Selasa, 17 Januari 2017

Sebuah cerita yang tidak layak kamu atau siapapun tahu

Aku memulai menulis cerita ini dengan sesuatu yang menggenang di sudut mata.

Suatu hari aku melalui perjalanan panjang dengan teman-temanku, ke suatu kota nun jauh dari kota tempat tinggalku. Di perjalanan aku bertanya pada salah satu dari teman-temanku, bagaimana kalau aku mencintai seorang pria sejak lama, apakah aku harus bilang atau tetap diam saja seperti ini?. Temanku itu menjawab, kalau kamu ingin dipandang sebagai perempuan pada kodratnya, biarkan perasaan itu, jangan diungkapkan. Aku diam menunduk, aku tahu hakikatnya perempuan adalah menunggu. Mau semodern apapun, kodratnya perempuan adalah untuk dipilih. Dia, temanku, berkata benar. Dia menghormati diriku sebagai perempuan. Kemudian, aku menyanggahnya, tapi bagaimana ya, ini sudah di tahun akhir masa kuliah kita. Aku menyukainya sejak semester awal, hingga kini masih saja aku suka. Entah dia sadar atau tidak.
“Apakah dia ada di lingkaran pertemanan kita?”, temanku bertanya.
“Iya”, jawabku.
“Kamu pernah menunjukkan kamu mencintainya?”
“Selalu. Aku selalu menunjukan diriku ini nyata untuknya, aku ada mencintainya tapi sepertinya dia hanya memandangku sebagai teman.”
“Kasihan. Hahaha”
“Kurang ajar! Hahaha”
“Jangan diungkapkan, biar saja. Itu saranku, terimalah.”
“Baiklah, terimakasih.”

***

Dan, di sinilah aku. Tetap diam menunggu waktu terbaik kapan harus kuungkap perasaan itu. Sungguh, saran dari seorang laki-laki yang tengah patah hati itu, amat membekas. Duh teman, bagaimana pula aku bisa segila ini jatuh cinta pada kawanmu.

Adalah temanku yang lainnya, yang membuatku jatuh cinta sejak awal bertemu. Timbul begitu saja ketertarikan itu. Berusaha diam saja seperti ini, sejak lama, semakin menebalkan kekaguman akan sosoknya.

Terlalu banyak kesukaan aku dengannya. Cacat fisik kami, kopi kesukaan kami, waktu kesukaan kami, dan segala hal yang mungkin aku paksa hubung-hubungkan demi menyenangkan hatiku sendiri.

Susah memang menjalani cinta sepihak, cinta pada teman sendiri. Sering kali diminta jadi pendengar kisahnya dengan perempuan lain, diminta pendapat untuk hubungannya, dan selalu dipandang sebagai teman.

Hal-hal biasa di matanya yang dilakukan untukku, selalu menjadi istimewa di kenangku.

Yang paling kusuka adalah ketika berdua kita meraba jalan pulang di malam gelap dan hujan besar itu. Yang paling kurindu adalah satu meja denganmu, menatapmu menyeruput kopi dan menghisap rokok. Hanya kita berdua. Yang paling kuingin adalah mendengarkan semua lagu ciptaanmu, meski musiknya bukan seleraku, apapun tentangmu kusuka. Yang paling kuingat adalah semua tentangmu, segala hal yang kau lakukan selalu kusuka. Sejelek apapun kau saat tidur, sebau apapun kentutmu, selama apapun kau makan. Sungguh  selalu menarik bagiku tentangmu.

Ya Tuhan, bagi perempuan di usia yang sudah dewasa ini entah mengapa kisahku ini begitu kekanak-kanakan. Salahkah aku bila selama ini aku hanya melihat ke arahnya?

Ah, dia yang mungkin tak pernah menyadari temannya yang satu ini begitu mendewakannya.

Kamu, kalau sempat membaca ini, tolong sampaikan salamku pada keponakan-keponakanmu yang katanya menyukaiku, sampaikan padanya, doakan agar Teh Nindi bisa menjadi Tante Nindi. Tolong ya, lebih banyak doa lebih baik.


Aku mencintaimu. Seseorang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar