FEBRUARI sudah mendekati penghujung. Siapa yang tidak mengenal bulan ini? Semua juga tahu, Februari memiliki tempat masing-masing di hati siapapun. Satu, dua, tiga mulai bercerita tentang masa-masa indah. Kemudian kamu. Empat, lima, enam, hingga sebelas, peristiwa berubah jadi kenangan.
Kenangan bagiku seperti bawang. Semakin aku kupas, semakin tidak kutemukan intinya. Semakin aku iris, semakin perih mata menangis. Kenangan bagiku adalah kamu. Nama yang pernah kuukir indah di sebuah pohon.
Kenangan memang nakal, seringkali ia mengusik ketentraman. Ketentraman yang tumbuh dari luka dan luka yang terbuka karena cinta. Barangkali karena cinta itulah aku berani menuliskan indah namanya.
Dua dasawarsa berlalu. Kenangan itu harusnya tertinggal jauh di belakang. Tapi sekuat apapun aku berlari menjauh, ia justru amat dekat. Lekat sekali dalam ingatan. Sampai-sampai aku hafal bau kenangan yang akan muncul setiap kali aku menatap sesuatu.
Pagi ini di tanah kelahiranku, aku menghirup kenangan. Manis betul ia berkeliaran di kepalaku. Masa-masa indah puluhan tahun silam. Masa di mana aku masih beringsut sarung selepas mengaji di tajug. Menenteng sajadah dan memeluk erat Alquran. Berkejar-kejaran dengan teman di bawah temaram rembulan yang menggantung bulat dengan takhzim di angkasa. Rembulan malam ke lima belas.
“Nur.. Nur.. ini si Gani suka!” teriak Abdul, kawanku, kepada Nur.
Nur adalah cahaya. Ia kemilau yang paling indah. Terang yang paling terang. Hingga siapapun ingin memiliki cahaya itu. Nur adalah keajaiban. Nun di ujung jalan sana, Nur tersenyum malu. Aku ― Si Gani, dapat melihat sempurna indahnya senyum Nur. Nur yang kucinta.
Benar. Kenangan memang nakal. Menyentil sedikit saja perasaanku jadi kembang kempis. Nur, adalah nama yang kuukir di sebuah pohon kersen. Pohon pemilik kenangan setiap orang. Adakah yang tidak memiliki kenangan padanya?
Pohon kersen adalah sejenis perdu yang berbuah kecil dan manis serta berwarna merah kalau matang. Pohon kersen tumbuh tidak terlalu tinggi, paling sekitar 5 hingga 7 meter. Aku sering sekali memanjatnya. Pohon kersen ini tumbuh begitu saja. Tidak ada yang menanam. Pohon dengan cabang-cabang yang mendatar dan menggantung diujungnya, membentuk naungan yang rindang. Ranting-rantingnya berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar, begitu pula pada daunnya.
Suatu sore di senja yang megah, duduk aku pada bangku panjang di bawah pohon kersen bersama Nur, cahayaku. Kami tidak berdua saja memang, ada Abdul, Koni, Emah dan kawan-kawan lainnya sedang bermain gobak-sodor. Usiaku saat itu 13, dan Nur 11 tahun. Kami selisih 2 tahun.
Apa yang dirasakan anak baru gede saat dilanda kasmaran? Aku serasa terbang, ingin memeluk Nur erat tanpa dilepas. Tapi, apalah daya, duduk berdua di bangku saja sudah dicap budak nakal. Duduk berdua dengan Nur, dengan jarak lima jengkal jauhnya, dengan pandangan saling menunduk, dengan dada yang gemuruh. Antara senang dan cemas. Takut ketahuan Uwak Haji, bisa mati dibunuh aku.
Nur adalah keajaiban. Nur adalah anak dari seorang tokoh agama di desaku, oleh masyarakat biasa dipanggil Uwak Haji. Beliau dihormati dan disegani semua orang. Aku belajar mengaji pada Uwak Haji di tajug selepas sembahyang Isya, dengan Nur juga dan teman-teman yang lain. Sementara aku hanya anak petani, Bapakku membajak sawahnya Uwak Haji, mengolahnya hingga panen dan bila musim panen hasilnya dibagi dua.
Aku mengagumi Nur sejak dia masih ingusan. Ketika usiaku 8 tahun dan Nur 6 tahun, aku pernah menemani Bapak ke rumah Uwak Haji mengantarkan hasil panen. Aku melihat Nur sedang bermain. Nur memakai kudung putih tertawa lepas, gigi depannya ompong, aku suka sekali melihatnya. Aku tidak tahu apakah itu perasaan cinta atau bukan, tapi sejak saat itu aku selalu ingin melihat Nur. Nur adalah cahaya.
Di bawah pohon kersen inilah, beberapa puluh tahun lalu, aku duduk bersama dengan Nur. Terpisah jarak lima jengkal. Hatiku berdebar. Ada senang bercampur cemas. Aku ingat hari itu. Hari dimana aku berani betul. Padahal saat itu, banyak kudengar Uwak Haji galak bila ada yang mendekati Nur. Kudengar juga ada pemuda dari desa sebrang, berani-beraninya menemui Nur di rumahnya langsung kena semprot Uwak Haji.
“Nu.. Nuur..” Kataku sedikit gugup.
“hmm.. kenapa A Gani?” tanyanya menatapku, sementara aku tak mampu balas menatapnya hanya menunduk melihat tanah merah yang mulai kering.
“Boleh aku tulis namamu disini?” kataku sambil menunjuk pohon kersen dan tetap menunduk.
“Wah boleh, ayo kita tulis namaku dan nama A Gani juga teman-teman yang lain. Ini bisa jadi pohon kenangan kita!” Ucap Nur antusias, matannya pasti berbinar indah.
“Tapi aku hanya ingin menulis namamu saja, Nur. Boleh?”
“Hmm.. boleh deh, yang indah ya A Gani!”
Di pohon kenangan ini, aku menulis namanya. Nur. Setelah Nur pulang dan teman-teman yang lain pulang juga untuk bersiap-siap pergi ke tajug, aku masih tetap duduk di bangku ini. Aku menatap nama Nur yang terukir indah di pohon kersen. Lalu tanganku dengan magisnya menuliskan nama lain untuk mendampingi nama Nur, namaku. Sehingga di pohon itu, kini terukir NUR dan GANI.
***
Sudah dua dasawarasa sejak kejadian itu, tapi masih lengket melekat dibenak. Sekarang, beginilah kehidupanku. Duduk termenung dalam waktu yang lama, dan hanya memandang ke satu arah; kepada pohon kenangan. Lekat-lekat kutatap namaku dan nama Nur. Sesekali Nur lewat, bersama suaminya si Abdul.
Nindiarh
Penulis Amatiran