boleh bisa apasaja termasuk menulis, boleh tidak bisa apasaja kecuali menulis - Seno Gumira Ajidarma
Senin, 12 Agustus 2019
Menjadi jahat
Pertama-tama, aku ucapkan selamat berlebaran idul adha bagi kamu semua yang merayakannya.
Apa yang kamu kurbankan tahun ini?
Aku berkurban tahun ini.
Aku mengorbankan perasaan yang sesungguhnya belum aku miliki.
Di hari raya kemarin, aku mengambil peran sebagai perempuan jahat. Aku mungkin saja telah menyakiti seorang pria, yang padahal (mungkin saja) dengan tulus, menyayangiku. Aku juga tidak tahu perasaan dia yang sesungguhnya. Siapa memang yang tahu kedalaman hati seorang manusia?
Kalau kamu pria itu, dan kebetulan kamu membaca ini. Tolong maafkan aku, dan mari kita terus berteman. Aku tidak ingin kehilangan orang baik di hidupku. Maafkan aku, sekali ini saja.
***
Rabu, 29 Agustus 2018
Puisi untuk kamu
aku ingin bilang bahwa aku mencintaimu,
tapi aku kecewa pada bahasaku yang terbatas
sehingga aku kesulitan mengutarakannya
aku mencintaimu
mengagumi tak hanya parasmu
tapi utuhnya kamu sebagai dirimu
aku mengagumi keberanianmu, pikiranmu, sikapmu, sopanmu, tutur bahasamu dan leluconmu yang kadang tidak lucu itu
aku mencintai segala yang ada pada dirimu
aku mencintaimu di luar dugaanku
bahkan ketika kupikir ini hanya euphoria sesaat
atau meski aku merasa begitu kerdil di hadapanmu, karena tidak mampu mengimbangi kamu dan mimpimu
aku tetap mencintaimu
di luar ruang dan waktu
terus mengembang seperti nebula di jagat raya
aku sungguh mencintaimu
hingga sesuatu yang sembunyi pada diriku berkata, "aku harus menunggumu, aku ingin menikah denganmu"
tapi aku tak berani bilang padamu
Beber, 29 Agustus 2018
Jumat, 20 Juli 2018
Celoteh Nindis: Toxic Friend
Halo.
Gue mau curhat.
Gue gak habis pikir sama "jalan pikiran" manusia yang seolah-olah dia tahu segalanya, dia lebih hebat, dia merasa lebih deh pokoknya.
Mau itu temen lo yang udah lama kenal, atau cuma sebatas teman doang, atau kenalan doang. Tetep sih buat gue manusia yang jenisnya kek gitu adalah manusia paling nyebelin.
Dia ngerasa, "gue lebih tahu segala hal dibanding lo, dengerin deh apa kata gue" dengan penekanan kalimat yang mengintimidasi dan terkesan merendahkan. Lah dikata kita orang gak tau apa-apa tentang dunia ini?
Padahal ya padahal, secara sosialisasi gue rasa yang paling banyak teman dari berbagai kalangan ya gue. Yang paling sering wara-wiri ya gue. Dibanding dia loh.
Ya namanya juga sifat atau watak orang, emang susah diilangin. Harusnya sih, tipe-tipe orang kek gini tuh kita harus bikin jarak supaya gak akrab-akrab banget. Tapi, herannya gue bener-bener tulus temanan sama dia. Dia dapet kabar baik, bla bla. Gue seneng. Tapi nih orang, gue punya kabar baik dsb, seolah gue dilarang melebihi pencapaian dia.
Jujur sih, temenan ama dia agak menyebalkan. But, namanya temen ya temen. Plus lu udah lama kenal. Dia tau buluknya kita gimana.
Namanya temen ya temen. Ga sesempurna yang lu mau. Yaudah sih gitu aja.
Sabtu, 09 Juni 2018
Celoteh Nindis; Sosmed = hiburan + pukulan
Dunia sosmed atau dunia maya, bisa jadi sarana hiburan dan pukulan.
Jadi hiburan kalau ketemu akun dengan konten yang lucu bikin terhibhr, jadi termotivasi kalau ketemu akun dengan konten positif, jadi teredukasi kalau ketemu akun yang konsen dengan pengetahuan dan wawasan.
Tapi, jadi pukulan kalau ketemu akun kawan lama yang sudah menikah, punya anak dan terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya.
Iya. Temen-temen sekolahku dari mulai SD sampe Kuliah ini, sudah banyak yang menikah. Ketika buka sosmed, dan pas banget mereka-mereka ini posting kebahagiaan mereka dengan keluarga kecilnya. Dalam hati cuma bisa ngucap, "Ya Allah, bahagia banget ya dia udah nikah dan punya bayi. Lucuk bgt pula bayinya."
Nindi ngiri?
ENGGA.
Nindi pengin nikah ya?
Ya iyalah. Pengin nikah, pengin punya anak, pengin berkeluarga dan bahagia.
Tapi rencana menikah masih jauh dalam benak seorang Nindi. Saat ini, rupanya aku cuma belum terbiasa ngontrol emosi agar enggak gampang baper untuk melihat teman-teman yang udah berkeluarga. Rasanya kayak terharu aja, lihat mereka sudah berkeluarga dan bahagia.
Kayak dalam pikiranku muncul perasaan, "dia udah, nanti kamu ya Nin. Tunggu aja giliranmu"
Nah, begitu.
Belum ada rencana menikah untuk waktu dekat ini. Masih banyak yang harus aku bayar dulu untuk keluarga. Masih ingin menikmati masa apa-apa sendiri, kemana-mana sendiri, ngapain-ngapain sendiri, dan waktu sendiri.
Tapi sungguh deh, kalau buka sosmed, lalu muncul "hal-hal demikian", aku langsung merasa terpukul. Haruskah aku berhenti dari dunia sosmed ini? Hm :(
Kamis, 07 Juni 2018
Ditinggal seseorang yang cukup berarti di hidup seorang Nindi
Sekitar habis adzan isya, gw lagi siap-siap mau bikin kue untuk hari raya ntar. Pas lagi ngayak gula halus, tiba-tiba aja dapet telepon dari bibi.
"Teh, Wa Haji Walim meninggal"
Jleb. Sakit banget.
Ngerasa bersalah terhadap 2 hal.
Satu, karena belum sempet jengukin Uwa, padahal udah tau beliau masuk ICU dari beberapa hari lalu. Dua, karena kemaren-kemaren dengan "jahatnya" gw ngebayangin 'nanti gimana ya lebaran, pas ziarah ke makam yang pimpin doa siapa, kalau Uwa Haji masih sakit?' bukan malah mendoakannya terlebih dulu. Uwa, maafin Nindi.
Uwa Walim, dua hari sebelum sidang skripsi beliau ke rumah. Sengaja, ingin ngobrol sm Nindi. Banyak yang diobrolin, banyak nasehat yang dikasih Uwa. Intinya, gw harus segera nyelesain kuliah, apapun halangannya. Kalau bisa kuliah lagi!
Uwa Walim ini, salah satu orang yang selalu ngedukung gw. Waktu lulus SMA, gw gak lolos snmptn. Dengan gampangnya beliau bilang, "nih buru beli pin ke bank, sana ikutan sbm" tapi gw tolak karena gw emang gak niat utk sbm. Besok-besoknya, beliau datang lagi ke gw dan lagi-lagi bilang, "sana ikutan UM Unnes, nih ongkosnya". Sayangnya gw saat itu gak ada semangat jadi gw tolak lagi.
Jadi inget, dulu waktu masih kecil, belajar ngaji sama Uwa Walim. Dimarahin karena salah bacaannya. Pokoknya, Uwa ini insyaAllah salah satu yang cukup berarti utk Nindi.
Dan, sekarang Uwa udah enggak ada. Sedih banget. Kemarin tarawih di imamin 4 rakaat sama Uwa, Alhamdulillah.
Semoga uwa tenang di sisi Allah, uwa udah enggak ngerasain sakit lagi. InsyaAllah.
Uwa, terima kasih. Sampai jumpa agi, InsyaAllah.
Beber, 6 Juni 2018.
Senin, 26 Maret 2018
Aku dan Menikah
Sekitar kelas 2 SMA, aku pernah berujar ke temanku, "aku pengin nikah muda".
Lalu setelah lulus SMA, aku memilih kuliah dibanding lgsg bekerja. Kemudian, aku lupa dengan keinginan menikah muda itu. Dunia kampus membuatku asik sendiri.
Sekarang, ketika usiaku di masyarakat dipandang sudah cukup umur untuk menikah karena banyak teman-teman seangkatanku bahkan angkatan di bawahku sudah menikah, keinginan itu kembali menggelitik hatiku.
Saat aku memikirkan ingin menikah muda, usiaku masih 16 tahun. Aku mengalami banyak hal. Bibiku yang sudah menikah, dan punya anak, kuurus anaknya sejak bayi. Kakak-kakak sepupuku, menikah dan punya anak, lucu menggemaskan. Kuurus dan kusayang.
Tapi, mereka, bayi-bayi itu tumbuh besar, punya teman, lalu lupa dengan aku. Posisiku hanya sebagai tante atau teteh untuk mereka. Sedih. Aku ingin jadi seseorang yang amat 'bayi-bayi' itu sayang.
Jadilah aku kepikiran ingin punya anak, di usiaku yang 17 saja belum.
Aku ingin menikah muda saat itu, karena aku ingin bayi, aku ingin mengurus anak. Impianku saat itu ingin menjadi Ibu, seseorang yang amat sangat penting, berarti dan dicintai si bayi. Sederhana kan.
Tapi impian menikah muda itu, ya cuma mimpi. Karena sekarang, memang sudah usianya untuk menikah. Jadi, kalaupun aku menikah dalam waktu dekat ini, sudah tidak bisa dibilang nikah muda. Hehehe.
Tetapi, impian untuk menjadi ibu yang baik untuk bayi-bayiku gak akan pernah hilang. Kalau dipikir-pikir, sepertinya itu adalah impian terbesarku. Dibanding dengan karir lainnya, jadi ibu adalah cita-citaku.
Allah yang baik, semoga Engkau mengabulkan mimpi besar ku ini. Setepatnya saja ya Allah, terserah Engkau. Allah, Engkaulah yang paling tahu bagaimana baik atau buruknya untukku. ❤❤
Rabu, 14 Februari 2018
hujan di bulan februari
Halo Februari
Terlambat sekali menyapamu
Setiap orang adalah cinta pertama bagi orang lain. Aku penasaran, apakah aku menjadi cinta pertama bagi seseorang? Siapakah dia? Dekatkah ia di hidupku?
Februari
Kali ini, izinkan aku sedikit berterimakasih kepada luka-luka, rasa sakit karena dikhianati, perasaan kecewa, marah dan segumpal perasaan tidak sehat lainnya yang pernah aku rasakan
Terimakasih, patah hati. Berkatmu aku mengerti, ada harga yang harus dibayar mahal untuk sebuah pendewasaan.
Dan, setiap orang pasti pernah mengalami patah hati, sakit hati. Entah patah hati karena orang yang dicintai, atau mematahkan hatinya sendiri.
Aku keduanya.
Pernah aku mematahkan hatiku sendiri. Aku berhenti mengasihi, tapi tidak bisa membenci. Aku mematahkan hatiku sendiri hanya karena tidak ingin berharap lebih dari apa yang mampu seseorang itu beri. Kemudian aku memilih mematahkan hatiku, entah bagaimana caranya, aku mendapati diriku terluka tapi tidak ada bekasnya di tubuhku. Berkali-kali aku mematahkan hatiku, untuk orang yang sama.
Harus kau tahu, aku ini tipikal orang yang lurus-lurus saja. Aku ini setia pada satu.
Sekali waktu, hatiku dipatahkan oleh seseorang. Seseorang yang lain. Kala itu, aku mencoba merekatkan kembali patahan hatiku, seseorang yang lain itu datang. Katanya ia mau membantu. Tapi ia malah menambahkan cidera yang lain, di hatiku.
Bagaimana rasanya dikhianati? Sekali, aku bisa memaafkan. Dua kali, aku mungkin maklum. Tiga kali, aku ingin berhenti. Aku tidak ingin terikat pada hubungan yang justru membuat hatiku ngilu.
Mungkin aku tidak cantik. Tidak mengapa karena memang. Tapi, bukan karena fisikku tidak sebagus yang dimau, aku jadi disakiti seenaknya. Nanti, kutunjukan aku memiliki sesuatu yang cantik, yang saat itu tidak disadarinya.
Sudah cukup. Aku malah jadi melantur. Poin penting dari tulisan ini adalah,
aku memang belum lupa pada semua rasa sakit, kecewa, amarah yang pernah aku rasakan. Tapi, dari semua itu aku belajar. Bahwa, satu-satunya yang bisa diandalkan untuk melindungiku ya diriku sendiri. satu-satunya yang bisa dipercaya untuk menjaga perasaanku ya diriku sendiri.
meminta dan mengharap pada seseorang, kalau dia tidak menghendakinya, kita yang kecewa. Tahi kucing dengan komitmen. Setiap individu ingin merdeka. Aku, kamu, ingin bebas. Bukankah begitu? Hehehe
Saat ini, aku begitu. Aku ingin bebas.
Perempuan merdeka,
merdeka dari rasa sakit hati
merdeka dari penjajahan perasaan
merdeka dari pertanyaan "kapan nikah?"
*if you know what i mean* :)))))