Rabu, 17 Agustus 2016

Celoteh (1)

Bagi sebagian orang masa-masa di sekolah dasar adalah hal yang biasa-biasa saja. Hal yang wajar bila dilalui dengan kenangan yang konyol dan penuh kepolosan. Akan sangat lucu mengenangnya. Namun bagiku, sedikit berbeda. Aku senang mengenang masa-masa sekolah dasar. Di mana di dalamnya, aku bisa mengingat betapa aku (dulu) sangat sok tahu dan konyol dan menjijikan. Hahaha 😂😂😂
Tapi aku tidak malu akan hal tersebut. Bukankah itu salah satu bentuk kepolosanku dahulu?

Dan tahukah kalian, selain kenangan (tak) menyenangkan tersebut, ada satu hal yang membuatku tidak malu mengenangnya. Dan itu adalah kau, cinta pertama yang kurasa.

Sudah lama sejak perasaan itu pertama kali muncul hingga saat ini, bila bertemu denganmu, mau dalam situasi apapun aku selalu gemetar. Seperti merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi. Begitu selalu bila berjumpa denganmu.

Dulu, saat kita masih sekolah, yang kubenci adalah bila teman-teman mengolok-olok kita. Bagaimanalah anak ingusan macam kita mengenal cinta. Tapi nampaknya aku dewasa lebih cepat. Aku tahu aku telah jatuh cinta padamu sejak kelas 4 sekolah dasar. Tak mengerti bagaimana mulanya, namun sepotong kejadian itu terekam jelas di benakku. Tidak bosan kuputar ulang setiap malam. Kadang kuberharap suatu hari bisa mengulangnya bersamamu.

Kini, lewat sembilan tahun sudah sejak meninggalkan bangku sekolah dasar. Perasaan itu, entah sudah berkurang atau mungkin berubah maknanya atau namanya, masih tetap ada. Masih gemetar aku bila berjumpa denganmu. Masih canggung aku bila berbincang denganmu. Masih ada perasaan itu.

Tak banyak yang kutahu tentangmu, satu hal yang pasti kutahu, kau adalah cinta pertama yang kurasa.

- Betapa belum dibalas cintamu, hidupku belumlah merdeka -

Beber, 17 Agustus 2016
Selagi kuingat ketika siang tadi kau menyapaku.

Rabu, 10 Agustus 2016

Surat untukmu, yang masih disimpanNya

Selamat malam duhai engkau yang masih dirahasiakan.

Aku belakangan ini menemui kesibukan yang luar biasa nikmatnya. Bangun lebih pagi dari biasanya. Mandi lebih cepat, sarapan lebih cepat, segala hal serba terburu-buru. Satu, dua hari aku merasa terpaksa. Tiga hingga kesekian harinya aku terbiasa. Satu langkah, satu fase harus aku lalui demi menjumpaimu. Tak apa aku berlelah-lelah begini. Aku tahu, pasti kau juga sedang menempa diri guna mengusahakanku. Iya kan?

Aku selalu percaya kepada firmanNya. Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, pun sebaliknya.

Aku sekarang sedang meningkatkan kualitasku. Aku ingin menjadi sepadan denganmu. Aku tidak ingin membuatmu malu bila ditakdirkan denganku. Lihatlah, aku berjanji akan menjadi madrasah yang baik untuk keturunan kita.

Doakan aku mudah melaluinya, meski berat aku selalu tahu kau ada untukku. Entah di masa depan mana kita akan berjumpa. Segeralah, aku rindu.

Titip salam untuk keluargamu, segeralah datangi orangtuaku.

Aku kangen, jodohku.

Beber, 10 Agustus 2016.
23:05 wib.

Senin, 08 Agustus 2016

Perayaan buatmu!

Begitu lama aku menantikan momentum ini. Satu, dua atau tiga kata dan sepenggal kalimat buatmu. Merayakan apa yang banyak orang sebut hari lahir.

Selamat ulang tahun!
Segera tergenapilah hidupmu. Entah di masa depan yang mana, semoga kita bisa bertemu.
Di sisa usiaku ini ada doa untukmu selalu.

Selamat mengulang hari besarmu.
Satu pesanku, kenanglah slalu.

"Sebab kau hadir dengan ketiadaan, sesederhana dalam ketidakmengertianku. Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus disini, mencintaimu. Entahlah mengapa..."

Salam, Nindiarh

Untuk Dia yang berulang tahun 21 April.