Rabu, 16 Desember 2015

Resensi Novel "Pulang" Karya Tere Liye

Resensi Novel “PULANG” Karya Tere Liye

Judul Novel    : PULANG
Penulis            : Tere Liye
Penerbit        : Republika Penerbit
Tahun terbit   : Cetakan ke II, Oktober 2015Tebal Halaman        : 400 hlm.

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati Bapakku dibanding di tubuhnya. Juga Mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.” (hlm. 315)

Novel ini berkisah tentang perjalanan pulang yang penuh pertarungan. Perjalanan pulang yang mahal harganya. Harus dibayar dengan kerja keras, disiplin, latihan, keringat, air mata dan darah juga nyawa. Mengisahkan Bujang yang diakhirnya dijuluki Si Babi Hutan. Ia adalah anak pedalaman dari rimba rimba Sumatera. Sejak usia 15 tahun, Ia bergabung dengan Keluarga Tong ― pengusaha Shadow Economy. Keputusan yang Ia ambil sejak usia belia, bergabung dengan Keluarga Tong, meninggalkan Mamak dan Bapaknya di pedalaman rimba Sumatera. Bujang memilih jalan hidup menjadi jagal no 1 di Ibu Kota. Melebarkan kekuasaan Keluarga Tong hingga ke Ibu Kota Provinsi, Ibu Kota Negara bahkan Se-Asia Pasifik. Masyhur betul usaha Keluarga Tong ditangan Si Babi Hutan. Si Babi Hutan terkenal tidak memiliki rasa takut. Definisi rasa takut itu sudah hilang dari hidupnya.

“Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik dan kemarahan. Aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” (hlm.1)

Tetapi kematian Bapak, Mamak juga Tauke Besar ― Bapak Angkatnya membuat rasa takut itu kembali datang di hidupnya. Kepingan masa lalu Bapak dan Mamaknya yang ia tidak ketahui, juga masa lalu miliknya membuat Si Babi Hutan gelisah kepayahan. Rasa takut itu muncul lebih kuat dan lebih besar. Namun pengkhianatan orang terdekatnya menyalakan kembali keberaniannya. Muncul berlipat-lipat keberanian baru. Memeluk segala kesedihan dan masa lalu yang menyesekkan. Pulang kembali kepada panggilan Tuhan. Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang ditempuh, Tuhan selalu memanggil untuk pulang.Novel ini berlatar belakang kegiatan ekonomi illegal atau ekonomi bayangan yang memang sudah bukan hal tabu lagi. Pasti ada, namun tak banyak yang tahu atau tak mau tau. Meskipun tentang kegiatan ekonomi tapi dikisahkan dengan sederhana sehingga sangat mudah dimengerti oleh pembaca. Alur maju-mundur yang disampaikan penulis dalam bercerita sama sekali tidak membosankan dan tidak membuat bingung pembaca. Penulis sangat sistematis dalam merangkai cerita sehingga pembaca dapat menemukan benang merahnya dengan mudah. Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama yang membuat emosi dan penyampaian yang baik sehingga dapat dinikmati oleh pembaca. Pembaca seolah merasakan pertarungan-pertarungan yang dilakukan oleh Bujang. Karakter Bujang atau Si Babi Hutan yang kuat, tangguh, disiplin dan segala sikap yang mempertegas karakter digambarkan dengan apik. Juga tokoh pendukung lainnya, seperti Bapak, Mamak, Tauke Besar, dan Basyir dan yang lainnya yang menghidupkan suasana digambarkan secara sederhana namun jelas, memberikan nilai-nilai moral bagi pembaca.Menurut saya, novel ini cocok sekali untuk dibaca oleh semua kalangan usia. Tua maupun muda, perempuan maupun laki-laki. Sebab novel PULANG ini bagus dijadikan bahan kontemplasi― perenungan. Jadi kemanakah kita akan pulang?

Nindi Aulia Rahmah
Cirebon, 16 Desember 2015

*review singkat pernah dimuar di Instagram Komunitas Pecandu Buku @pecandubuku
Link : https://www.instagram.com/p/817qUdEp_u/

Selasa, 15 Desember 2015

Secuil Kenangan

Ketika telingaku menangkap getar gelombang suaramu, gemetar hatiku. Memoriku langsung memutar ulang kebersamaan kita di malam panjang yang hangat itu. Tentang mimpi-mimpi, angan-angan dan doaku yang hingga kini belum sempat dikabulNya. Tapi tidak apa. 😊
Dingin napasmu dan kaku pelukku masih kurasa. Melihatmu bahagia saja sudah kusyukuri dengan sangat. Bahagialah, impianku!☺

Untukmu yang semenjak hari itu hati ini milikmu.
Kampus GT, 3 Desember 2015.

Selasa, 08 Desember 2015

Kamu ada dimana-mana

Aku mendengar namamu di sela bisikan angin yang mencumbu hangatnya daun dan reranting rambutan. Di pucuk puring yang menguning dan gugur kembang kemuning. Bau tanah basah lepas kemarau panjang dan cahaya kilat memanjang membelah langit yang abu-abu, mendung warnanya. Musim penghujan adalah musim pemutar kenangan. Di rinai rintiknya, di setiap tetesnya adalah bilur tawa dan air mata.
Adalah namamu yang aku ingat dari bisingnya lebah sedang merayu bunga anggrek violet yang menggantung di dahan pohon jambu.
Rindu. Adakah cara lain selain aku menikmati kontemplasi ini?
Lihat, dengar dan rasakan. Mengapa kau ada dimana-mana? Ternyata kau memiliki satu ruang khusus di hatiku.

Beber, 25 November 2015