Selasa, 20 September 2016

Hilang

Untuk mengenang kembali perjalanan menuju titik 3078 mdpl 17 Agustus 2015.

Aku sudah selesai mengeja namamu, tidak kutemui kejanggalan. Aku membacanya berulang kali. Satu, dua hingga tiga, namamu masih bisa kueja. Empat, lima lalu sebelas tiba-tiba namamu tidak jelas. Pandanganku kabur, namamu tak bisa lagi kujangkau.

Sepanjang langkah kutapak di bebatuan pasir menuju puncak, kuucap kembali namamu biar terus ku kenang. Sembari menahan sesak yang kadung memenuhi dada, seperti kehabisan oksigen. Aku tak menemui namamu di batas horison, antara bumi dan langit.

Lepas kemarau kering kemarin yang kau semai, satu hal kumenyadari, inginku bukan maumu. Untuk apalagi kita menahan? Maka kulepaskan engkau di ketinggian ini. Diamlah, terkubur, tertinggallah namamu di sana. Dan aku kembali dengan hilang.

Nindiarh, 17 September 2016.

Minggu, 11 September 2016

Celoteh (2)

Sejak awal kumenyadari ada sesuatu yang menghalangi langkah kita. Mengikat diri masing-masing pada sebuah batas bernama pertemanan. Sulit mengungkapnya, sulit untuk bilang bahwa selama ini yang aku butuhkan adalah pengakuan yang lain, bukan sebatas pada kata; teman. Ternyata aku berlomba dengan sesuatu yang tak kasat mata. Begitu dekat ia dengan diriku, lekat pada bayangan kita.

Bagaimana bisa aku menyangkal, bila di belakangmu aku aman. Di sisimu aku nyaman. Di depanmu aku tentram.

Satu cerita sedih menjelang hari raya. Entah bagaimana kebenarannya, tetapi membayangkannya saja hatiku sudah ngilu. Tenanglah, tenang, aku akan selalu mendukung segala keputusanmu.

Selamat bahagia, temanku.
Temanku yang semenjak hari itu hati ini milikmu.

nindiarh, 11 September'16