Untuk mengenang kembali perjalanan menuju titik 3078 mdpl 17 Agustus 2015.
Aku sudah selesai mengeja namamu, tidak kutemui kejanggalan. Aku membacanya berulang kali. Satu, dua hingga tiga, namamu masih bisa kueja. Empat, lima lalu sebelas tiba-tiba namamu tidak jelas. Pandanganku kabur, namamu tak bisa lagi kujangkau.
Sepanjang langkah kutapak di bebatuan pasir menuju puncak, kuucap kembali namamu biar terus ku kenang. Sembari menahan sesak yang kadung memenuhi dada, seperti kehabisan oksigen. Aku tak menemui namamu di batas horison, antara bumi dan langit.
Lepas kemarau kering kemarin yang kau semai, satu hal kumenyadari, inginku bukan maumu. Untuk apalagi kita menahan? Maka kulepaskan engkau di ketinggian ini. Diamlah, terkubur, tertinggallah namamu di sana. Dan aku kembali dengan hilang.
Nindiarh, 17 September 2016.