Tulisan ini dibuat pada tanggal 28 Agustus, baru diposting sekarang. Ingin menumpahkan kegelisahan yang merajam diriku. Heheheh
Selarut ini aku belum bisa memejamkan mata, menidurkan jiwa dan mendamaikan lelah. Tadi kulihat di smartphone bututku sekarang sudah pukul 23.14 WIB. Sudah kucoba terpejam tqpi pikirku melayang-layang. Sudah kujauhkan gadget, kumatikan lampu biar kamar jadi gelap tapi tetap susah terlelap. Padahal saat ku bercermin kala membersihkan wajah, mataku sudah bengkak merah-merah tanda ngantuk berat.
Sudah lebih kurang sebulan terakhir ini aku merasakan gelisah yang muntab luar biasa. Setiap menjelang tidur, aku selalu resah hingga terkadang baru bisa tidur menjelang subuh. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menangis tertidur di atas kasur, memeluk boneka besar hadiah ulangtahun ke 19 dari Mama. Tangisan yang tertahan. Sebab takut terdengar penghuni rumah lainnya.
Disela-sela tangisan, aku mengingat usiaku yang kian mendekati 20 tahun. Aku merasa usia 20 adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Tapi tak ada yang bisa aku banggakan di usia yang tidak lagi kanak-kanak. Entah kenapa aku mendadak jadi amat sentimentil. Rasanya hidupku begini-begini saja, aktivitas dalam pola yang itu-itu saja. Sekolah-duit-belajar-orang tua kerja dan aku belum menghasilkan apa-apa.
Menjelang usia 20, entah kenapa aku menjadi lebih cengeng dari biasanya. Jauh dari Mama, menangis semalaman. Mata bengkak. Tidur kurang. Berkabar dengan Bapak, kemudian tahu Bapak tengah malam masih bekerja. Menangislah sejadi-jadinya. Merasa bersalah telah lahir ke bumi. Tahu kalau ternyata aku lahir hanya akan membebani (meski aku yakin sebenarnya Mama dan Bapak menanggapku bukan beban, tapi entahlah), aku memilih untuk tidak dilahirkan. Akan lebih memilih gugur membusuk di lauhul mahfudz sebelum sempat terkurung di rahim Mama.
Atau setidaknya nasib kami sedikit lebih baik dari ini? Aku merasa tidak kekurangan, semua aku Alhamdulillah-kan saja. Tapi kalau sedikit saja lebih baik, kan Bapak dan Mama tidak perlu bekerja terlalu keras. Bagaimana kalau kami tinggal memetik emas dari sebuah pohon lalu kami jual? Jadi tidak perlu lagi Bapak dan Mama capek-capek bekerja. Hehehe. Tetapi, apapun yang Tuhan gariskan untuk aku, sungguh aku ridho. InsyaAllah, ikhlas.
Mungkin, kegelisahan yang belakangan menyergap jiwaku ini adalah sebuah bentuk kontemplasi diri. Perenungan. Tentang bagaimana aku harusnya bersikap lebih bijak. Bukankan usia 20 sudah harus dipandang dewasa? Dewasa dalam segala hal. Bijak menghadapi kehidupan. Mandiri untuk menyosong masa depan.
Mama, Bapak, Nindi mohon kepada Mama dan Bapaj untuk bersabar sedikit lebih lama lagi. Kuatlah terus hingga hari itu tiba. Tapi, akan Nindi pastikan hari itu akan sesegera mungkin tiba. Hari dimana Mama dan Bapak tak usah lagi bekerja terlalu lelah. Tak usah! Banyak-banyaklah santai di rumah yang kita buat dengan cinta dan keringat. Nikmati usia yang semakin bertambah. Biar, biarlah Nindi yang mengambil alih. Biarkan Nindi yang bekerja keras. Tinggalah Nindi yang bertanggung jawab selaku anak tertua. Nindi janji Ma, Pak, hari itu akan segera tiba.
Love you Ma, Pak.
Terimakasih telah membesarkan Nindi.
I just wanna love you all mylife, Mama Bapak Fasya ♥♥
*usia 20 bagiku golden age. Harus bisa lebih produktif. Hehehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar