanti kita dipertemukan, tentu kau akan melihat aku yang berbeda, mungkin saja aku juga akan melihat kau yang berbeda pula.


Aku memahami kini kita telah saling dewasa. Sudah bukan saatnya lagi saling menebar benci. Tapi sejujurnya ada saja perasaanku yang mengganjal, mengkel dihati. Sebab hingga saat ini, aku tidak tahu mengapa kita tiba-tiba bisa sejauh ini, padahal kita pernah sedekat nadi.


Seiring waktu berjalan, semua berubah tanpa persetujuan. Hari-hari kita saat bersama seperti hidup dalam tempurung. Terlihat kokoh dan menawan memang, tapi tak tahu saja dalamnya. Orang-orang menyangka kita pasangan yang sempurna.

Prasangka hanyalah hipotesis belaka, sementara realita berbicara lebih banyak. Kita ditakdirkan untuk tidak dapat merealisasikan apa yang mereka prasangkakan.

Sebenarnya aku sudah bisa bernapas tanpamu. Hanya saja jika malam-malam begini, dengan suasana sepi dan sendiri, ingatan itu begitu saja menari-nari dipikiranku. Semakin aku mengusirnya semakin jalang ia menikam perasaanku.

Kita memilih perpisahan sebagai jalan, karena berusaha untuk menyelamatkan jiwa dari sikap-sikap yang melukai. Sebab jika kita bersama kita akan saling membuat luka, dan tawa adalah hambar.

Sudah lama semenjak mencoret baju seragam putih-abu, kita tak pernah lagi saling bertukar sapa. Sebenarnya jauh sebelum hari kelulusan tiba, kita sudah seperti tak saling mengenal.

Aku yang menjauh karena kau selalu berusaha menghindar. Aku yang mundur karena kau enggan bertahan, apalagi menjelaskan semua teka-teki ini.

Padahal, masih banyak mimpi-mimpi yang pernah kita rancang berdua itu belum diwujudkan. Tentang Scorpio yang ingin membunuh Orion sang pemburu, atau tentang perdebatan Sirius dengan Altair.

Ah, kenangan memang nakal. Selalu mengusik ketika sepi begini, relungku serasa merindumu.

Sudah cukup aku mengenang kita. Kita yang tak lagi beriringan menggapai Mars. Kita yang kini masing-masing menjadi astronot bagi kehidupan masing-masing. Kau tahu, di. Aku seolah menjalani dimensi lain setelah kepergianmu. Seolah masuk black hole dan tidak kembali. Atau bisa saja kau yang memasuki black hole dan tidak kembali? Meninggalkanku dan purnama yang menggantung?


Aku punya kejutan untukmu, aku sudah menyaksikan keindahan Hujan Meteor Orionid. Tidak dengan mata kepalaku langsung memang, tetapi teman-temanku menceritakannya.

Kau tahu di, kalau aku sudah kelelahan bertemu bantal itu tak bisa diusik kembali. Tapi aku janji, suatu saat akan melihatnya secara langsung untukmu, hanya untukmu.

Oh iya selamat bulan November. 24 November nanti, semoga abadi.


Aku memahami kini kita telah saling 'dewasa'. Sudah bukan saatnya lagi saling menebar benci. Tapi sejujurnya ada saja perasaanku yang mengganjal, mengkel dihati. Sebab hingga saat ini, aku tidak tahu mengapa kita tiba-tiba bisa sejauh ini, padahal kita pernah sedekat nadi.


* Nindi Aulia Rahmah, 03 November 2014