Senin, 21 September 2015

LELAKI DI BALIK JENDELA

Lelaki Di Balik Jendela 
Oleh, Nindi Aulia Rahmah

               Dari balik kaca jendela aku mengamati figurnya. Sosok yang tidak terlalu tinggi dengan bahu yang tegap. Punggung yang bidang dan kukuh. Potongan rambut yang aku hafal betul itu miliknya, sekalipun dari jauh aku memandang, sekalipun ia berada dalam keramaian. Kornea mataku meski minus mampu melihatnya sempurna, dengan hati.
            Aku mulai menyadari bahwa ada perasaan yang ganjil acap kali aku melihat sosok lelaki itu di balik jendela. Dimanapun, aku melihatnya di balik jendela. Kadang, aku melihatnya sedang berjalan di parkiran dari jendela kelasku di lantai tiga. Kadang aku melihatnya di balik jendela sedang berjalan di koridor seorang diri menenteng tas dan kamera slr menggantung di lehernya. Sering juga aku melihatnya dari balik jendela ketika ia sedang rapat dengan komunitasnya. Apakah perasaan ganjil itu bernama cinta? Tapi mengapa hanya muncul ketika aku melihatnya dari balik jendela? Hanya dari balik jendela.
            Sebenarnya, aku tidak sungguh-sungguh  melihat dia dari balik jendela saja. Karena, aku dan dia juga berada dalam zona yang sama. Sama-sama aktifis kampus. Intensitas pertemuanku dengannya terbilang sering. Diskusi atau sekedar sapa-menyapa pun rutin dilakukan. Tetapi entah kenapa aku lebih menyukainya ketika ia ada di balik jendela. Karena dari balik jendela, aku mampu mencintai sosoknya tanpa diketahui siapapun. Dari balik jendela aku mampu mencintai dia apa adanya, mencintainya dengan duniaku sendiri.
            Tak terhitung berapa bisikan cinta yang kusampaikan dari balik jendela yang akhirnya hanya berupa embun yang menempel di kaca karena tak mampu melaju menuju daun telinganya. Karena selalu ada yang terasa jauh, setiap kali aku melihatnya dari balik jendela. Sesuatu yang sebetulnya aku merasa dekat namun tak berani kuraih dengan tanganku agar tak pergi lagi. Padahal dia ada disana, berwujud, tampak, bukan hanya berupa angan semuku saja. Dia ada dan nyata, tapi tak mampu membuatku beranjak untuk coba kuraih dan kumiliki.
            Aku lebih suka disini, duduk, mencintainya dibalik jendela. Apakah jendela hanya milik orang-orang yang kalah dan putus asa dengan memilih duduk menunggu? Tidak. Aku hanya ingin melihat dia secara utuh. Membiarku menikmati dunianya dari duniaku.
***
            Sabtu sore. Koridor kampus lengang, beberapa mahasiswa terlihat sedang diskusi di kiri-kanan lorong. Sabtu memang jadwalnya diskusi. Kali ini nampaknya aku akan terlibat diskusi panjang dengan sosok yang sering kulihat dari balik jendela. Tetapi sebelumnya, aku harus harus berdiskusi dengan hatiku sendiri agar tetap tenang dan bersikap wajar ketika berhadapan dengan dia.
            Lima belas menit menjelang diskusi aku memesan kopi. Kopi tubruk tanpa gula. Sederhana dan tidak mahal tapi mampu menjernihkan pikiranmu, menenangkan hatimu. Sebab kopi tanpa gula adalah alami, itu akan membuat siapapun seperti terlahir kembali.
            “Hai Git, sudah siap belum untuk diskusi sore ini?”
            Astaga. Aku kaget hampir tersedak kopi yang sedang kuseruput. Lelaki yang sering kulihat dari balik jendela tiba-tiba duduk di depanku.
            “Eh, ngagetin aja lo! Semoga siap ya, doain aja. Materi udah aku pegang sih.” Jawabku sekenanya.
            Ia mengangguk. “Suka kopi juga ya, Git? Kelihatannya pahit banget.” Tanyanya kemudian sambil melirik ngeri ke cangkir di hadapannya.
            “Iya, ini kopi tubruk tanpa gula. Pahit memang tapi sedap. Mau?” tawarku.
            Dia menggeleng. Katanya, “Aku lebih suka susu, itu lebih sehat,” sambil tersenyum dan berlalu melambaikan tangan. “Duluan ya, Git.”
            Aku membalas lambaian tangannya. Dia sudah pergi, aku bernapas lega. Betapa terkejutnya aku ketika dia tiba-tiba ada di hadapanku.
            Namanya Teza. Setahuku tidak ada nama panjangnya. Hanya Teza. Tok. Tidak ada tambahan. Sepengamatanku lagi, hidupnya sehat. Tidak ngopi tidak merokok. Berbeda denganku, aku ngopi dan sangat addict pada kopi. Bahkan tiga bulan sekali aku pergi ke dokter gigi karena gigiku menguning oleh kafein. Meski tidak merokok tapi aku bergaul dan hidup di lingkungan manusia-manusia perokok, jadi setidaknya beberapa liter udara yang kuhisap berasal dari asap rokok, sebut aku perokok pasif.
            Namanya Teza, dialah sosok yang aku cintai dari balik jendela. Sama-sama aktifis kampus yang bergerak dibidang sosial. Kami seangkatan, satu fakultas hanya berbeda jurusan. Rutin bertemu dan diskusi setiap sabtu sore. Tetapi hari-hari biasa aku tetap bisa melihatnya dari balik jendela. Kecuali hari minggu, aku tidak pernah ke kampus jika hari minggu. Jadi selama seminggu, lima hari aku melihatnya dibalik jendela dan satu hari aku menatapnya di depan mata.
***
            “Bagaimana Git, ada pendapat tentang bergantinya status Indonesia dari Negara berkembang menjadi Negara maju?” Aldi, moderator diskusi sore itu, melempar pertanyaan kepadaku.
            “Bagiku itu omong kosong. Aku rasa itu hanya karangan elit politik saja untuk meninabobokan masyarakat  agar tidak khawatir akan krisis global yang sedang mengancam dunia”
            “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” Teza bertanya.
            Astaga. Kenapa dia yang bertanya. Sontak aku menatapnya dan gemuruh di hatiku tak bisa ku bendung. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati dan pikiran. Biarkan logikaku yang bekerja, simpan dulu perasaanku.
            “Nyatanya, di Negeri kita orang miskin semakin banyak saja dan orang kaya semakin berlimpah ruah. Mungkin ini yang dimaksud berubah dari berkembang menjadi maju. Si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya?” jawabku sesantai mungkin.
            “Tetapi pendapatan perkapita negara kita semakin tinggi, itu salah satu tolok ukur Negara maju.” Teza membantah seperti tak mau kalah.
            Aku lupa, dia adalah anak dari salah satu pejabat elit politik di negeri ini. Apapun pasti dia membela profesi ayahnya. Sudah kuduga, ini bakal jadi diskusi yang panjang.
            “Itu teori. Prakteknya? Kita bisa memanipulasinya. Tak terhitung berapa banyak angka yang mampu kita manipulasi dalam sebuah proposal, bukan?”
            “Aku setuju dengan pendapatan Sigit. Apalagi masalah demokrasi di negeri kita. Runyam!” Firman menimpali.
            Diskusi sore itu berlangsung panas. Otakku geram, emosiku memuncak, membahas negeri ini yang carut marut. Perasaan juga ikut carut marut. Teza mati-matian berargumen, aku juga mempertahankan opiniku. Tapi diskusi berakhir dengan kesimpulan bahwa forum diskusi kami harus mampu menyumbang ide, gagasan atau apapun untuk Negeri yang sedang sekarat ini. Sebab kami mengkritisi bukan hanya mengkritik.
***
            Semenjak diskusi sabtu sore itu, Teza jadi lebih sering menyapaku. Aku jadi jarang melihatnya di balik jendela. Aku seperti tak punya kesempatan mengintipnya dari celah kecil jendela kampus. Aku seperti kehilangan dunia milikku sendiri. Sekat yang kubuat tinggi agar tak seorangpun mampu melewatinya. Pagar yang kubuat rapat agar tak seorangpun membebat dengan alasan apapun, karena aku melakukannya secara diam-diam. Aku susah payah membuat batas yang kuciptakan dari duniaku yang lain.
            Tetapi, mengapa aku tak bisa memunculkan perasaan cinta itu ketika Teza ada di hadapanku? Rasanya seperti berdosa jika aku mendapati ia ada di depan mataku. Aku berusaha menghindari obrolan panjang dengannya, hanya karena aku takut itu justru akan membuatku semakin jatuh pada pesonanya. Bukankah etika berbincang yang baik adalah dengan saling balas menatap? Aku takut Teza akan menemukan sesuatu yang kusembunyikan untuknya, di mataku.
            Kamis siang, gerimis turun. Aku menepi di sisi koridor, di situ disediakan banyak bangku. Aku duduk disalah satu bangku. Sudah tidak ada jadwal kuliah. Di ujung koridor, ku lihat ia sedang berjalan menuju arahku. Hatiku membuncah, ada tegang namun banyak senang. Dadaku kembang kempis. Otakku bekerja memikirkan apa yang harus kukatakan lebih dulu. Sialnya, akibat gerimis otakku jadi minimalis. Teza lebih dulu sampai di hadapanku.
            “Hey Git,” Sapanya.
            “Hey.” Kujawab
            “Sendiri?”
            “Yap. Kamu?”           
            “Oh. Enggak, ini aku sama pacarku. Dia lagi ngobrol sama temannya.”
            “Ooh..” kujawab.
            Jadi ini yang baru kusadari. Setiap kali aku melihatnya utuh di hadapanku sendiri. Ada sesak yang menjelma dan mengabut di dada. Alasan mengapa akhirnya aku memilih hanya mencintainya dari balik jendela. Biar, biarkanlah aku hanya mencintanya dari balik jendela. Aku bebas memilih dari celah mana aku melihatnya. Sebab aku tahu, selalu ada tangan yang ia genggam ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan itu amat menyakitkan.

*penulis bisa dihubungi di akun twitter: @nindiarh
terbit di Harian Radar Cirebon, 6 September

Jumat, 18 September 2015

Dear Dude

Kau tahu, Dude.
kemarin sore saat kau tidak ada, ada suatu peristiwa kecil di parkiran kampus. Sebenarnya tidak apa-apa, tidak masalah. Tapi kau tentu tahu, kelakuan teman-teman kita? Sungguh, mereka memperolok-olok aku. Malu. Salah tingkah. Sesak. Kesal. Juga sesal.

Seketika hati dan pikirku mengatakan: andai saja kau ada disini. Aku tidak akan bertingkah sememalukan kemarin. Rasanya kalau kau ada, dude, semua jadi lebih terkendali. Kau amat mengertiku. Aku merasa nyaman dan tenang. Aku merasa akan baik-baik saja denganmu, dude. Tapi dimana kamu disaat aku mau?

Sampai tulisan ini aku buat, belum sempat kusampaikan kepadamu perihal ini. Aku tidak berani. Aku takut mengambil waktumu. Lagi pula kita hanya teman. Tak ada kesepakatan apapun.

Kau tahu Dude..
Aku ingin bersamamu seperti malam itu, dalam dingin dalam derasnya hujan meraba jalan pulang. Tak apa tidak harum, aku sudah suka kamu.

Dan semenjak hari itu, hati ini milikmu. ☺

18 September 2015

Senin, 14 September 2015

Aku juga ingin mengunjungi Negeri Senja

Aku juga ingin mengunjungi Negeri Senja
Untuk Seno Gumira Ajidarma

Fantasiku meliar tatkala kuselesaikan mengeja satu per satu huruf dalam Tujuan Negeri Senja-mu, Pak.

Aku ingin mendapati diriku sedang berada di Stasiun Tugu dan mengantre di loket itu. Pergi ke Negeri Senja. Negeri yang gemerlap gemilang.
Tak apa tak kembali. Sebab aku muak dengan hidupku sekarang. Aku mendamba kedamaian. Barangkali di sana kutemukan?

Berapa harga tiketnya?
Aku pesan satu. Atau dua, tiga, mungkin empat.
Ternyata aku masih takut pergi sendiri.
Barangkali Mama, Bapak dan Fasya hendak ikut.

Aku membayangkan duduk bahagia dalam kereta kemilau. Roda kereta yang berdecit mencumbu rel dengan hangatnya, perlahan berangkat menuju Negeri Senja. Kereta kemilau yang bercahaya memancarkan warna senja. Ada aku di dalamnya, duduk tenang menjemput keabadian.

Terimakasih, pak. Telah mengenalkan aku pada Negeri Senja. Maaf sebelumnya aku memanggilmu, Pak.

Jumat, 11 September 2015

Berterusteranglah!

Aku merasa ada yang salah diantara kita. Jika iya, seperti apa yang kuduga, berterusteranglah. Mungkin jalan kita akan mudah. Namun kalau ini hanya sebatas perasaanku saja, mengapa kita harus begini?

Ada sesal yang entah datang darimana, menyadari ulahku kemarin ternyata membuatmu sedingin sekarang.

Harus kau tahu, apa yang dilihat tak sama seperti apa yang kau pikirkan.

Aku benci curiga. Aku tak suka menduga. Berterusteranglah!
Atau haruskah aku yang bilang terlebih dahulu?
Aku cinta padamu♥

Beber, 11 September 2015
Untukmu yang semenjak hari itu, hati ini milikmu.