Lelaki Di Balik Jendela
Oleh, Nindi Aulia Rahmah
Dari balik kaca jendela aku
mengamati figurnya. Sosok yang tidak terlalu tinggi dengan bahu yang tegap.
Punggung yang bidang dan kukuh. Potongan rambut yang aku hafal betul itu
miliknya, sekalipun dari jauh aku memandang, sekalipun ia berada dalam
keramaian. Kornea mataku meski minus mampu melihatnya sempurna, dengan hati.
Aku mulai menyadari bahwa ada
perasaan yang ganjil acap kali aku melihat sosok lelaki itu di balik jendela.
Dimanapun, aku melihatnya di balik jendela. Kadang, aku melihatnya sedang berjalan
di parkiran dari jendela kelasku di lantai tiga. Kadang aku melihatnya di balik
jendela sedang berjalan di koridor seorang diri menenteng tas dan kamera slr menggantung di lehernya. Sering juga
aku melihatnya dari balik jendela ketika ia sedang rapat dengan komunitasnya. Apakah
perasaan ganjil itu bernama cinta? Tapi mengapa hanya muncul ketika aku
melihatnya dari balik jendela? Hanya dari balik jendela.
Sebenarnya, aku tidak
sungguh-sungguh melihat dia dari balik
jendela saja. Karena, aku dan dia juga berada dalam zona yang sama. Sama-sama
aktifis kampus. Intensitas pertemuanku dengannya terbilang sering. Diskusi atau
sekedar sapa-menyapa pun rutin dilakukan. Tetapi entah kenapa aku lebih
menyukainya ketika ia ada di balik jendela. Karena dari balik jendela, aku
mampu mencintai sosoknya tanpa diketahui siapapun. Dari balik jendela aku mampu
mencintai dia apa adanya, mencintainya dengan duniaku sendiri.
Tak terhitung berapa bisikan cinta
yang kusampaikan dari balik jendela yang akhirnya hanya berupa embun yang
menempel di kaca karena tak mampu melaju menuju daun telinganya. Karena selalu
ada yang terasa jauh, setiap kali aku melihatnya dari balik jendela. Sesuatu
yang sebetulnya aku merasa dekat namun tak berani kuraih dengan tanganku agar
tak pergi lagi. Padahal dia ada disana, berwujud, tampak, bukan hanya berupa
angan semuku saja. Dia ada dan nyata, tapi tak mampu membuatku beranjak untuk coba
kuraih dan kumiliki.
Aku lebih suka disini, duduk, mencintainya
dibalik jendela. Apakah jendela hanya milik orang-orang yang kalah dan putus
asa dengan memilih duduk menunggu? Tidak. Aku hanya ingin melihat dia secara
utuh. Membiarku menikmati dunianya dari duniaku.
***
Sabtu sore. Koridor kampus lengang,
beberapa mahasiswa terlihat sedang diskusi di kiri-kanan lorong. Sabtu memang
jadwalnya diskusi. Kali ini nampaknya aku akan terlibat diskusi panjang dengan
sosok yang sering kulihat dari balik jendela. Tetapi sebelumnya, aku harus
harus berdiskusi dengan hatiku sendiri agar tetap tenang dan bersikap wajar
ketika berhadapan dengan dia.
Lima belas menit menjelang diskusi
aku memesan kopi. Kopi tubruk tanpa gula. Sederhana dan tidak mahal tapi mampu
menjernihkan pikiranmu, menenangkan hatimu. Sebab kopi tanpa gula adalah alami,
itu akan membuat siapapun seperti terlahir kembali.
“Hai Git, sudah siap belum untuk
diskusi sore ini?”
Astaga. Aku kaget hampir tersedak
kopi yang sedang kuseruput. Lelaki yang sering kulihat dari balik jendela
tiba-tiba duduk di depanku.
“Eh, ngagetin aja lo! Semoga siap
ya, doain aja. Materi udah aku pegang sih.” Jawabku sekenanya.
Ia mengangguk. “Suka kopi juga ya,
Git? Kelihatannya pahit banget.”
Tanyanya kemudian sambil melirik ngeri ke cangkir di hadapannya.
“Iya, ini kopi tubruk tanpa gula.
Pahit memang tapi sedap. Mau?” tawarku.
Dia menggeleng. Katanya, “Aku lebih
suka susu, itu lebih sehat,” sambil tersenyum dan berlalu melambaikan tangan.
“Duluan ya, Git.”
Aku membalas lambaian tangannya. Dia
sudah pergi, aku bernapas lega. Betapa terkejutnya aku ketika dia tiba-tiba ada
di hadapanku.
Namanya Teza. Setahuku tidak ada
nama panjangnya. Hanya Teza. Tok.
Tidak ada tambahan. Sepengamatanku lagi, hidupnya sehat. Tidak ngopi tidak merokok.
Berbeda denganku, aku ngopi dan sangat addict
pada kopi. Bahkan tiga bulan sekali aku pergi ke dokter gigi karena gigiku
menguning oleh kafein. Meski tidak merokok tapi aku bergaul dan hidup di lingkungan
manusia-manusia perokok, jadi setidaknya beberapa liter udara yang kuhisap
berasal dari asap rokok, sebut aku perokok pasif.
Namanya Teza, dialah sosok yang aku
cintai dari balik jendela. Sama-sama aktifis kampus yang bergerak dibidang
sosial. Kami seangkatan, satu fakultas hanya berbeda jurusan. Rutin bertemu dan
diskusi setiap sabtu sore. Tetapi hari-hari biasa aku tetap bisa melihatnya
dari balik jendela. Kecuali hari minggu, aku tidak pernah ke kampus jika hari
minggu. Jadi selama seminggu, lima hari aku melihatnya dibalik jendela dan satu
hari aku menatapnya di depan mata.
***
“Bagaimana Git, ada pendapat tentang
bergantinya status Indonesia dari Negara berkembang menjadi Negara maju?” Aldi,
moderator diskusi sore itu, melempar pertanyaan kepadaku.
“Bagiku itu omong kosong. Aku rasa
itu hanya karangan elit politik saja untuk meninabobokan masyarakat agar tidak khawatir akan krisis global yang
sedang mengancam dunia”
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti
itu?” Teza bertanya.
Astaga. Kenapa dia yang bertanya.
Sontak aku menatapnya dan gemuruh di hatiku tak bisa ku bendung. Aku mencoba
menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati dan pikiran. Biarkan logikaku yang
bekerja, simpan dulu perasaanku.
“Nyatanya, di Negeri kita orang
miskin semakin banyak saja dan orang kaya semakin berlimpah ruah. Mungkin ini
yang dimaksud berubah dari berkembang menjadi maju. Si miskin semakin miskin
dan si kaya semakin kaya?” jawabku sesantai mungkin.
“Tetapi pendapatan perkapita negara
kita semakin tinggi, itu salah satu tolok ukur Negara maju.” Teza membantah
seperti tak mau kalah.
Aku lupa, dia adalah anak dari salah
satu pejabat elit politik di negeri ini. Apapun pasti dia membela profesi
ayahnya. Sudah kuduga, ini bakal jadi diskusi yang panjang.
“Itu teori. Prakteknya? Kita bisa
memanipulasinya. Tak terhitung berapa banyak angka yang mampu kita manipulasi
dalam sebuah proposal, bukan?”
“Aku setuju dengan pendapatan Sigit.
Apalagi masalah demokrasi di negeri kita. Runyam!” Firman menimpali.
Diskusi sore itu berlangsung panas.
Otakku geram, emosiku memuncak, membahas negeri ini yang carut marut. Perasaan
juga ikut carut marut. Teza mati-matian berargumen, aku juga mempertahankan
opiniku. Tapi diskusi berakhir dengan kesimpulan bahwa forum diskusi kami harus
mampu menyumbang ide, gagasan atau apapun untuk Negeri yang sedang sekarat ini.
Sebab kami mengkritisi bukan hanya mengkritik.
***
Semenjak diskusi sabtu sore itu,
Teza jadi lebih sering menyapaku. Aku jadi jarang melihatnya di balik jendela.
Aku seperti tak punya kesempatan mengintipnya dari celah kecil jendela kampus.
Aku seperti kehilangan dunia milikku sendiri. Sekat yang kubuat tinggi agar tak
seorangpun mampu melewatinya. Pagar yang kubuat rapat agar tak seorangpun
membebat dengan alasan apapun, karena aku melakukannya secara diam-diam. Aku
susah payah membuat batas yang kuciptakan dari duniaku yang lain.
Tetapi, mengapa aku tak bisa
memunculkan perasaan cinta itu ketika Teza ada di hadapanku? Rasanya seperti
berdosa jika aku mendapati ia ada di depan mataku. Aku berusaha menghindari
obrolan panjang dengannya, hanya karena aku takut itu justru akan membuatku
semakin jatuh pada pesonanya. Bukankah etika berbincang yang baik adalah dengan
saling balas menatap? Aku takut Teza akan menemukan sesuatu yang kusembunyikan
untuknya, di mataku.
Kamis siang, gerimis turun. Aku
menepi di sisi koridor, di situ disediakan banyak bangku. Aku duduk disalah
satu bangku. Sudah tidak ada jadwal kuliah. Di ujung koridor, ku lihat ia
sedang berjalan menuju arahku. Hatiku membuncah, ada tegang namun banyak
senang. Dadaku kembang kempis. Otakku bekerja memikirkan apa yang harus
kukatakan lebih dulu. Sialnya, akibat gerimis otakku jadi minimalis. Teza lebih
dulu sampai di hadapanku.
“Hey Git,” Sapanya.
“Hey.” Kujawab
“Sendiri?”
“Yap. Kamu?”
“Oh. Enggak, ini aku sama pacarku.
Dia lagi ngobrol sama temannya.”
“Ooh..” kujawab.
Jadi ini yang baru kusadari. Setiap
kali aku melihatnya utuh di hadapanku sendiri. Ada sesak yang menjelma dan
mengabut di dada. Alasan mengapa akhirnya aku memilih hanya mencintainya dari
balik jendela. Biar, biarkanlah aku hanya mencintanya dari balik jendela. Aku
bebas memilih dari celah mana aku melihatnya. Sebab aku tahu, selalu ada tangan
yang ia genggam ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan itu
amat menyakitkan.
*penulis bisa dihubungi di akun
twitter: @nindiarh
terbit di Harian Radar Cirebon, 6 September