Aku memulai
menulis cerita ini dengan sesuatu yang menggenang di sudut mata.
Suatu hari aku melalui perjalanan panjang dengan
teman-temanku, ke suatu kota nun jauh dari kota tempat tinggalku. Di perjalanan
aku bertanya pada salah satu dari teman-temanku, bagaimana kalau aku mencintai seorang pria sejak lama, apakah aku harus
bilang atau tetap diam saja seperti ini?. Temanku itu menjawab, kalau kamu ingin dipandang sebagai perempuan
pada kodratnya, biarkan perasaan itu, jangan diungkapkan. Aku diam menunduk,
aku tahu hakikatnya perempuan adalah menunggu. Mau semodern apapun, kodratnya
perempuan adalah untuk dipilih. Dia, temanku, berkata benar. Dia menghormati
diriku sebagai perempuan. Kemudian, aku menyanggahnya, tapi bagaimana ya, ini sudah di tahun akhir masa kuliah kita. Aku menyukainya
sejak semester awal, hingga kini masih saja aku suka. Entah dia sadar atau
tidak.
“Apakah dia ada di lingkaran pertemanan kita?”, temanku
bertanya.
“Iya”, jawabku.
“Kamu pernah menunjukkan kamu mencintainya?”
“Selalu. Aku selalu menunjukan diriku ini nyata untuknya, aku
ada mencintainya tapi sepertinya dia hanya memandangku sebagai teman.”
“Kasihan. Hahaha”
“Kurang ajar! Hahaha”
“Jangan diungkapkan, biar saja. Itu saranku, terimalah.”
“Baiklah, terimakasih.”
***
Dan, di sinilah aku. Tetap diam menunggu waktu terbaik kapan
harus kuungkap perasaan itu. Sungguh, saran dari seorang laki-laki yang tengah
patah hati itu, amat membekas. Duh teman,
bagaimana pula aku bisa segila ini jatuh cinta pada kawanmu.
Adalah temanku yang lainnya, yang membuatku jatuh cinta sejak
awal bertemu. Timbul begitu saja ketertarikan itu. Berusaha diam saja seperti
ini, sejak lama, semakin menebalkan kekaguman akan sosoknya.
Terlalu banyak kesukaan aku dengannya. Cacat fisik kami, kopi
kesukaan kami, waktu kesukaan kami, dan segala hal yang mungkin aku paksa
hubung-hubungkan demi menyenangkan hatiku sendiri.
Susah memang menjalani cinta sepihak, cinta pada teman
sendiri. Sering kali diminta jadi pendengar kisahnya dengan perempuan lain,
diminta pendapat untuk hubungannya, dan selalu dipandang sebagai teman.
Hal-hal biasa di matanya yang dilakukan untukku, selalu
menjadi istimewa di kenangku.
Yang paling kusuka adalah ketika berdua kita meraba jalan
pulang di malam gelap dan hujan besar itu. Yang paling kurindu adalah satu meja
denganmu, menatapmu menyeruput kopi dan menghisap rokok. Hanya kita berdua. Yang
paling kuingin adalah mendengarkan semua lagu ciptaanmu, meski musiknya bukan
seleraku, apapun tentangmu kusuka. Yang paling kuingat adalah semua tentangmu,
segala hal yang kau lakukan selalu kusuka. Sejelek apapun kau saat tidur, sebau
apapun kentutmu, selama apapun kau makan. Sungguh selalu menarik bagiku tentangmu.
Ya Tuhan, bagi perempuan di usia yang sudah dewasa ini entah
mengapa kisahku ini begitu kekanak-kanakan. Salahkah aku bila selama ini aku
hanya melihat ke arahnya?
Ah, dia yang mungkin tak pernah menyadari temannya yang satu
ini begitu mendewakannya.
Kamu, kalau sempat membaca ini, tolong sampaikan salamku pada
keponakan-keponakanmu yang katanya menyukaiku, sampaikan padanya, doakan agar Teh Nindi bisa menjadi Tante
Nindi. Tolong ya, lebih banyak doa lebih baik.
Aku mencintaimu. Seseorang
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar