Rabu, 22 Juni 2016

#sebelah

Padahal Tuhan memberimu dua. Kenapa hanya satu yang kau gunakan? Tolong jangan pandang aku dari sebelah matamu.

Masa lalu bisu

Masa lalu selalu aktual

Di mataku kau tak pernah lampau. Sekalipun hilang engkau ditelan waktu. Di hatiku kau tak pernah mati. Satu ruang milikmu sendiri.

Nindiarh, 3 Mei 2016.

Sabtu, 18 Juni 2016

Aku adalah ahlinya dalam menyayangi tanpa tahu bagaimana untuk berhenti; dan ditinggal saat hampir memiliki.

Kamis, 16 Juni 2016

Surat untuk Ramadhan

Duhai Ramandhan, betapa banyak yang tak menghargai datangnya engkau, apakah mereka termasuk yang bukan golongan beriman?
Aku dengan keimanan yang kupunya, dan akhlak yang belum sempurna, betul-betul ingin memadukan lahir dan bathinku padamu, Ramadhan. Bila kelak, meski enggan, aku memang harus terbakar dahulu oleh apiNya, jangan sampai kedua orangtuaku terbawa karena perangaiku. Tetapi sungguh aku inginkan hakiki bahagia di firdausNya. Ramadhan, tolong rengkuh aku dalam pelukNya.

Nindiarh, 16 Juni 2016.

Sabtu, 11 Juni 2016

Pengakuan

Tuan, sebelumnya selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga tahun ini ramadanmu penuh berkah.

Pada tulisan ini, aku ingin ungkapkan semuanya. Tak apa kalau engkau tak sempat membacanya, di sini aku cuma butuh bejana untuk menampung segala resah yang kadung kukhayalkan dengan indah.

Perkenalan kita sebelum berangkat ke bumi perkemahan 3 tahun silam, adalah awal dari semua gelisah ini. Aku, cukup tahu diri dan terus menjaga hati untuk tidak begitu saja mengamini apa yang terjadi. Love at the first sight, katanya. Tapi aku tidak percaya. Sebentar saja ternyata ketertarikanku padamu. Lalu kau justeru malah dekat dengan sahabatku. Sering dia bercerita tentangmu, aku cemburu. Di sisi sini aku juga memiliki kedekatan dengan lelaki lain. Ku rasa aku akan egois bila mementingkan perasaanku seorang. Detik itu juga, kupangkas habis perasaanku padamu agar tak tumbuh lagi.

Singkat cerita, aku sudah memutuskan hubunganku dengan lelaki kemarin. Kau pun sudah tak ada hubungan dengan sahabatku. Tetapi angin membawa kabar kau tengah dekat dengan perempuan lain. Aku lagi-lagi cemburu, tetapi bukan, kurasa ini bukan cemburu, lebih kepada kesal. Kesal mengapa aku tak pernah mendapatkan kesempatan itu!

Kemudian kita ternyata satu kelas. Senang betul hatiku. Tapi apalah daya aku hanya bisa memendam. Cuma bisa jadi teman. Friendzone. Cuma bisa mendengarkanmu yang kadangkala curhat tentang kekasihmu. Cuma bisa jadi pendengar setia keluhmu, kesalmu terhadap hubungan yang sedang kaujalani. Aku bahkan pernah berbisik dalam hati, hanya dalam hati saja, kemari padaku saja akan kubuat kau pria paling bahagia di dunia ini!

Kau tahu, banyak momen yang sengaja kucuri darimu. Pura-pura seolah hal biasa padahal istimewa untukku. Banyak kenangan yang kusimpan tentangmu. Beberapa diantaranya kenangan yang besar. Banyak sajak tercipta buatmu. Sungguh benar-benar tentangmu. Bila kuruntut, momen bersamamu adalah hal paling-sangat-tidak-mudah terlupakan dalam hidupku.

Terimakasih telah mau mewarnai indah masa-masa di kampus. Telah menjadi banyak alasanku, itu juga terimakasih. Untuk mengambil banyak waktumu dan segala kebaikanmu padaku, untuk menjadi tempat yang paling aman buatku, terimakasih.

Maaf jika dulu, dibelakangmu, aku pernah memelukmu begitu erat. Aku merasa berdosa. Juga maaf pernah membuatmu kesal. Untuk selalu membuatmu repot, aku juga minta maaf.

Terakhir, tolong dimaafkan pengakuan ini. Aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Akan kuungkapkan, entah akhirnya akan menyakitiku atau tidak. Tolong, maafkan aku yang menaruh rasa padamu.

Tertanda,
yang jatuh cinta padamu sejak lama, Aul.

Beber, 11 Juni 2016