halo, aku mau bercerita. aku mendedikasikan tulisan ini untuk suamiku, juga untuk kenangan kami.
setahun sudah kami menikah, bahagia. senang sekali menjalaninya. tapi, di tulisan ini aku mau menceritakan bagaimana aku sebelum bertemu dengannya, bagaimana Tuhanku menjawab kontan semua pertanyaanku, mengabulkan apa pintaku.
tahun 2020, setelah dua sahabat dekatku menikah berbarengan. perasaan ingin menikah juga menggelitik hatiku. saat itu, aku habis putus hubungan dengan seseorang yang konon serius padaku tapi no action. bacot doang, nyakitin doang. (lah curhat, maaf).
pokoknya, setelah dua sahabat baikku menikah. aku mulai memikirkannya juga. karena, mungkin sudah memasuki usia matang untuk menikah berdasarkan standar sosial, wkwk. tapi, sampai usia 24-25 aku belum juga dekat serius dengan lelaki manapun. karena, aku berteman dgn banyak orang. dekat dengan banyak orang. beberapa temanku bilang, si A naksir elu nin. tapi enggaa, dia gak pernah berani bilang sama aku. kita akhirnya terjebak friendzone. beberapa kali aku ada di lingkaran setan itu. puncaknya ketika teman dekatku, lelaki itu, akhirnya menikah. aku diolok-olok habis-habisan oleh teman²ku dan keluarganya (karena kami saling kenal). rasanya aku menyesal telah datang ke pernikahannya, aku ingin hilang saja saat itu.
di situlah, aku mulai gaber alias galau berat. sampai pernah seputus asa itu perihal jodoh, aku menyiapkan formulir untuk taaruf dan duit buat ikutan kelas jodoh. hehehe. kaya... dahlah, bismillah, mau ikhlas aja siapapun yang cocok pas taaruf. (padahal, taaruf bagus ya tapi kenapa aku kayak hopeless yak?)
sampai akhirnya, Dewis memaksaku buat kenalan. konon, Dewis bilang ada yang kepo sama aku. wih, aku langsung GR kenapa yak wkwk, berarti aku masih menarik lah 😂😂
aku berkali-kali nanya ke dewis, aku orangnya bukan type yg bisa lgsg klop asik sama orang baru. butuh waktu, tapi Dewis selalu bilang dia orangnya baik, mungkin cocok, coba aja. Dan aku iyain, mau deh kenalan.
Setelah kenalan, anehnyaaaa ada beberapa orang juga yang deketin aku. kaya misal hari ini pagi aku dianter kerja sama si A, sorenya dijemput sama si B. besoknya, main sama si C. dan semua orang² itu menyenangkan untuk diajak ngobrol, karena basicnya dari temanan.
tapi pemenangnya adalah, suamiku, bayyinuddin ahmad!
Suatu hari, di masa galau berat itu aku pernah menulis di buku harian, aku mau menikah diakhir 2020 atau awal 2021. aku mau menikah bukan karena omonga orang tapi karena aku mau menikah. aku mau suamiku dan aku, perannya sama. tidak terlalu ringan atau terlalu berat. kita sama, setara, seimbang.
dan, boom. Allah kabulin, kontan!
aku menikah awal tahun, dengan kesadaran sendiri tanpa campur tangan omongan tetangga. wkwkwk. dikasi bonus, suamiku yang tidak patriarki, ia menghargaiku sbg perempuan merdeka, diberi kebebasan untuk menentukan pilihanku sendiri. bahagianyaaaaa!
rumah yang kami tinggali berdua, bukan saja tugasku untuk menjaga dan merawatnya tapi menjadi tugas kami. kami berbagi peran. mencuci masak dan beberes bukan hanya tugas perempuan dan suamiku tidak malu akan itu. aku bahagia!
sekarang, hari ini, 28 februari genap sudah usia pernikahan kami satu tahun. aku tau, masih banyak hal² yang belum kami lewati untuk ujian rumah tangga berikutnya. tapi, aku percaya sekali tahun pertama adalah fondasinya. kedepannya, kami tentu akan lebih kuat.
kami masih menunggu hadirnya buah hati, semoga memasuki tahun kedua ini kami segera diberikan titipan.
sekian ceritaku, terima kasih