Sabtu, 18 Juni 2016

Aku adalah ahlinya dalam menyayangi tanpa tahu bagaimana untuk berhenti; dan ditinggal saat hampir memiliki.

Kamis, 16 Juni 2016

Surat untuk Ramadhan

Duhai Ramandhan, betapa banyak yang tak menghargai datangnya engkau, apakah mereka termasuk yang bukan golongan beriman?
Aku dengan keimanan yang kupunya, dan akhlak yang belum sempurna, betul-betul ingin memadukan lahir dan bathinku padamu, Ramadhan. Bila kelak, meski enggan, aku memang harus terbakar dahulu oleh apiNya, jangan sampai kedua orangtuaku terbawa karena perangaiku. Tetapi sungguh aku inginkan hakiki bahagia di firdausNya. Ramadhan, tolong rengkuh aku dalam pelukNya.

Nindiarh, 16 Juni 2016.

Sabtu, 11 Juni 2016

Pengakuan

Tuan, sebelumnya selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga tahun ini ramadanmu penuh berkah.

Pada tulisan ini, aku ingin ungkapkan semuanya. Tak apa kalau engkau tak sempat membacanya, di sini aku cuma butuh bejana untuk menampung segala resah yang kadung kukhayalkan dengan indah.

Perkenalan kita sebelum berangkat ke bumi perkemahan 3 tahun silam, adalah awal dari semua gelisah ini. Aku, cukup tahu diri dan terus menjaga hati untuk tidak begitu saja mengamini apa yang terjadi. Love at the first sight, katanya. Tapi aku tidak percaya. Sebentar saja ternyata ketertarikanku padamu. Lalu kau justeru malah dekat dengan sahabatku. Sering dia bercerita tentangmu, aku cemburu. Di sisi sini aku juga memiliki kedekatan dengan lelaki lain. Ku rasa aku akan egois bila mementingkan perasaanku seorang. Detik itu juga, kupangkas habis perasaanku padamu agar tak tumbuh lagi.

Singkat cerita, aku sudah memutuskan hubunganku dengan lelaki kemarin. Kau pun sudah tak ada hubungan dengan sahabatku. Tetapi angin membawa kabar kau tengah dekat dengan perempuan lain. Aku lagi-lagi cemburu, tetapi bukan, kurasa ini bukan cemburu, lebih kepada kesal. Kesal mengapa aku tak pernah mendapatkan kesempatan itu!

Kemudian kita ternyata satu kelas. Senang betul hatiku. Tapi apalah daya aku hanya bisa memendam. Cuma bisa jadi teman. Friendzone. Cuma bisa mendengarkanmu yang kadangkala curhat tentang kekasihmu. Cuma bisa jadi pendengar setia keluhmu, kesalmu terhadap hubungan yang sedang kaujalani. Aku bahkan pernah berbisik dalam hati, hanya dalam hati saja, kemari padaku saja akan kubuat kau pria paling bahagia di dunia ini!

Kau tahu, banyak momen yang sengaja kucuri darimu. Pura-pura seolah hal biasa padahal istimewa untukku. Banyak kenangan yang kusimpan tentangmu. Beberapa diantaranya kenangan yang besar. Banyak sajak tercipta buatmu. Sungguh benar-benar tentangmu. Bila kuruntut, momen bersamamu adalah hal paling-sangat-tidak-mudah terlupakan dalam hidupku.

Terimakasih telah mau mewarnai indah masa-masa di kampus. Telah menjadi banyak alasanku, itu juga terimakasih. Untuk mengambil banyak waktumu dan segala kebaikanmu padaku, untuk menjadi tempat yang paling aman buatku, terimakasih.

Maaf jika dulu, dibelakangmu, aku pernah memelukmu begitu erat. Aku merasa berdosa. Juga maaf pernah membuatmu kesal. Untuk selalu membuatmu repot, aku juga minta maaf.

Terakhir, tolong dimaafkan pengakuan ini. Aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Akan kuungkapkan, entah akhirnya akan menyakitiku atau tidak. Tolong, maafkan aku yang menaruh rasa padamu.

Tertanda,
yang jatuh cinta padamu sejak lama, Aul.

Beber, 11 Juni 2016

Rabu, 16 Desember 2015

Resensi Novel "Pulang" Karya Tere Liye

Resensi Novel “PULANG” Karya Tere Liye

Judul Novel    : PULANG
Penulis            : Tere Liye
Penerbit        : Republika Penerbit
Tahun terbit   : Cetakan ke II, Oktober 2015Tebal Halaman        : 400 hlm.

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati Bapakku dibanding di tubuhnya. Juga Mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.” (hlm. 315)

Novel ini berkisah tentang perjalanan pulang yang penuh pertarungan. Perjalanan pulang yang mahal harganya. Harus dibayar dengan kerja keras, disiplin, latihan, keringat, air mata dan darah juga nyawa. Mengisahkan Bujang yang diakhirnya dijuluki Si Babi Hutan. Ia adalah anak pedalaman dari rimba rimba Sumatera. Sejak usia 15 tahun, Ia bergabung dengan Keluarga Tong ― pengusaha Shadow Economy. Keputusan yang Ia ambil sejak usia belia, bergabung dengan Keluarga Tong, meninggalkan Mamak dan Bapaknya di pedalaman rimba Sumatera. Bujang memilih jalan hidup menjadi jagal no 1 di Ibu Kota. Melebarkan kekuasaan Keluarga Tong hingga ke Ibu Kota Provinsi, Ibu Kota Negara bahkan Se-Asia Pasifik. Masyhur betul usaha Keluarga Tong ditangan Si Babi Hutan. Si Babi Hutan terkenal tidak memiliki rasa takut. Definisi rasa takut itu sudah hilang dari hidupnya.

“Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik dan kemarahan. Aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” (hlm.1)

Tetapi kematian Bapak, Mamak juga Tauke Besar ― Bapak Angkatnya membuat rasa takut itu kembali datang di hidupnya. Kepingan masa lalu Bapak dan Mamaknya yang ia tidak ketahui, juga masa lalu miliknya membuat Si Babi Hutan gelisah kepayahan. Rasa takut itu muncul lebih kuat dan lebih besar. Namun pengkhianatan orang terdekatnya menyalakan kembali keberaniannya. Muncul berlipat-lipat keberanian baru. Memeluk segala kesedihan dan masa lalu yang menyesekkan. Pulang kembali kepada panggilan Tuhan. Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang ditempuh, Tuhan selalu memanggil untuk pulang.Novel ini berlatar belakang kegiatan ekonomi illegal atau ekonomi bayangan yang memang sudah bukan hal tabu lagi. Pasti ada, namun tak banyak yang tahu atau tak mau tau. Meskipun tentang kegiatan ekonomi tapi dikisahkan dengan sederhana sehingga sangat mudah dimengerti oleh pembaca. Alur maju-mundur yang disampaikan penulis dalam bercerita sama sekali tidak membosankan dan tidak membuat bingung pembaca. Penulis sangat sistematis dalam merangkai cerita sehingga pembaca dapat menemukan benang merahnya dengan mudah. Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama yang membuat emosi dan penyampaian yang baik sehingga dapat dinikmati oleh pembaca. Pembaca seolah merasakan pertarungan-pertarungan yang dilakukan oleh Bujang. Karakter Bujang atau Si Babi Hutan yang kuat, tangguh, disiplin dan segala sikap yang mempertegas karakter digambarkan dengan apik. Juga tokoh pendukung lainnya, seperti Bapak, Mamak, Tauke Besar, dan Basyir dan yang lainnya yang menghidupkan suasana digambarkan secara sederhana namun jelas, memberikan nilai-nilai moral bagi pembaca.Menurut saya, novel ini cocok sekali untuk dibaca oleh semua kalangan usia. Tua maupun muda, perempuan maupun laki-laki. Sebab novel PULANG ini bagus dijadikan bahan kontemplasi― perenungan. Jadi kemanakah kita akan pulang?

Nindi Aulia Rahmah
Cirebon, 16 Desember 2015

*review singkat pernah dimuar di Instagram Komunitas Pecandu Buku @pecandubuku
Link : https://www.instagram.com/p/817qUdEp_u/

Selasa, 15 Desember 2015

Secuil Kenangan

Ketika telingaku menangkap getar gelombang suaramu, gemetar hatiku. Memoriku langsung memutar ulang kebersamaan kita di malam panjang yang hangat itu. Tentang mimpi-mimpi, angan-angan dan doaku yang hingga kini belum sempat dikabulNya. Tapi tidak apa. 😊
Dingin napasmu dan kaku pelukku masih kurasa. Melihatmu bahagia saja sudah kusyukuri dengan sangat. Bahagialah, impianku!☺

Untukmu yang semenjak hari itu hati ini milikmu.
Kampus GT, 3 Desember 2015.

Selasa, 08 Desember 2015

Kamu ada dimana-mana

Aku mendengar namamu di sela bisikan angin yang mencumbu hangatnya daun dan reranting rambutan. Di pucuk puring yang menguning dan gugur kembang kemuning. Bau tanah basah lepas kemarau panjang dan cahaya kilat memanjang membelah langit yang abu-abu, mendung warnanya. Musim penghujan adalah musim pemutar kenangan. Di rinai rintiknya, di setiap tetesnya adalah bilur tawa dan air mata.
Adalah namamu yang aku ingat dari bisingnya lebah sedang merayu bunga anggrek violet yang menggantung di dahan pohon jambu.
Rindu. Adakah cara lain selain aku menikmati kontemplasi ini?
Lihat, dengar dan rasakan. Mengapa kau ada dimana-mana? Ternyata kau memiliki satu ruang khusus di hatiku.

Beber, 25 November 2015

Senin, 21 September 2015

LELAKI DI BALIK JENDELA

Lelaki Di Balik Jendela 
Oleh, Nindi Aulia Rahmah

               Dari balik kaca jendela aku mengamati figurnya. Sosok yang tidak terlalu tinggi dengan bahu yang tegap. Punggung yang bidang dan kukuh. Potongan rambut yang aku hafal betul itu miliknya, sekalipun dari jauh aku memandang, sekalipun ia berada dalam keramaian. Kornea mataku meski minus mampu melihatnya sempurna, dengan hati.
            Aku mulai menyadari bahwa ada perasaan yang ganjil acap kali aku melihat sosok lelaki itu di balik jendela. Dimanapun, aku melihatnya di balik jendela. Kadang, aku melihatnya sedang berjalan di parkiran dari jendela kelasku di lantai tiga. Kadang aku melihatnya di balik jendela sedang berjalan di koridor seorang diri menenteng tas dan kamera slr menggantung di lehernya. Sering juga aku melihatnya dari balik jendela ketika ia sedang rapat dengan komunitasnya. Apakah perasaan ganjil itu bernama cinta? Tapi mengapa hanya muncul ketika aku melihatnya dari balik jendela? Hanya dari balik jendela.
            Sebenarnya, aku tidak sungguh-sungguh  melihat dia dari balik jendela saja. Karena, aku dan dia juga berada dalam zona yang sama. Sama-sama aktifis kampus. Intensitas pertemuanku dengannya terbilang sering. Diskusi atau sekedar sapa-menyapa pun rutin dilakukan. Tetapi entah kenapa aku lebih menyukainya ketika ia ada di balik jendela. Karena dari balik jendela, aku mampu mencintai sosoknya tanpa diketahui siapapun. Dari balik jendela aku mampu mencintai dia apa adanya, mencintainya dengan duniaku sendiri.
            Tak terhitung berapa bisikan cinta yang kusampaikan dari balik jendela yang akhirnya hanya berupa embun yang menempel di kaca karena tak mampu melaju menuju daun telinganya. Karena selalu ada yang terasa jauh, setiap kali aku melihatnya dari balik jendela. Sesuatu yang sebetulnya aku merasa dekat namun tak berani kuraih dengan tanganku agar tak pergi lagi. Padahal dia ada disana, berwujud, tampak, bukan hanya berupa angan semuku saja. Dia ada dan nyata, tapi tak mampu membuatku beranjak untuk coba kuraih dan kumiliki.
            Aku lebih suka disini, duduk, mencintainya dibalik jendela. Apakah jendela hanya milik orang-orang yang kalah dan putus asa dengan memilih duduk menunggu? Tidak. Aku hanya ingin melihat dia secara utuh. Membiarku menikmati dunianya dari duniaku.
***
            Sabtu sore. Koridor kampus lengang, beberapa mahasiswa terlihat sedang diskusi di kiri-kanan lorong. Sabtu memang jadwalnya diskusi. Kali ini nampaknya aku akan terlibat diskusi panjang dengan sosok yang sering kulihat dari balik jendela. Tetapi sebelumnya, aku harus harus berdiskusi dengan hatiku sendiri agar tetap tenang dan bersikap wajar ketika berhadapan dengan dia.
            Lima belas menit menjelang diskusi aku memesan kopi. Kopi tubruk tanpa gula. Sederhana dan tidak mahal tapi mampu menjernihkan pikiranmu, menenangkan hatimu. Sebab kopi tanpa gula adalah alami, itu akan membuat siapapun seperti terlahir kembali.
            “Hai Git, sudah siap belum untuk diskusi sore ini?”
            Astaga. Aku kaget hampir tersedak kopi yang sedang kuseruput. Lelaki yang sering kulihat dari balik jendela tiba-tiba duduk di depanku.
            “Eh, ngagetin aja lo! Semoga siap ya, doain aja. Materi udah aku pegang sih.” Jawabku sekenanya.
            Ia mengangguk. “Suka kopi juga ya, Git? Kelihatannya pahit banget.” Tanyanya kemudian sambil melirik ngeri ke cangkir di hadapannya.
            “Iya, ini kopi tubruk tanpa gula. Pahit memang tapi sedap. Mau?” tawarku.
            Dia menggeleng. Katanya, “Aku lebih suka susu, itu lebih sehat,” sambil tersenyum dan berlalu melambaikan tangan. “Duluan ya, Git.”
            Aku membalas lambaian tangannya. Dia sudah pergi, aku bernapas lega. Betapa terkejutnya aku ketika dia tiba-tiba ada di hadapanku.
            Namanya Teza. Setahuku tidak ada nama panjangnya. Hanya Teza. Tok. Tidak ada tambahan. Sepengamatanku lagi, hidupnya sehat. Tidak ngopi tidak merokok. Berbeda denganku, aku ngopi dan sangat addict pada kopi. Bahkan tiga bulan sekali aku pergi ke dokter gigi karena gigiku menguning oleh kafein. Meski tidak merokok tapi aku bergaul dan hidup di lingkungan manusia-manusia perokok, jadi setidaknya beberapa liter udara yang kuhisap berasal dari asap rokok, sebut aku perokok pasif.
            Namanya Teza, dialah sosok yang aku cintai dari balik jendela. Sama-sama aktifis kampus yang bergerak dibidang sosial. Kami seangkatan, satu fakultas hanya berbeda jurusan. Rutin bertemu dan diskusi setiap sabtu sore. Tetapi hari-hari biasa aku tetap bisa melihatnya dari balik jendela. Kecuali hari minggu, aku tidak pernah ke kampus jika hari minggu. Jadi selama seminggu, lima hari aku melihatnya dibalik jendela dan satu hari aku menatapnya di depan mata.
***
            “Bagaimana Git, ada pendapat tentang bergantinya status Indonesia dari Negara berkembang menjadi Negara maju?” Aldi, moderator diskusi sore itu, melempar pertanyaan kepadaku.
            “Bagiku itu omong kosong. Aku rasa itu hanya karangan elit politik saja untuk meninabobokan masyarakat  agar tidak khawatir akan krisis global yang sedang mengancam dunia”
            “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” Teza bertanya.
            Astaga. Kenapa dia yang bertanya. Sontak aku menatapnya dan gemuruh di hatiku tak bisa ku bendung. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati dan pikiran. Biarkan logikaku yang bekerja, simpan dulu perasaanku.
            “Nyatanya, di Negeri kita orang miskin semakin banyak saja dan orang kaya semakin berlimpah ruah. Mungkin ini yang dimaksud berubah dari berkembang menjadi maju. Si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya?” jawabku sesantai mungkin.
            “Tetapi pendapatan perkapita negara kita semakin tinggi, itu salah satu tolok ukur Negara maju.” Teza membantah seperti tak mau kalah.
            Aku lupa, dia adalah anak dari salah satu pejabat elit politik di negeri ini. Apapun pasti dia membela profesi ayahnya. Sudah kuduga, ini bakal jadi diskusi yang panjang.
            “Itu teori. Prakteknya? Kita bisa memanipulasinya. Tak terhitung berapa banyak angka yang mampu kita manipulasi dalam sebuah proposal, bukan?”
            “Aku setuju dengan pendapatan Sigit. Apalagi masalah demokrasi di negeri kita. Runyam!” Firman menimpali.
            Diskusi sore itu berlangsung panas. Otakku geram, emosiku memuncak, membahas negeri ini yang carut marut. Perasaan juga ikut carut marut. Teza mati-matian berargumen, aku juga mempertahankan opiniku. Tapi diskusi berakhir dengan kesimpulan bahwa forum diskusi kami harus mampu menyumbang ide, gagasan atau apapun untuk Negeri yang sedang sekarat ini. Sebab kami mengkritisi bukan hanya mengkritik.
***
            Semenjak diskusi sabtu sore itu, Teza jadi lebih sering menyapaku. Aku jadi jarang melihatnya di balik jendela. Aku seperti tak punya kesempatan mengintipnya dari celah kecil jendela kampus. Aku seperti kehilangan dunia milikku sendiri. Sekat yang kubuat tinggi agar tak seorangpun mampu melewatinya. Pagar yang kubuat rapat agar tak seorangpun membebat dengan alasan apapun, karena aku melakukannya secara diam-diam. Aku susah payah membuat batas yang kuciptakan dari duniaku yang lain.
            Tetapi, mengapa aku tak bisa memunculkan perasaan cinta itu ketika Teza ada di hadapanku? Rasanya seperti berdosa jika aku mendapati ia ada di depan mataku. Aku berusaha menghindari obrolan panjang dengannya, hanya karena aku takut itu justru akan membuatku semakin jatuh pada pesonanya. Bukankah etika berbincang yang baik adalah dengan saling balas menatap? Aku takut Teza akan menemukan sesuatu yang kusembunyikan untuknya, di mataku.
            Kamis siang, gerimis turun. Aku menepi di sisi koridor, di situ disediakan banyak bangku. Aku duduk disalah satu bangku. Sudah tidak ada jadwal kuliah. Di ujung koridor, ku lihat ia sedang berjalan menuju arahku. Hatiku membuncah, ada tegang namun banyak senang. Dadaku kembang kempis. Otakku bekerja memikirkan apa yang harus kukatakan lebih dulu. Sialnya, akibat gerimis otakku jadi minimalis. Teza lebih dulu sampai di hadapanku.
            “Hey Git,” Sapanya.
            “Hey.” Kujawab
            “Sendiri?”
            “Yap. Kamu?”           
            “Oh. Enggak, ini aku sama pacarku. Dia lagi ngobrol sama temannya.”
            “Ooh..” kujawab.
            Jadi ini yang baru kusadari. Setiap kali aku melihatnya utuh di hadapanku sendiri. Ada sesak yang menjelma dan mengabut di dada. Alasan mengapa akhirnya aku memilih hanya mencintainya dari balik jendela. Biar, biarkanlah aku hanya mencintanya dari balik jendela. Aku bebas memilih dari celah mana aku melihatnya. Sebab aku tahu, selalu ada tangan yang ia genggam ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan itu amat menyakitkan.

*penulis bisa dihubungi di akun twitter: @nindiarh
terbit di Harian Radar Cirebon, 6 September