Selasa, 26 Desember 2017

aku dan kesenanganku

kepada desember yang kadang mendatangkan badai dan terik. dan demi januari yang kehangatannya mulai terasa di batas kota ini.

aku mencoba untuk tidak terlalu ambisius. sebab dewasa ini, aku menyenangi sesuatu yang natural dan sederhana saja.

kesenangan yang kumaksud itu bisa berwujud pesan singkat, yang kadang dapat membuatku berjingkrak bila dapat satu darimu. atau potret dirimu yang sengaja kau bagi sendiri. sesederhana itu. darimu, apa pun, yang memberi kesenangan (buatku) di dalam diam.

iya. kamu adalah kesenangan itu. kamu yang kata banyak orang susah untuk kujangkau. mereka bilang aku terlalu bermimpi. aku jadi tidak percaya diri. tapi tak apa, karena buatku, kamulah kesenangan itu. perasaan damai dan penuh keindahan bila memikirkan kamu dan aku ke masa depan yang ingin kurangkai.

kamu adalah kesenangan yang menimbulkan rindu. rindu yang bukan hanya pada kamu yang sedikit -- seperti hanya kamu dalam bentuk pesan singkat dan potret dirimu -- tetapi juga rindu pada kamu dalam versi lengkap dengan segala kekurangan, dan kelebihan kamu yang melimpah.

aku sedikit memaksa kepada Tuhan. aku selalu menyebut namamu atau mengingat wajahmu, setiap kali di hadapan-Nya. kujadikan doa sebagai satu-satunya jalan tempuhku bila ingin mendapatkan kamu, kesenangan itu. aku tahu caraku ini tidak benar tapi juga tidak salah. biar Tuhan saja yang menimbang, akankah hatimu bergerak kepadaku atau justru Tuhan melemparkan sejauh-jauhnya?

pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa sekali lagi. aku mendoakan semua kualitas terbaik yang Tuhan cipta dikeluarkan-Nya kepadamu. semoga kita bisa bertemu di sebuah waktu, di masa yang datang, di mana semua lebih natural dan sederhana. sesungguhnya Tuhan itu Maha Cinta. Ia tentu lebih paham. semoga saja kita berjodoh.

salam, nindiarh.
sesekali aku ingin jujur seperti ini.

Senin, 20 Februari 2017

POHON KERSEN


FEBRUARI sudah mendekati penghujung. Siapa yang tidak mengenal bulan ini? Semua juga tahu, Februari memiliki tempat masing-masing di hati siapapun. Satu, dua, tiga mulai bercerita tentang masa-masa indah. Kemudian kamu. Empat, lima, enam, hingga sebelas, peristiwa berubah jadi kenangan.
Kenangan bagiku seperti bawang. Semakin aku kupas, semakin tidak kutemukan intinya. Semakin aku iris, semakin perih mata menangis. Kenangan bagiku adalah kamu. Nama yang pernah kuukir indah di sebuah pohon.
Kenangan memang nakal, seringkali ia mengusik ketentraman. Ketentraman yang tumbuh dari luka dan luka yang terbuka karena cinta. Barangkali karena cinta itulah aku berani menuliskan indah namanya.
Dua dasawarsa berlalu. Kenangan itu harusnya tertinggal jauh di belakang. Tapi sekuat apapun aku berlari menjauh, ia justru amat dekat. Lekat sekali dalam ingatan. Sampai-sampai aku hafal bau kenangan yang akan muncul setiap kali aku menatap sesuatu.
Pagi ini di tanah kelahiranku, aku menghirup kenangan. Manis betul ia berkeliaran di kepalaku. Masa-masa indah puluhan tahun silam. Masa di mana aku masih beringsut sarung selepas mengaji di tajug. Menenteng sajadah dan memeluk erat Alquran. Berkejar-kejaran dengan teman di bawah temaram rembulan yang menggantung bulat dengan takhzim di angkasa. Rembulan malam ke lima belas.
“Nur.. Nur.. ini si Gani suka!” teriak Abdul, kawanku, kepada Nur.
Nur adalah cahaya. Ia kemilau yang paling indah. Terang yang paling terang. Hingga siapapun ingin memiliki cahaya itu. Nur adalah keajaiban. Nun di ujung jalan sana, Nur tersenyum malu. Aku ― Si Gani, dapat melihat sempurna indahnya senyum Nur. Nur yang kucinta.
Benar. Kenangan memang nakal. Menyentil sedikit saja perasaanku jadi kembang kempis. Nur, adalah nama yang kuukir di sebuah pohon kersen. Pohon pemilik kenangan setiap orang. Adakah yang tidak memiliki kenangan padanya?
Pohon kersen adalah sejenis perdu yang berbuah kecil dan manis serta berwarna merah kalau matang. Pohon kersen tumbuh tidak terlalu tinggi, paling sekitar 5 hingga 7 meter. Aku sering sekali memanjatnya. Pohon kersen ini tumbuh begitu saja. Tidak ada yang menanam. Pohon dengan cabang-cabang yang mendatar dan menggantung diujungnya, membentuk naungan yang rindang. Ranting-rantingnya berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar, begitu pula pada daunnya.
Suatu sore di senja yang megah, duduk aku pada bangku panjang di bawah pohon kersen bersama Nur, cahayaku. Kami tidak berdua saja memang, ada Abdul, Koni, Emah dan kawan-kawan lainnya sedang bermain gobak-sodor. Usiaku saat itu 13, dan Nur 11 tahun. Kami selisih 2 tahun.
Apa yang dirasakan anak baru gede saat dilanda kasmaran? Aku serasa terbang, ingin memeluk Nur erat tanpa dilepas. Tapi, apalah daya, duduk berdua di bangku saja sudah dicap budak nakal. Duduk berdua dengan Nur, dengan jarak lima jengkal jauhnya, dengan pandangan saling menunduk, dengan dada yang gemuruh. Antara senang dan cemas. Takut ketahuan Uwak Haji, bisa mati dibunuh aku.
Nur adalah keajaiban. Nur adalah anak dari seorang tokoh agama di desaku, oleh masyarakat biasa dipanggil Uwak Haji. Beliau dihormati dan disegani semua orang. Aku belajar mengaji pada Uwak Haji di tajug selepas sembahyang Isya, dengan Nur juga dan teman-teman yang lain. Sementara aku hanya anak petani, Bapakku membajak sawahnya Uwak Haji, mengolahnya hingga panen dan bila musim panen hasilnya dibagi dua.
Aku mengagumi Nur sejak dia masih ingusan. Ketika usiaku 8 tahun dan Nur 6 tahun, aku pernah menemani Bapak ke rumah Uwak Haji mengantarkan hasil panen. Aku melihat Nur sedang bermain. Nur memakai kudung putih tertawa lepas, gigi depannya ompong, aku suka sekali melihatnya. Aku tidak tahu apakah itu perasaan cinta atau bukan, tapi sejak saat itu aku selalu ingin melihat Nur. Nur adalah cahaya.
Di bawah pohon kersen inilah, beberapa puluh tahun lalu, aku duduk bersama dengan Nur. Terpisah jarak lima jengkal. Hatiku berdebar. Ada senang bercampur cemas. Aku ingat hari itu. Hari dimana aku berani betul. Padahal saat itu, banyak kudengar Uwak Haji galak bila ada yang mendekati Nur. Kudengar juga ada pemuda dari desa sebrang, berani-beraninya menemui Nur di rumahnya langsung kena semprot Uwak Haji.
“Nu.. Nuur..” Kataku sedikit gugup.
“hmm.. kenapa A Gani?” tanyanya menatapku, sementara aku tak mampu balas menatapnya hanya menunduk melihat tanah merah yang mulai kering.
“Boleh aku tulis namamu disini?” kataku sambil menunjuk pohon kersen dan tetap menunduk.
“Wah boleh, ayo kita tulis namaku dan nama A Gani juga teman-teman yang lain. Ini bisa jadi pohon kenangan kita!” Ucap Nur antusias, matannya pasti berbinar indah.
“Tapi aku hanya ingin menulis namamu saja, Nur. Boleh?”
“Hmm.. boleh deh, yang indah ya A Gani!”
Di pohon kenangan ini, aku menulis namanya. Nur. Setelah Nur pulang dan teman-teman yang lain pulang juga untuk bersiap-siap pergi ke tajug, aku masih tetap duduk di bangku ini. Aku menatap nama Nur yang terukir indah di pohon kersen. Lalu tanganku dengan magisnya menuliskan nama lain untuk mendampingi nama Nur, namaku. Sehingga di pohon itu, kini terukir  NUR dan GANI.
***
Sudah dua dasawarasa sejak kejadian itu, tapi masih lengket melekat dibenak. Sekarang, beginilah kehidupanku. Duduk termenung dalam waktu yang lama, dan hanya memandang ke satu arah; kepada pohon kenangan. Lekat-lekat kutatap namaku dan nama Nur. Sesekali Nur lewat, bersama suaminya si Abdul.

Nindiarh
Penulis Amatiran

Rabu, 15 Februari 2017

Duh, Nindi

Duh, Nindi.
Konon, kamu tidak pernah tahu Semesta dengan segala takdirnya membawamu melangkah ke arah mana. Di satu titik persimpangan, kelak kamu menyadari telah sejauh ini melangkah. Kembali ke belakang sama halnya dengan menumbuk tepung. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah terus melangkah, berlari bila perlu. Jangan hiraukan yang telah tertinggal, biarkan mereka atau sesuatu itu pada tempatnya. Setiap orang atau setiap sesuatu punya porsinya masing-masing.

Selasa, 17 Januari 2017

Sebuah cerita yang tidak layak kamu atau siapapun tahu

Aku memulai menulis cerita ini dengan sesuatu yang menggenang di sudut mata.

Suatu hari aku melalui perjalanan panjang dengan teman-temanku, ke suatu kota nun jauh dari kota tempat tinggalku. Di perjalanan aku bertanya pada salah satu dari teman-temanku, bagaimana kalau aku mencintai seorang pria sejak lama, apakah aku harus bilang atau tetap diam saja seperti ini?. Temanku itu menjawab, kalau kamu ingin dipandang sebagai perempuan pada kodratnya, biarkan perasaan itu, jangan diungkapkan. Aku diam menunduk, aku tahu hakikatnya perempuan adalah menunggu. Mau semodern apapun, kodratnya perempuan adalah untuk dipilih. Dia, temanku, berkata benar. Dia menghormati diriku sebagai perempuan. Kemudian, aku menyanggahnya, tapi bagaimana ya, ini sudah di tahun akhir masa kuliah kita. Aku menyukainya sejak semester awal, hingga kini masih saja aku suka. Entah dia sadar atau tidak.
“Apakah dia ada di lingkaran pertemanan kita?”, temanku bertanya.
“Iya”, jawabku.
“Kamu pernah menunjukkan kamu mencintainya?”
“Selalu. Aku selalu menunjukan diriku ini nyata untuknya, aku ada mencintainya tapi sepertinya dia hanya memandangku sebagai teman.”
“Kasihan. Hahaha”
“Kurang ajar! Hahaha”
“Jangan diungkapkan, biar saja. Itu saranku, terimalah.”
“Baiklah, terimakasih.”

***

Dan, di sinilah aku. Tetap diam menunggu waktu terbaik kapan harus kuungkap perasaan itu. Sungguh, saran dari seorang laki-laki yang tengah patah hati itu, amat membekas. Duh teman, bagaimana pula aku bisa segila ini jatuh cinta pada kawanmu.

Adalah temanku yang lainnya, yang membuatku jatuh cinta sejak awal bertemu. Timbul begitu saja ketertarikan itu. Berusaha diam saja seperti ini, sejak lama, semakin menebalkan kekaguman akan sosoknya.

Terlalu banyak kesukaan aku dengannya. Cacat fisik kami, kopi kesukaan kami, waktu kesukaan kami, dan segala hal yang mungkin aku paksa hubung-hubungkan demi menyenangkan hatiku sendiri.

Susah memang menjalani cinta sepihak, cinta pada teman sendiri. Sering kali diminta jadi pendengar kisahnya dengan perempuan lain, diminta pendapat untuk hubungannya, dan selalu dipandang sebagai teman.

Hal-hal biasa di matanya yang dilakukan untukku, selalu menjadi istimewa di kenangku.

Yang paling kusuka adalah ketika berdua kita meraba jalan pulang di malam gelap dan hujan besar itu. Yang paling kurindu adalah satu meja denganmu, menatapmu menyeruput kopi dan menghisap rokok. Hanya kita berdua. Yang paling kuingin adalah mendengarkan semua lagu ciptaanmu, meski musiknya bukan seleraku, apapun tentangmu kusuka. Yang paling kuingat adalah semua tentangmu, segala hal yang kau lakukan selalu kusuka. Sejelek apapun kau saat tidur, sebau apapun kentutmu, selama apapun kau makan. Sungguh  selalu menarik bagiku tentangmu.

Ya Tuhan, bagi perempuan di usia yang sudah dewasa ini entah mengapa kisahku ini begitu kekanak-kanakan. Salahkah aku bila selama ini aku hanya melihat ke arahnya?

Ah, dia yang mungkin tak pernah menyadari temannya yang satu ini begitu mendewakannya.

Kamu, kalau sempat membaca ini, tolong sampaikan salamku pada keponakan-keponakanmu yang katanya menyukaiku, sampaikan padanya, doakan agar Teh Nindi bisa menjadi Tante Nindi. Tolong ya, lebih banyak doa lebih baik.


Aku mencintaimu. Seseorang itu.