Apa kabar? Bagaimana kamu melalui 70 hari belakangan ini?
Oh iya.
Selamat malam, atau pagi, atau sore. Bagaimanapun bentuk cuacanya, kuucapkan selamat buatmu.
Aku kelabu.
Ada banyak hal yang melayang-layang di benakku tapi sulit kutangkap, sehingga tak bisa kusajikan buatmu. Mari kita lupakan saja.
Sebab pada tulisan ini, sepenuhnya beralamat padamu. Entah akan kau baca atau tidak, aku tidak menjaminnya. Tidak besok, atau lusa, tidak minggu ini juga minggu depan. Bulan depan atau tahun depan, atau tidak sama sekali, itu juga tidak apa-apa.
Bagiku cukup kau abadi dalam tulisanku, hidup dalam kenanganku. Terukir sebagai salah satu manusia yang menjadi sejarah di kehidupanku, biarlah kau melegenda untukku.
Selamat 9 hari menjelang ulang tahun, ya!
Kalau kau bertanya -mungkin juga tidak- apa yang menjadi doaku buatmu, aku akan menjawabnya dengan malu-malu. Aku mendoakanmu agar kau segera tergenapi dalam hidupmu, dan pastikanlah di masa depanmu nanti adalah aku sebagai apapun yang terbaik di hidupmu, aku tidak memaksa.
Kalau kau tahu, ini adalah pengakuan keduaku. Perasaan itu, sebagaimana aku mencoba menikamnya dalam-dalam, sungguh tidak bisa kulenyapkan begitu saja. Sebagaimana kau memintaku bersikap sebiasa mungkin, pada kenyataannya ia telah mengakar di hatiku, tumbuh subur tanpa pernah kusiram.
Selama 70 hari ini, apakah kau pernah sekali saja benar-benar rindu padaku?
Apakah nanti, setelah kita melanjutkan kehidupan masing-masing, aku dengan cita-citaku dan kau dengan segala mimpimu, kau akan merasa rindu padaku?
Tapi aku bisa apa? Sekalipun rindu ada padaku. Rindu yang lain, rindu yang bukan teman kepada teman. Kalau kau mengerti.
Ah. Mari kita lupakan kembali.
Kondisiku sedang tidak baik-baik saja, dan yang kupikirkan adalah kamu. Bagaimana ini?
Padahal,
Sebatas aku hanya temanmu, sebatas kamu hanya khayalanku.
Sehat-sehatlah selalu. Aku sungguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh rindu!
Salam, aoelia.
11 Oktober 2016