Senin, 15 Juni 2015

Secangkir Kopi, Teh dan Obrolan Jelang Pernikahan

         Pagi hari di rumah milik keluargaku, selalu tercium aroma teh melati dan kopi tubruk dari ruang keluarga. Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan nikmatnya kopi tubruk dari Bapak. Ibu memperkenalkan teh sejak aku masih kanak-kanak sebagai minuman penghangat perut saat sarapan atau sekadar minuman penghangat sore hari. Selalu hangat, sebab bagi Ibu teh melati yang hangat lebih memberikan kedamaian ketimbang teh melati yang dicampur es. Wangi melati yang sekilas dihirup, namun kemudian menetap di bibir dan merembes ke lidah.
Sementara saat usiaku 9 tahun, aku mengenal kopi tubruk. Kopi tubruk tanpa gula kesukaan Bapak, minuman favoritnya ketika sarapan, makan siang, sore hari dan makan malam. Tak sekalipun Bapak melewatkan si kopi tubruk. Bapak mengizinkan aku berkenalan dengan pahitnya rasa kopi sebagai bagian dari keasyikan menikmati hidup. Bapak bilang, dia lebih suka segala sesuatu sesuai dengan kodratnya, seperti kopi yang dibiarkan tetap pahit tanpa gula tanpa pemanis. Kopi. Lagi-lagi kopi dan selalu kopi yang dibicarakan kalau sedang dengan Bapak. Kata Bapak lagi, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia.
Kopi tubruk di pagi hari dapat menentukan suasana hati Bapak selama 1440 menit ke depan. Tapi saat itu, di usiaku yang 9 tahun, aku tidak dibolehkan mencecap rasa si kopi tubruk karena takut kandungan kafeinnya belum mampu ditopang oleh tubuhku yang masih kecil, sebagai gantinya aku hanya diizinkan untuk menghirup aromanya.
Aroma kopi tubruk Bapak begitu kuat, karena aku bisa menciumnya dari kamar tidurku. Kopi ini telah menempuh proses panjang hingga akhirnya ia menghuni sebuah toples milik Bapak, yang kemudian dipindahkan kedalam gelas dan ditimpa air mendidih. Mengendaplah kopi dalam gelas kaca yang hendak diseruput oleh Bapak. Ada banyak toples yang berjejer rapi di lemari dapur, berisi berjenis-jenis kopi. Seyogianya memang penikmat kopi pasti akan mengoleksi bermacam jenis kopi. Sampai-sampai bau ciuman Bapak di pipiku adalah bau kopi hitam; harum yang menguasai ruang yang tak mudah pergi.
Hingga pada usiaku yang ke 13, barulah aku diperkenankan mencicipi pahitnya kopi. Lidahku tidak menolak tetapi lambungku butuh sedikit adaptasi. Aku tidak bilang aku tidak suka kopi atau teh. Aku mencintai keduanya sama seperti aku mencintai Ibu dan Bapak.
Aku mencintai teh melati seperti aku mencintai Ibu. Di dalam secangkir teh melati aku melihat wajah Ibu. Cokelat, keruh, berbintik hitam tapi tetap menghangatkan dan memberi ketentraman. Di hangatnya secangkir teh dan harum aromanya, aku melihat Ibu dan segala kasih sayangnya. Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu meminum teh melati hangat. Sebab selain memberikan kenyamanan, kehangatan dan ketentraman, meneguk teh melati seperti membawaku pulang ke rahim ibu, tempat paling nyaman untuk meringkuk sendirian.
Sedang kopi hitam, aku mencintainya seperti aku mencintai Bapak. Bagi seorang anak perempuan sepertiku, Bapak adalah cinta pertamanya. Alasan mengapa anak perempuan mencintai bapaknya adalah bahwa setidaknya ada satu lelaki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitinya, tidak akan pernah mengecewakannya.
Pernah pada suatu pagi hari di penghujung bulan yang gerimis, ketika Ibu sedang menyeduh teh, kopi dan susu secara bersamaan. Ketika Bapak sedang membaca sebuah buku sastra, aku bertanya kepada Bapak mengapa ia begitu mencintai kopi, dan Bapak menjawab,
“Kata Jokpin, kurang atau lebih setiap rejeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”
Aku mengerutkan kening, berusaha memahami kalimat Bapak. “Siapa Jokpin?” tanyaku akhirnya.
“Joko Pinurbo, disingkat Jokpin. Dia adalah penyair, penulis. Dia sastrawan”
“Seperti Bapak?”
“Iya, seperti Bapak” tiba-tiba Ibu ikut menyahut dalam obrolanku dengan Bapak. Aku mengangguk-angguk, tidak bertanya lagi karena Ibu sudah membawakan senampan sarapan kami. Perpaduan teh melati, kopi dan susu cokelat di meja makan. Dengan goreng pisang dan roti bakar, di penghujung bulan, pagi yang gerimis.
Seiring dengan aku terus tumbuh dan bertambah usia. Sejalan dengan aku memahami hakikat kopi dalam hidup Bapak dan teh pada diri Ibu. Aku mulai memahami pekerjaan keduanya. Aku mengenal sastra dari aroma kopi milik Bapak, dan mengenal untung-rugi dari wangi teh melati milik Ibu.
Bapak biasa diundang dalam seminar-seminar, katanya Bapak sastrawan. Buku di ruang kerjanya berjejer rapi di rak. Kebanyakan cerita dan aku suka membaca. Sebelah rak dan lemari buku milik Bapak, ada meja kerja milik Ibu. Meja kerja ibu berisi banyak buku besar, komputer dan alat hitung. Buku-buku milik ibu tentang ekonomi, aku tidak terlalu suka. Katanya Ibu seorang akuntan.
Usiaku 13 tahun kala tahu pekerjaan kedua orangtuaku. Aku merasa bangga meski tidak tahu betul apa itu sastrawan dan akuntan.
*** 
Juni 2015. 3 bulan lagi usiaku dua puluh tahun tiga tahun. Bapak dan Ibu masih setia dengan kopi tubruk dan teh melati. Aku masih setia dengan tetap mencintai keduanya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati Ibu. Di usiaku yang sekarang, aku tidak lagi dianggap gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Aku sudah dipandang dewasa. Dewasa dalam menghadapi segala hal. Dewasa dalam menghadapi luka, bahagia dan segala permasalahan hidup.
Kata Bapak aku seperti Kopi, dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Sedang menurut Ibu aku seperti teh melati, memberi kenyamanan, ketentraman dalam damai.
3 bulan yang lalu, sebuah cincin melingkar dijari manis tangan kiriku. Dan 3 bulan yang akan datang, tepat di hari  dimana aku genap berusia dua puluh tiga tahun, aku akan menikah. Dengan pria pilihanku yang mampu menggenapkan keganjilan dalam hidupku. Pria yang mampu mencintai kopi dan teh tanpa harus memilih.
Menjelang hari pernikahanku, Bapak dan Ibu kian sibuk mempersiapkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Setiap malam aku disuguhi wejangan ala kopi dan teh.
“Andita akan berkeluarga, Pak, Bu..” Kataku di sore hari yang hangat dengan secangkir kopi, teh dan susu dan sepiring pisang goreng.
“Gadisnya Ibu sudah besar, tau-tau besok sudah jadi istri orang, ya, Pak” Ibu tersenyum, melirik Bapak sambil menyeruput teh melatinya. Matanya memejam sebelum diminum, Ibu menghirup aroma kedamaian dari teh melati.
Bapak terkekeh, kemudian Bapak bilang, “Kata Agus Noor, pada kopi ada revolusi juga cinta yang tak pernah mati.”
“Maksudnya apa, Pak?” tanyaku.
“Bagi Bapak, kamu adalah kopi yang murni. Selain mahal juga rasanya nikmat, tak banyak yang bisa memiliki. Itu artinya spesial.” Bapak menjelaskan sambil sesekali menyeruput kopi tubruknya.
“Pada kopi ada revolusi, juga cinta yang tak pernah mati. Revolusi: perubahan. Kopi yang berupa biji berubah menjadi bubuk-bubuk tepung yang ada di toples, di dapur sana, kan? Nah, Bapak pernah bilang, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Begitulah kiranya, engkau, anakku. Andita sudah besar, sudah Bapak pupuk dengan kesabaran, pemahaman-pemahaman yang baik dan dimatangkan usia. Tetapi pada revolusi dirimu, anakku, ada cinta yang tak pernah mati dari Bapak, dari Ibu.”
Aku mengangguk-anggukan kepala, berusaha memahami nasehat Bapak. Nasehat ala sastrawan, wejangan a la kopi. Aku sungguh mencintai kopi seperti aku mencintai Bapak. Kulihat Ibu, dia tersenyum kemudian memelukku. Aku sungguh mencintai lembut dan harumnya teh melati, seperti aku mencintai Ibu.
“Andita, dari segelas teh ini, kamu akan tahu bagaimana hakikatnya sebuah teh bisa terasa.” Kali ini ibu yang akan memberikan wejangan a la teh. Ibu berkata sambil memegang cangkir teh melati favoritnya.
“Bagaimana, Bu?” tanyaku.
“Dari secangkir teh ini, kita akan tahu hangat dan nyamannya sebuah kedamaian. Dalam secangkir teh, kita seperti membaca ulang sebuah kalimat. Seperti kalimat panjang Bapak tadi, minum saja teh ini, kita seperti bisa mengulang semuanya. Kenapa? Karena teh selalu membuatmu alami. Itulah rahasia mengapa Ibu amat mencintai teh, sebab Ibu bisa membaca ulang semua hal. Nasihat Bapakmu, resep masakan, debet – kredit dan banyak hal lainnya.”
“Satu lagi, Andita” Lanjut Ibu, “Karena teh itu seperti mengenang setiap inci perjalanan, dan ketabahan hati. Coba ingat bagaimana proses pembuatan teh untuk kemudian ada di cangkir ini? Sama seperti kopi, menempuh proses yang maha panjang. Teh adalah kesederhanaan, tapi bukan sekadar minuman dalam tampilan sederhana dalam warna yang itu-itu saja. Hijau, coklat atau sedikit kemerahan dengan aroma yang tidak nyata namun terasa, kadang kuat atau samar. Pahit dan manis di beberapa bagian. Tapi teh tidak terlalu tajam, tidak pernah terlalu kuat, akan mengalir begitu saja untuk masuk ke dalam kerongkongan. Seperti cinta yang tidak kamu ketahui, yang tiba-tiba menatapmu lekat mengajakmu mengarungi masa depan, menjanjikanmu masa depan yang lebih baik, Andita.”
“Iya, Bu, Pak. Terimakasih. Andita cinta Bapak dan Ibu, seperti cinta kopi kepada teh atau sebaliknya. Cinta yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia, cinta yang alami, sederhana. Cinta yang tidak kita ketahui, tiba-tiba saja ia hadir.” Ucapku bergetar, kemudian memeluk keduanya. Harumnya kopi dan hangatnya teh berbaur dengan keringatku yang berbau susu.
Hari itu, aku tidak tahu mengapa aku bahagia sekali memiliki Bapak dan Ibu yang luar biasa romantisnya. Seperti tidak sedang menasehati putrinya yang hendak menikah, lebih seperti mengajak berpikir seorang teman yang akan memulai hidup baru dengan filosofi kopi dan teh dari masing-masing dirinya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati ibu.
Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan kuatnya kopi tubruk dari Bapak. Aku mencintai kopi dan teh seperti aku mencintai Bapak dan Ibu. Secangkir kopi, teh dan obrolan menjelang pernikahan.


*Penulis adalah mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unswagati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar