Senin, 21 September 2015

LELAKI DI BALIK JENDELA

Lelaki Di Balik Jendela 
Oleh, Nindi Aulia Rahmah

               Dari balik kaca jendela aku mengamati figurnya. Sosok yang tidak terlalu tinggi dengan bahu yang tegap. Punggung yang bidang dan kukuh. Potongan rambut yang aku hafal betul itu miliknya, sekalipun dari jauh aku memandang, sekalipun ia berada dalam keramaian. Kornea mataku meski minus mampu melihatnya sempurna, dengan hati.
            Aku mulai menyadari bahwa ada perasaan yang ganjil acap kali aku melihat sosok lelaki itu di balik jendela. Dimanapun, aku melihatnya di balik jendela. Kadang, aku melihatnya sedang berjalan di parkiran dari jendela kelasku di lantai tiga. Kadang aku melihatnya di balik jendela sedang berjalan di koridor seorang diri menenteng tas dan kamera slr menggantung di lehernya. Sering juga aku melihatnya dari balik jendela ketika ia sedang rapat dengan komunitasnya. Apakah perasaan ganjil itu bernama cinta? Tapi mengapa hanya muncul ketika aku melihatnya dari balik jendela? Hanya dari balik jendela.
            Sebenarnya, aku tidak sungguh-sungguh  melihat dia dari balik jendela saja. Karena, aku dan dia juga berada dalam zona yang sama. Sama-sama aktifis kampus. Intensitas pertemuanku dengannya terbilang sering. Diskusi atau sekedar sapa-menyapa pun rutin dilakukan. Tetapi entah kenapa aku lebih menyukainya ketika ia ada di balik jendela. Karena dari balik jendela, aku mampu mencintai sosoknya tanpa diketahui siapapun. Dari balik jendela aku mampu mencintai dia apa adanya, mencintainya dengan duniaku sendiri.
            Tak terhitung berapa bisikan cinta yang kusampaikan dari balik jendela yang akhirnya hanya berupa embun yang menempel di kaca karena tak mampu melaju menuju daun telinganya. Karena selalu ada yang terasa jauh, setiap kali aku melihatnya dari balik jendela. Sesuatu yang sebetulnya aku merasa dekat namun tak berani kuraih dengan tanganku agar tak pergi lagi. Padahal dia ada disana, berwujud, tampak, bukan hanya berupa angan semuku saja. Dia ada dan nyata, tapi tak mampu membuatku beranjak untuk coba kuraih dan kumiliki.
            Aku lebih suka disini, duduk, mencintainya dibalik jendela. Apakah jendela hanya milik orang-orang yang kalah dan putus asa dengan memilih duduk menunggu? Tidak. Aku hanya ingin melihat dia secara utuh. Membiarku menikmati dunianya dari duniaku.
***
            Sabtu sore. Koridor kampus lengang, beberapa mahasiswa terlihat sedang diskusi di kiri-kanan lorong. Sabtu memang jadwalnya diskusi. Kali ini nampaknya aku akan terlibat diskusi panjang dengan sosok yang sering kulihat dari balik jendela. Tetapi sebelumnya, aku harus harus berdiskusi dengan hatiku sendiri agar tetap tenang dan bersikap wajar ketika berhadapan dengan dia.
            Lima belas menit menjelang diskusi aku memesan kopi. Kopi tubruk tanpa gula. Sederhana dan tidak mahal tapi mampu menjernihkan pikiranmu, menenangkan hatimu. Sebab kopi tanpa gula adalah alami, itu akan membuat siapapun seperti terlahir kembali.
            “Hai Git, sudah siap belum untuk diskusi sore ini?”
            Astaga. Aku kaget hampir tersedak kopi yang sedang kuseruput. Lelaki yang sering kulihat dari balik jendela tiba-tiba duduk di depanku.
            “Eh, ngagetin aja lo! Semoga siap ya, doain aja. Materi udah aku pegang sih.” Jawabku sekenanya.
            Ia mengangguk. “Suka kopi juga ya, Git? Kelihatannya pahit banget.” Tanyanya kemudian sambil melirik ngeri ke cangkir di hadapannya.
            “Iya, ini kopi tubruk tanpa gula. Pahit memang tapi sedap. Mau?” tawarku.
            Dia menggeleng. Katanya, “Aku lebih suka susu, itu lebih sehat,” sambil tersenyum dan berlalu melambaikan tangan. “Duluan ya, Git.”
            Aku membalas lambaian tangannya. Dia sudah pergi, aku bernapas lega. Betapa terkejutnya aku ketika dia tiba-tiba ada di hadapanku.
            Namanya Teza. Setahuku tidak ada nama panjangnya. Hanya Teza. Tok. Tidak ada tambahan. Sepengamatanku lagi, hidupnya sehat. Tidak ngopi tidak merokok. Berbeda denganku, aku ngopi dan sangat addict pada kopi. Bahkan tiga bulan sekali aku pergi ke dokter gigi karena gigiku menguning oleh kafein. Meski tidak merokok tapi aku bergaul dan hidup di lingkungan manusia-manusia perokok, jadi setidaknya beberapa liter udara yang kuhisap berasal dari asap rokok, sebut aku perokok pasif.
            Namanya Teza, dialah sosok yang aku cintai dari balik jendela. Sama-sama aktifis kampus yang bergerak dibidang sosial. Kami seangkatan, satu fakultas hanya berbeda jurusan. Rutin bertemu dan diskusi setiap sabtu sore. Tetapi hari-hari biasa aku tetap bisa melihatnya dari balik jendela. Kecuali hari minggu, aku tidak pernah ke kampus jika hari minggu. Jadi selama seminggu, lima hari aku melihatnya dibalik jendela dan satu hari aku menatapnya di depan mata.
***
            “Bagaimana Git, ada pendapat tentang bergantinya status Indonesia dari Negara berkembang menjadi Negara maju?” Aldi, moderator diskusi sore itu, melempar pertanyaan kepadaku.
            “Bagiku itu omong kosong. Aku rasa itu hanya karangan elit politik saja untuk meninabobokan masyarakat  agar tidak khawatir akan krisis global yang sedang mengancam dunia”
            “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” Teza bertanya.
            Astaga. Kenapa dia yang bertanya. Sontak aku menatapnya dan gemuruh di hatiku tak bisa ku bendung. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati dan pikiran. Biarkan logikaku yang bekerja, simpan dulu perasaanku.
            “Nyatanya, di Negeri kita orang miskin semakin banyak saja dan orang kaya semakin berlimpah ruah. Mungkin ini yang dimaksud berubah dari berkembang menjadi maju. Si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya?” jawabku sesantai mungkin.
            “Tetapi pendapatan perkapita negara kita semakin tinggi, itu salah satu tolok ukur Negara maju.” Teza membantah seperti tak mau kalah.
            Aku lupa, dia adalah anak dari salah satu pejabat elit politik di negeri ini. Apapun pasti dia membela profesi ayahnya. Sudah kuduga, ini bakal jadi diskusi yang panjang.
            “Itu teori. Prakteknya? Kita bisa memanipulasinya. Tak terhitung berapa banyak angka yang mampu kita manipulasi dalam sebuah proposal, bukan?”
            “Aku setuju dengan pendapatan Sigit. Apalagi masalah demokrasi di negeri kita. Runyam!” Firman menimpali.
            Diskusi sore itu berlangsung panas. Otakku geram, emosiku memuncak, membahas negeri ini yang carut marut. Perasaan juga ikut carut marut. Teza mati-matian berargumen, aku juga mempertahankan opiniku. Tapi diskusi berakhir dengan kesimpulan bahwa forum diskusi kami harus mampu menyumbang ide, gagasan atau apapun untuk Negeri yang sedang sekarat ini. Sebab kami mengkritisi bukan hanya mengkritik.
***
            Semenjak diskusi sabtu sore itu, Teza jadi lebih sering menyapaku. Aku jadi jarang melihatnya di balik jendela. Aku seperti tak punya kesempatan mengintipnya dari celah kecil jendela kampus. Aku seperti kehilangan dunia milikku sendiri. Sekat yang kubuat tinggi agar tak seorangpun mampu melewatinya. Pagar yang kubuat rapat agar tak seorangpun membebat dengan alasan apapun, karena aku melakukannya secara diam-diam. Aku susah payah membuat batas yang kuciptakan dari duniaku yang lain.
            Tetapi, mengapa aku tak bisa memunculkan perasaan cinta itu ketika Teza ada di hadapanku? Rasanya seperti berdosa jika aku mendapati ia ada di depan mataku. Aku berusaha menghindari obrolan panjang dengannya, hanya karena aku takut itu justru akan membuatku semakin jatuh pada pesonanya. Bukankah etika berbincang yang baik adalah dengan saling balas menatap? Aku takut Teza akan menemukan sesuatu yang kusembunyikan untuknya, di mataku.
            Kamis siang, gerimis turun. Aku menepi di sisi koridor, di situ disediakan banyak bangku. Aku duduk disalah satu bangku. Sudah tidak ada jadwal kuliah. Di ujung koridor, ku lihat ia sedang berjalan menuju arahku. Hatiku membuncah, ada tegang namun banyak senang. Dadaku kembang kempis. Otakku bekerja memikirkan apa yang harus kukatakan lebih dulu. Sialnya, akibat gerimis otakku jadi minimalis. Teza lebih dulu sampai di hadapanku.
            “Hey Git,” Sapanya.
            “Hey.” Kujawab
            “Sendiri?”
            “Yap. Kamu?”           
            “Oh. Enggak, ini aku sama pacarku. Dia lagi ngobrol sama temannya.”
            “Ooh..” kujawab.
            Jadi ini yang baru kusadari. Setiap kali aku melihatnya utuh di hadapanku sendiri. Ada sesak yang menjelma dan mengabut di dada. Alasan mengapa akhirnya aku memilih hanya mencintainya dari balik jendela. Biar, biarkanlah aku hanya mencintanya dari balik jendela. Aku bebas memilih dari celah mana aku melihatnya. Sebab aku tahu, selalu ada tangan yang ia genggam ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan itu amat menyakitkan.

*penulis bisa dihubungi di akun twitter: @nindiarh
terbit di Harian Radar Cirebon, 6 September

Jumat, 18 September 2015

Dear Dude

Kau tahu, Dude.
kemarin sore saat kau tidak ada, ada suatu peristiwa kecil di parkiran kampus. Sebenarnya tidak apa-apa, tidak masalah. Tapi kau tentu tahu, kelakuan teman-teman kita? Sungguh, mereka memperolok-olok aku. Malu. Salah tingkah. Sesak. Kesal. Juga sesal.

Seketika hati dan pikirku mengatakan: andai saja kau ada disini. Aku tidak akan bertingkah sememalukan kemarin. Rasanya kalau kau ada, dude, semua jadi lebih terkendali. Kau amat mengertiku. Aku merasa nyaman dan tenang. Aku merasa akan baik-baik saja denganmu, dude. Tapi dimana kamu disaat aku mau?

Sampai tulisan ini aku buat, belum sempat kusampaikan kepadamu perihal ini. Aku tidak berani. Aku takut mengambil waktumu. Lagi pula kita hanya teman. Tak ada kesepakatan apapun.

Kau tahu Dude..
Aku ingin bersamamu seperti malam itu, dalam dingin dalam derasnya hujan meraba jalan pulang. Tak apa tidak harum, aku sudah suka kamu.

Dan semenjak hari itu, hati ini milikmu. ☺

18 September 2015

Senin, 14 September 2015

Aku juga ingin mengunjungi Negeri Senja

Aku juga ingin mengunjungi Negeri Senja
Untuk Seno Gumira Ajidarma

Fantasiku meliar tatkala kuselesaikan mengeja satu per satu huruf dalam Tujuan Negeri Senja-mu, Pak.

Aku ingin mendapati diriku sedang berada di Stasiun Tugu dan mengantre di loket itu. Pergi ke Negeri Senja. Negeri yang gemerlap gemilang.
Tak apa tak kembali. Sebab aku muak dengan hidupku sekarang. Aku mendamba kedamaian. Barangkali di sana kutemukan?

Berapa harga tiketnya?
Aku pesan satu. Atau dua, tiga, mungkin empat.
Ternyata aku masih takut pergi sendiri.
Barangkali Mama, Bapak dan Fasya hendak ikut.

Aku membayangkan duduk bahagia dalam kereta kemilau. Roda kereta yang berdecit mencumbu rel dengan hangatnya, perlahan berangkat menuju Negeri Senja. Kereta kemilau yang bercahaya memancarkan warna senja. Ada aku di dalamnya, duduk tenang menjemput keabadian.

Terimakasih, pak. Telah mengenalkan aku pada Negeri Senja. Maaf sebelumnya aku memanggilmu, Pak.

Jumat, 11 September 2015

Berterusteranglah!

Aku merasa ada yang salah diantara kita. Jika iya, seperti apa yang kuduga, berterusteranglah. Mungkin jalan kita akan mudah. Namun kalau ini hanya sebatas perasaanku saja, mengapa kita harus begini?

Ada sesal yang entah datang darimana, menyadari ulahku kemarin ternyata membuatmu sedingin sekarang.

Harus kau tahu, apa yang dilihat tak sama seperti apa yang kau pikirkan.

Aku benci curiga. Aku tak suka menduga. Berterusteranglah!
Atau haruskah aku yang bilang terlebih dahulu?
Aku cinta padamu♥

Beber, 11 September 2015
Untukmu yang semenjak hari itu, hati ini milikmu.

Senin, 31 Agustus 2015

Kontemplasi diri menjemput 'golden age'

Tulisan ini dibuat pada tanggal 28 Agustus, baru diposting sekarang. Ingin menumpahkan kegelisahan yang merajam diriku. Heheheh

Selarut ini aku belum bisa memejamkan mata, menidurkan jiwa dan mendamaikan lelah. Tadi kulihat di smartphone bututku sekarang sudah pukul 23.14 WIB. Sudah kucoba terpejam tqpi pikirku melayang-layang. Sudah kujauhkan gadget, kumatikan lampu biar kamar jadi gelap tapi tetap susah terlelap. Padahal saat ku bercermin kala membersihkan wajah, mataku sudah bengkak merah-merah tanda ngantuk berat.

Sudah lebih kurang sebulan terakhir ini aku merasakan gelisah yang muntab luar biasa. Setiap menjelang tidur, aku selalu resah hingga terkadang baru bisa tidur menjelang subuh. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menangis tertidur di atas kasur, memeluk boneka besar hadiah ulangtahun ke 19 dari Mama. Tangisan yang tertahan. Sebab takut terdengar penghuni rumah lainnya.

Disela-sela tangisan, aku mengingat usiaku yang kian mendekati 20 tahun. Aku merasa usia 20 adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Tapi tak ada yang bisa aku banggakan di usia yang tidak lagi kanak-kanak. Entah kenapa aku mendadak jadi amat sentimentil. Rasanya hidupku begini-begini saja, aktivitas dalam pola yang itu-itu saja. Sekolah-duit-belajar-orang tua kerja dan aku belum menghasilkan apa-apa.

Menjelang usia 20, entah kenapa aku menjadi lebih cengeng dari biasanya. Jauh dari Mama, menangis semalaman. Mata bengkak. Tidur kurang. Berkabar dengan Bapak, kemudian tahu Bapak tengah malam masih bekerja. Menangislah sejadi-jadinya. Merasa bersalah telah lahir ke bumi. Tahu kalau ternyata aku lahir hanya akan membebani (meski aku yakin sebenarnya Mama dan Bapak menanggapku bukan beban, tapi entahlah), aku memilih untuk tidak dilahirkan. Akan lebih memilih gugur membusuk di lauhul mahfudz sebelum sempat terkurung di rahim Mama.

Atau setidaknya nasib kami sedikit lebih baik dari ini? Aku merasa tidak kekurangan, semua aku Alhamdulillah-kan saja. Tapi kalau sedikit saja lebih baik, kan Bapak dan Mama tidak perlu bekerja terlalu keras. Bagaimana kalau kami tinggal memetik emas dari sebuah pohon lalu kami jual? Jadi tidak perlu lagi Bapak dan Mama capek-capek bekerja. Hehehe. Tetapi, apapun yang Tuhan gariskan untuk aku, sungguh aku ridho. InsyaAllah, ikhlas.

Mungkin, kegelisahan yang belakangan menyergap jiwaku ini adalah sebuah bentuk kontemplasi diri. Perenungan. Tentang bagaimana aku harusnya bersikap lebih bijak. Bukankan usia 20 sudah harus dipandang dewasa? Dewasa dalam segala hal. Bijak menghadapi kehidupan. Mandiri untuk menyosong masa depan.

Mama, Bapak, Nindi mohon kepada Mama dan Bapaj untuk bersabar sedikit lebih lama lagi. Kuatlah terus hingga hari itu tiba. Tapi, akan Nindi pastikan hari itu akan sesegera mungkin tiba. Hari dimana Mama dan Bapak tak usah lagi bekerja terlalu lelah. Tak usah! Banyak-banyaklah santai di rumah yang kita buat dengan cinta dan keringat. Nikmati usia yang semakin bertambah. Biar, biarlah Nindi yang mengambil alih. Biarkan Nindi yang bekerja keras. Tinggalah Nindi yang bertanggung jawab selaku anak tertua. Nindi janji Ma, Pak, hari itu akan segera tiba.

Love you Ma, Pak.
Terimakasih telah membesarkan Nindi.
I just wanna love you all mylife, Mama Bapak Fasya ♥♥

*usia 20 bagiku golden age. Harus bisa lebih produktif. Hehehe

Rabu, 19 Agustus 2015

Puisi untuk Bapak; Selamat Ulang Tahun, Supermanku!

Diatas roda raksasa, dibalik kemudi. Peluhmu juga lelahmu mengkristal dengan niat yang kau hendaki. Bapak, istirahatlah sebentar. Sini kubuatkan kopi hitam yang sedikit manis, untuk pulihkan tenagamu.

Selagi aku membuat kopi, mandilah Bapak. Basuh tubuhmu yang berdebu, ganti pakaianmu yang lusuh akibat berhari-hari kau kenakan. Keramaslah Bapak, nanti kucabuti ubanmu.

Nikmatilah secangkir kopi yang gadismu buat, Bapak. Lalu kita ngobrol sebentar. Kumohon dalam percakapan kali ini, jangan anggap aku masih berusia lima. Gadismu sudah menjelma dewasa, Bapak.

Nikmati kopimu, seruputlah perlahan-lahan
Jangan cepat-cepat, sebab obrolan kita akan panjang. Jangan pasang wajah serius, Bapak. Anakmu ingin bercanda gurau seperti hari-hari terbaik kita. Tetapi hari-hari kita selalu terbaik, ya Bapak.

Beberapa tahun yang akan datang, gadismu ini akan dipinang seseorang. Entah tetangga sendiri atau jauh dari seberang. Tolong Bapak pilihkan yang terbaik untuk anak sulungmu.

Mari kita putar sedikit kenangan manis kita, Bapak. Betapa lucunya aku dulu digendong kemana-mana oleh engkau. Digelitiki kumismu, dipangku, dicium dan dimanja engkau. Katanya anak pertama memang mirip dengan Bapaknya. Tiadalah salah perihal itu, wajahku tegas mewarisi wajahmu, Bapak. Alis mataku tebal bak ulat bulu. Mata cokelatku, kulit cokelatku, tinggi badanku.

Akan ku ingat betul, perjuangan-perjuangan Bapak demi menyekolahkanku. Akan kuingat masa-masa sulit kita dulu. Dulu, aku begitu abai akan hadirmu. Sekarang, betapa hadirmu begitu aku rindu.

Meski lebih sering diam, dan tak berkomentar banyak. Tapi aku tahu, kauamat menyayangiku. Bapak amat khawatir dengan keadaanku. Kemarin, baru kutahu sisi lainmu. Betapa menyakitkan, hingga aku merasa dendam. Entah benar atau salah.

Bapak yang tercinta, terimakasih atas segalanya. Percayalah Pak, tiada peluh yang tercurah percuma, tiada usaha yang sia-sia. Percayalah Bapak, akan tiba masanya kau menikmati jeri payahmu. Akan terus kuusahakan kebahagianmu, kebahagian keluarga kecil kita. Akan terus kuusahakan menjadi kebanggaanmu, memenuhi pintamu, juga memenuhi segala janji.

Harus Bapak tahu, di dunia ini hanya ada satu lelaki yang tidak pernah membuatku kecewa dan itu adalah engkau, Bapak. Hanya ada satu lelaki yang gagah dan bertanggung jawab, yang tidak pernah menyakitiku dan itu hanyalah Bapak, yang bahkan rela menyakiti tubuh sendiri demi kebahagian anaknya.

Maafkan aku Bapak. Bersabarlah sedikit lagi, sebentar lagi. Akan kuusahakan yang terbaik bagi kita. Harus Bapak tahu, aku mencintai Bapak lebih dari apapun!

Aku cinta padamu, Bapak.
Selamat ulang tahun, Superman-ku!

*19082015
Selamat mengulang tahun lahir ke-42 ☺😍😘😚

Senin, 15 Juni 2015

Secangkir Kopi, Teh dan Obrolan Jelang Pernikahan

         Pagi hari di rumah milik keluargaku, selalu tercium aroma teh melati dan kopi tubruk dari ruang keluarga. Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan nikmatnya kopi tubruk dari Bapak. Ibu memperkenalkan teh sejak aku masih kanak-kanak sebagai minuman penghangat perut saat sarapan atau sekadar minuman penghangat sore hari. Selalu hangat, sebab bagi Ibu teh melati yang hangat lebih memberikan kedamaian ketimbang teh melati yang dicampur es. Wangi melati yang sekilas dihirup, namun kemudian menetap di bibir dan merembes ke lidah.
Sementara saat usiaku 9 tahun, aku mengenal kopi tubruk. Kopi tubruk tanpa gula kesukaan Bapak, minuman favoritnya ketika sarapan, makan siang, sore hari dan makan malam. Tak sekalipun Bapak melewatkan si kopi tubruk. Bapak mengizinkan aku berkenalan dengan pahitnya rasa kopi sebagai bagian dari keasyikan menikmati hidup. Bapak bilang, dia lebih suka segala sesuatu sesuai dengan kodratnya, seperti kopi yang dibiarkan tetap pahit tanpa gula tanpa pemanis. Kopi. Lagi-lagi kopi dan selalu kopi yang dibicarakan kalau sedang dengan Bapak. Kata Bapak lagi, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia.
Kopi tubruk di pagi hari dapat menentukan suasana hati Bapak selama 1440 menit ke depan. Tapi saat itu, di usiaku yang 9 tahun, aku tidak dibolehkan mencecap rasa si kopi tubruk karena takut kandungan kafeinnya belum mampu ditopang oleh tubuhku yang masih kecil, sebagai gantinya aku hanya diizinkan untuk menghirup aromanya.
Aroma kopi tubruk Bapak begitu kuat, karena aku bisa menciumnya dari kamar tidurku. Kopi ini telah menempuh proses panjang hingga akhirnya ia menghuni sebuah toples milik Bapak, yang kemudian dipindahkan kedalam gelas dan ditimpa air mendidih. Mengendaplah kopi dalam gelas kaca yang hendak diseruput oleh Bapak. Ada banyak toples yang berjejer rapi di lemari dapur, berisi berjenis-jenis kopi. Seyogianya memang penikmat kopi pasti akan mengoleksi bermacam jenis kopi. Sampai-sampai bau ciuman Bapak di pipiku adalah bau kopi hitam; harum yang menguasai ruang yang tak mudah pergi.
Hingga pada usiaku yang ke 13, barulah aku diperkenankan mencicipi pahitnya kopi. Lidahku tidak menolak tetapi lambungku butuh sedikit adaptasi. Aku tidak bilang aku tidak suka kopi atau teh. Aku mencintai keduanya sama seperti aku mencintai Ibu dan Bapak.
Aku mencintai teh melati seperti aku mencintai Ibu. Di dalam secangkir teh melati aku melihat wajah Ibu. Cokelat, keruh, berbintik hitam tapi tetap menghangatkan dan memberi ketentraman. Di hangatnya secangkir teh dan harum aromanya, aku melihat Ibu dan segala kasih sayangnya. Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu meminum teh melati hangat. Sebab selain memberikan kenyamanan, kehangatan dan ketentraman, meneguk teh melati seperti membawaku pulang ke rahim ibu, tempat paling nyaman untuk meringkuk sendirian.
Sedang kopi hitam, aku mencintainya seperti aku mencintai Bapak. Bagi seorang anak perempuan sepertiku, Bapak adalah cinta pertamanya. Alasan mengapa anak perempuan mencintai bapaknya adalah bahwa setidaknya ada satu lelaki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitinya, tidak akan pernah mengecewakannya.
Pernah pada suatu pagi hari di penghujung bulan yang gerimis, ketika Ibu sedang menyeduh teh, kopi dan susu secara bersamaan. Ketika Bapak sedang membaca sebuah buku sastra, aku bertanya kepada Bapak mengapa ia begitu mencintai kopi, dan Bapak menjawab,
“Kata Jokpin, kurang atau lebih setiap rejeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”
Aku mengerutkan kening, berusaha memahami kalimat Bapak. “Siapa Jokpin?” tanyaku akhirnya.
“Joko Pinurbo, disingkat Jokpin. Dia adalah penyair, penulis. Dia sastrawan”
“Seperti Bapak?”
“Iya, seperti Bapak” tiba-tiba Ibu ikut menyahut dalam obrolanku dengan Bapak. Aku mengangguk-angguk, tidak bertanya lagi karena Ibu sudah membawakan senampan sarapan kami. Perpaduan teh melati, kopi dan susu cokelat di meja makan. Dengan goreng pisang dan roti bakar, di penghujung bulan, pagi yang gerimis.
Seiring dengan aku terus tumbuh dan bertambah usia. Sejalan dengan aku memahami hakikat kopi dalam hidup Bapak dan teh pada diri Ibu. Aku mulai memahami pekerjaan keduanya. Aku mengenal sastra dari aroma kopi milik Bapak, dan mengenal untung-rugi dari wangi teh melati milik Ibu.
Bapak biasa diundang dalam seminar-seminar, katanya Bapak sastrawan. Buku di ruang kerjanya berjejer rapi di rak. Kebanyakan cerita dan aku suka membaca. Sebelah rak dan lemari buku milik Bapak, ada meja kerja milik Ibu. Meja kerja ibu berisi banyak buku besar, komputer dan alat hitung. Buku-buku milik ibu tentang ekonomi, aku tidak terlalu suka. Katanya Ibu seorang akuntan.
Usiaku 13 tahun kala tahu pekerjaan kedua orangtuaku. Aku merasa bangga meski tidak tahu betul apa itu sastrawan dan akuntan.
*** 
Juni 2015. 3 bulan lagi usiaku dua puluh tahun tiga tahun. Bapak dan Ibu masih setia dengan kopi tubruk dan teh melati. Aku masih setia dengan tetap mencintai keduanya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati Ibu. Di usiaku yang sekarang, aku tidak lagi dianggap gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Aku sudah dipandang dewasa. Dewasa dalam menghadapi segala hal. Dewasa dalam menghadapi luka, bahagia dan segala permasalahan hidup.
Kata Bapak aku seperti Kopi, dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Sedang menurut Ibu aku seperti teh melati, memberi kenyamanan, ketentraman dalam damai.
3 bulan yang lalu, sebuah cincin melingkar dijari manis tangan kiriku. Dan 3 bulan yang akan datang, tepat di hari  dimana aku genap berusia dua puluh tiga tahun, aku akan menikah. Dengan pria pilihanku yang mampu menggenapkan keganjilan dalam hidupku. Pria yang mampu mencintai kopi dan teh tanpa harus memilih.
Menjelang hari pernikahanku, Bapak dan Ibu kian sibuk mempersiapkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Setiap malam aku disuguhi wejangan ala kopi dan teh.
“Andita akan berkeluarga, Pak, Bu..” Kataku di sore hari yang hangat dengan secangkir kopi, teh dan susu dan sepiring pisang goreng.
“Gadisnya Ibu sudah besar, tau-tau besok sudah jadi istri orang, ya, Pak” Ibu tersenyum, melirik Bapak sambil menyeruput teh melatinya. Matanya memejam sebelum diminum, Ibu menghirup aroma kedamaian dari teh melati.
Bapak terkekeh, kemudian Bapak bilang, “Kata Agus Noor, pada kopi ada revolusi juga cinta yang tak pernah mati.”
“Maksudnya apa, Pak?” tanyaku.
“Bagi Bapak, kamu adalah kopi yang murni. Selain mahal juga rasanya nikmat, tak banyak yang bisa memiliki. Itu artinya spesial.” Bapak menjelaskan sambil sesekali menyeruput kopi tubruknya.
“Pada kopi ada revolusi, juga cinta yang tak pernah mati. Revolusi: perubahan. Kopi yang berupa biji berubah menjadi bubuk-bubuk tepung yang ada di toples, di dapur sana, kan? Nah, Bapak pernah bilang, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Begitulah kiranya, engkau, anakku. Andita sudah besar, sudah Bapak pupuk dengan kesabaran, pemahaman-pemahaman yang baik dan dimatangkan usia. Tetapi pada revolusi dirimu, anakku, ada cinta yang tak pernah mati dari Bapak, dari Ibu.”
Aku mengangguk-anggukan kepala, berusaha memahami nasehat Bapak. Nasehat ala sastrawan, wejangan a la kopi. Aku sungguh mencintai kopi seperti aku mencintai Bapak. Kulihat Ibu, dia tersenyum kemudian memelukku. Aku sungguh mencintai lembut dan harumnya teh melati, seperti aku mencintai Ibu.
“Andita, dari segelas teh ini, kamu akan tahu bagaimana hakikatnya sebuah teh bisa terasa.” Kali ini ibu yang akan memberikan wejangan a la teh. Ibu berkata sambil memegang cangkir teh melati favoritnya.
“Bagaimana, Bu?” tanyaku.
“Dari secangkir teh ini, kita akan tahu hangat dan nyamannya sebuah kedamaian. Dalam secangkir teh, kita seperti membaca ulang sebuah kalimat. Seperti kalimat panjang Bapak tadi, minum saja teh ini, kita seperti bisa mengulang semuanya. Kenapa? Karena teh selalu membuatmu alami. Itulah rahasia mengapa Ibu amat mencintai teh, sebab Ibu bisa membaca ulang semua hal. Nasihat Bapakmu, resep masakan, debet – kredit dan banyak hal lainnya.”
“Satu lagi, Andita” Lanjut Ibu, “Karena teh itu seperti mengenang setiap inci perjalanan, dan ketabahan hati. Coba ingat bagaimana proses pembuatan teh untuk kemudian ada di cangkir ini? Sama seperti kopi, menempuh proses yang maha panjang. Teh adalah kesederhanaan, tapi bukan sekadar minuman dalam tampilan sederhana dalam warna yang itu-itu saja. Hijau, coklat atau sedikit kemerahan dengan aroma yang tidak nyata namun terasa, kadang kuat atau samar. Pahit dan manis di beberapa bagian. Tapi teh tidak terlalu tajam, tidak pernah terlalu kuat, akan mengalir begitu saja untuk masuk ke dalam kerongkongan. Seperti cinta yang tidak kamu ketahui, yang tiba-tiba menatapmu lekat mengajakmu mengarungi masa depan, menjanjikanmu masa depan yang lebih baik, Andita.”
“Iya, Bu, Pak. Terimakasih. Andita cinta Bapak dan Ibu, seperti cinta kopi kepada teh atau sebaliknya. Cinta yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia, cinta yang alami, sederhana. Cinta yang tidak kita ketahui, tiba-tiba saja ia hadir.” Ucapku bergetar, kemudian memeluk keduanya. Harumnya kopi dan hangatnya teh berbaur dengan keringatku yang berbau susu.
Hari itu, aku tidak tahu mengapa aku bahagia sekali memiliki Bapak dan Ibu yang luar biasa romantisnya. Seperti tidak sedang menasehati putrinya yang hendak menikah, lebih seperti mengajak berpikir seorang teman yang akan memulai hidup baru dengan filosofi kopi dan teh dari masing-masing dirinya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati ibu.
Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan kuatnya kopi tubruk dari Bapak. Aku mencintai kopi dan teh seperti aku mencintai Bapak dan Ibu. Secangkir kopi, teh dan obrolan menjelang pernikahan.


*Penulis adalah mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unswagati