terbit di Harian Radar Cirebon, 6 September
boleh bisa apasaja termasuk menulis, boleh tidak bisa apasaja kecuali menulis - Seno Gumira Ajidarma
Senin, 21 September 2015
LELAKI DI BALIK JENDELA
terbit di Harian Radar Cirebon, 6 September
Jumat, 18 September 2015
Dear Dude
Kau tahu, Dude.
kemarin sore saat kau tidak ada, ada suatu peristiwa kecil di parkiran kampus. Sebenarnya tidak apa-apa, tidak masalah. Tapi kau tentu tahu, kelakuan teman-teman kita? Sungguh, mereka memperolok-olok aku. Malu. Salah tingkah. Sesak. Kesal. Juga sesal.
Seketika hati dan pikirku mengatakan: andai saja kau ada disini. Aku tidak akan bertingkah sememalukan kemarin. Rasanya kalau kau ada, dude, semua jadi lebih terkendali. Kau amat mengertiku. Aku merasa nyaman dan tenang. Aku merasa akan baik-baik saja denganmu, dude. Tapi dimana kamu disaat aku mau?
Sampai tulisan ini aku buat, belum sempat kusampaikan kepadamu perihal ini. Aku tidak berani. Aku takut mengambil waktumu. Lagi pula kita hanya teman. Tak ada kesepakatan apapun.
Kau tahu Dude..
Aku ingin bersamamu seperti malam itu, dalam dingin dalam derasnya hujan meraba jalan pulang. Tak apa tidak harum, aku sudah suka kamu.
Dan semenjak hari itu, hati ini milikmu. ☺
18 September 2015
Senin, 14 September 2015
Aku juga ingin mengunjungi Negeri Senja
Aku juga ingin mengunjungi Negeri Senja
Untuk Seno Gumira Ajidarma
Fantasiku meliar tatkala kuselesaikan mengeja satu per satu huruf dalam Tujuan Negeri Senja-mu, Pak.
Aku ingin mendapati diriku sedang berada di Stasiun Tugu dan mengantre di loket itu. Pergi ke Negeri Senja. Negeri yang gemerlap gemilang.
Tak apa tak kembali. Sebab aku muak dengan hidupku sekarang. Aku mendamba kedamaian. Barangkali di sana kutemukan?
Berapa harga tiketnya?
Aku pesan satu. Atau dua, tiga, mungkin empat.
Ternyata aku masih takut pergi sendiri.
Barangkali Mama, Bapak dan Fasya hendak ikut.
Aku membayangkan duduk bahagia dalam kereta kemilau. Roda kereta yang berdecit mencumbu rel dengan hangatnya, perlahan berangkat menuju Negeri Senja. Kereta kemilau yang bercahaya memancarkan warna senja. Ada aku di dalamnya, duduk tenang menjemput keabadian.
Terimakasih, pak. Telah mengenalkan aku pada Negeri Senja. Maaf sebelumnya aku memanggilmu, Pak.
Jumat, 11 September 2015
Berterusteranglah!
Aku merasa ada yang salah diantara kita. Jika iya, seperti apa yang kuduga, berterusteranglah. Mungkin jalan kita akan mudah. Namun kalau ini hanya sebatas perasaanku saja, mengapa kita harus begini?
Ada sesal yang entah datang darimana, menyadari ulahku kemarin ternyata membuatmu sedingin sekarang.
Harus kau tahu, apa yang dilihat tak sama seperti apa yang kau pikirkan.
Aku benci curiga. Aku tak suka menduga. Berterusteranglah!
Atau haruskah aku yang bilang terlebih dahulu?
Aku cinta padamu♥
Beber, 11 September 2015
Untukmu yang semenjak hari itu, hati ini milikmu.
Senin, 31 Agustus 2015
Kontemplasi diri menjemput 'golden age'
Tulisan ini dibuat pada tanggal 28 Agustus, baru diposting sekarang. Ingin menumpahkan kegelisahan yang merajam diriku. Heheheh
Selarut ini aku belum bisa memejamkan mata, menidurkan jiwa dan mendamaikan lelah. Tadi kulihat di smartphone bututku sekarang sudah pukul 23.14 WIB. Sudah kucoba terpejam tqpi pikirku melayang-layang. Sudah kujauhkan gadget, kumatikan lampu biar kamar jadi gelap tapi tetap susah terlelap. Padahal saat ku bercermin kala membersihkan wajah, mataku sudah bengkak merah-merah tanda ngantuk berat.
Sudah lebih kurang sebulan terakhir ini aku merasakan gelisah yang muntab luar biasa. Setiap menjelang tidur, aku selalu resah hingga terkadang baru bisa tidur menjelang subuh. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menangis tertidur di atas kasur, memeluk boneka besar hadiah ulangtahun ke 19 dari Mama. Tangisan yang tertahan. Sebab takut terdengar penghuni rumah lainnya.
Disela-sela tangisan, aku mengingat usiaku yang kian mendekati 20 tahun. Aku merasa usia 20 adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Tapi tak ada yang bisa aku banggakan di usia yang tidak lagi kanak-kanak. Entah kenapa aku mendadak jadi amat sentimentil. Rasanya hidupku begini-begini saja, aktivitas dalam pola yang itu-itu saja. Sekolah-duit-belajar-orang tua kerja dan aku belum menghasilkan apa-apa.
Menjelang usia 20, entah kenapa aku menjadi lebih cengeng dari biasanya. Jauh dari Mama, menangis semalaman. Mata bengkak. Tidur kurang. Berkabar dengan Bapak, kemudian tahu Bapak tengah malam masih bekerja. Menangislah sejadi-jadinya. Merasa bersalah telah lahir ke bumi. Tahu kalau ternyata aku lahir hanya akan membebani (meski aku yakin sebenarnya Mama dan Bapak menanggapku bukan beban, tapi entahlah), aku memilih untuk tidak dilahirkan. Akan lebih memilih gugur membusuk di lauhul mahfudz sebelum sempat terkurung di rahim Mama.
Atau setidaknya nasib kami sedikit lebih baik dari ini? Aku merasa tidak kekurangan, semua aku Alhamdulillah-kan saja. Tapi kalau sedikit saja lebih baik, kan Bapak dan Mama tidak perlu bekerja terlalu keras. Bagaimana kalau kami tinggal memetik emas dari sebuah pohon lalu kami jual? Jadi tidak perlu lagi Bapak dan Mama capek-capek bekerja. Hehehe. Tetapi, apapun yang Tuhan gariskan untuk aku, sungguh aku ridho. InsyaAllah, ikhlas.
Mungkin, kegelisahan yang belakangan menyergap jiwaku ini adalah sebuah bentuk kontemplasi diri. Perenungan. Tentang bagaimana aku harusnya bersikap lebih bijak. Bukankan usia 20 sudah harus dipandang dewasa? Dewasa dalam segala hal. Bijak menghadapi kehidupan. Mandiri untuk menyosong masa depan.
Mama, Bapak, Nindi mohon kepada Mama dan Bapaj untuk bersabar sedikit lebih lama lagi. Kuatlah terus hingga hari itu tiba. Tapi, akan Nindi pastikan hari itu akan sesegera mungkin tiba. Hari dimana Mama dan Bapak tak usah lagi bekerja terlalu lelah. Tak usah! Banyak-banyaklah santai di rumah yang kita buat dengan cinta dan keringat. Nikmati usia yang semakin bertambah. Biar, biarlah Nindi yang mengambil alih. Biarkan Nindi yang bekerja keras. Tinggalah Nindi yang bertanggung jawab selaku anak tertua. Nindi janji Ma, Pak, hari itu akan segera tiba.
Love you Ma, Pak.
Terimakasih telah membesarkan Nindi.
I just wanna love you all mylife, Mama Bapak Fasya ♥♥
*usia 20 bagiku golden age. Harus bisa lebih produktif. Hehehe
Rabu, 19 Agustus 2015
Puisi untuk Bapak; Selamat Ulang Tahun, Supermanku!
Diatas roda raksasa, dibalik kemudi. Peluhmu juga lelahmu mengkristal dengan niat yang kau hendaki. Bapak, istirahatlah sebentar. Sini kubuatkan kopi hitam yang sedikit manis, untuk pulihkan tenagamu.
Selagi aku membuat kopi, mandilah Bapak. Basuh tubuhmu yang berdebu, ganti pakaianmu yang lusuh akibat berhari-hari kau kenakan. Keramaslah Bapak, nanti kucabuti ubanmu.
Nikmatilah secangkir kopi yang gadismu buat, Bapak. Lalu kita ngobrol sebentar. Kumohon dalam percakapan kali ini, jangan anggap aku masih berusia lima. Gadismu sudah menjelma dewasa, Bapak.
Nikmati kopimu, seruputlah perlahan-lahan
Jangan cepat-cepat, sebab obrolan kita akan panjang. Jangan pasang wajah serius, Bapak. Anakmu ingin bercanda gurau seperti hari-hari terbaik kita. Tetapi hari-hari kita selalu terbaik, ya Bapak.
Beberapa tahun yang akan datang, gadismu ini akan dipinang seseorang. Entah tetangga sendiri atau jauh dari seberang. Tolong Bapak pilihkan yang terbaik untuk anak sulungmu.
Mari kita putar sedikit kenangan manis kita, Bapak. Betapa lucunya aku dulu digendong kemana-mana oleh engkau. Digelitiki kumismu, dipangku, dicium dan dimanja engkau. Katanya anak pertama memang mirip dengan Bapaknya. Tiadalah salah perihal itu, wajahku tegas mewarisi wajahmu, Bapak. Alis mataku tebal bak ulat bulu. Mata cokelatku, kulit cokelatku, tinggi badanku.
Akan ku ingat betul, perjuangan-perjuangan Bapak demi menyekolahkanku. Akan kuingat masa-masa sulit kita dulu. Dulu, aku begitu abai akan hadirmu. Sekarang, betapa hadirmu begitu aku rindu.
Meski lebih sering diam, dan tak berkomentar banyak. Tapi aku tahu, kauamat menyayangiku. Bapak amat khawatir dengan keadaanku. Kemarin, baru kutahu sisi lainmu. Betapa menyakitkan, hingga aku merasa dendam. Entah benar atau salah.
Bapak yang tercinta, terimakasih atas segalanya. Percayalah Pak, tiada peluh yang tercurah percuma, tiada usaha yang sia-sia. Percayalah Bapak, akan tiba masanya kau menikmati jeri payahmu. Akan terus kuusahakan kebahagianmu, kebahagian keluarga kecil kita. Akan terus kuusahakan menjadi kebanggaanmu, memenuhi pintamu, juga memenuhi segala janji.
Harus Bapak tahu, di dunia ini hanya ada satu lelaki yang tidak pernah membuatku kecewa dan itu adalah engkau, Bapak. Hanya ada satu lelaki yang gagah dan bertanggung jawab, yang tidak pernah menyakitiku dan itu hanyalah Bapak, yang bahkan rela menyakiti tubuh sendiri demi kebahagian anaknya.
Maafkan aku Bapak. Bersabarlah sedikit lagi, sebentar lagi. Akan kuusahakan yang terbaik bagi kita. Harus Bapak tahu, aku mencintai Bapak lebih dari apapun!
Aku cinta padamu, Bapak.
Selamat ulang tahun, Superman-ku!
*19082015
Selamat mengulang tahun lahir ke-42 ☺😍😘😚
Senin, 15 Juni 2015
Secangkir Kopi, Teh dan Obrolan Jelang Pernikahan
Sementara saat usiaku 9 tahun, aku mengenal kopi tubruk. Kopi tubruk tanpa gula kesukaan Bapak, minuman favoritnya ketika sarapan, makan siang, sore hari dan makan malam. Tak sekalipun Bapak melewatkan si kopi tubruk. Bapak mengizinkan aku berkenalan dengan pahitnya rasa kopi sebagai bagian dari keasyikan menikmati hidup. Bapak bilang, dia lebih suka segala sesuatu sesuai dengan kodratnya, seperti kopi yang dibiarkan tetap pahit tanpa gula tanpa pemanis. Kopi. Lagi-lagi kopi dan selalu kopi yang dibicarakan kalau sedang dengan Bapak. Kata Bapak lagi, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia.
Kopi tubruk di pagi hari dapat menentukan suasana hati Bapak selama 1440 menit ke depan. Tapi saat itu, di usiaku yang 9 tahun, aku tidak dibolehkan mencecap rasa si kopi tubruk karena takut kandungan kafeinnya belum mampu ditopang oleh tubuhku yang masih kecil, sebagai gantinya aku hanya diizinkan untuk menghirup aromanya.
Aroma kopi tubruk Bapak begitu kuat, karena aku bisa menciumnya dari kamar tidurku. Kopi ini telah menempuh proses panjang hingga akhirnya ia menghuni sebuah toples milik Bapak, yang kemudian dipindahkan kedalam gelas dan ditimpa air mendidih. Mengendaplah kopi dalam gelas kaca yang hendak diseruput oleh Bapak. Ada banyak toples yang berjejer rapi di lemari dapur, berisi berjenis-jenis kopi. Seyogianya memang penikmat kopi pasti akan mengoleksi bermacam jenis kopi. Sampai-sampai bau ciuman Bapak di pipiku adalah bau kopi hitam; harum yang menguasai ruang yang tak mudah pergi.
Hingga pada usiaku yang ke 13, barulah aku diperkenankan mencicipi pahitnya kopi. Lidahku tidak menolak tetapi lambungku butuh sedikit adaptasi. Aku tidak bilang aku tidak suka kopi atau teh. Aku mencintai keduanya sama seperti aku mencintai Ibu dan Bapak.
Aku mencintai teh melati seperti aku mencintai Ibu. Di dalam secangkir teh melati aku melihat wajah Ibu. Cokelat, keruh, berbintik hitam tapi tetap menghangatkan dan memberi ketentraman. Di hangatnya secangkir teh dan harum aromanya, aku melihat Ibu dan segala kasih sayangnya. Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu meminum teh melati hangat. Sebab selain memberikan kenyamanan, kehangatan dan ketentraman, meneguk teh melati seperti membawaku pulang ke rahim ibu, tempat paling nyaman untuk meringkuk sendirian.
Sedang kopi hitam, aku mencintainya seperti aku mencintai Bapak. Bagi seorang anak perempuan sepertiku, Bapak adalah cinta pertamanya. Alasan mengapa anak perempuan mencintai bapaknya adalah bahwa setidaknya ada satu lelaki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitinya, tidak akan pernah mengecewakannya.
Pernah pada suatu pagi hari di penghujung bulan yang gerimis, ketika Ibu sedang menyeduh teh, kopi dan susu secara bersamaan. Ketika Bapak sedang membaca sebuah buku sastra, aku bertanya kepada Bapak mengapa ia begitu mencintai kopi, dan Bapak menjawab,
“Kata Jokpin, kurang atau lebih setiap rejeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”
Aku mengerutkan kening, berusaha memahami kalimat Bapak. “Siapa Jokpin?” tanyaku akhirnya.
“Joko Pinurbo, disingkat Jokpin. Dia adalah penyair, penulis. Dia sastrawan”
“Seperti Bapak?”
“Iya, seperti Bapak” tiba-tiba Ibu ikut menyahut dalam obrolanku dengan Bapak. Aku mengangguk-angguk, tidak bertanya lagi karena Ibu sudah membawakan senampan sarapan kami. Perpaduan teh melati, kopi dan susu cokelat di meja makan. Dengan goreng pisang dan roti bakar, di penghujung bulan, pagi yang gerimis.
Seiring dengan aku terus tumbuh dan bertambah usia. Sejalan dengan aku memahami hakikat kopi dalam hidup Bapak dan teh pada diri Ibu. Aku mulai memahami pekerjaan keduanya. Aku mengenal sastra dari aroma kopi milik Bapak, dan mengenal untung-rugi dari wangi teh melati milik Ibu.
Bapak biasa diundang dalam seminar-seminar, katanya Bapak sastrawan. Buku di ruang kerjanya berjejer rapi di rak. Kebanyakan cerita dan aku suka membaca. Sebelah rak dan lemari buku milik Bapak, ada meja kerja milik Ibu. Meja kerja ibu berisi banyak buku besar, komputer dan alat hitung. Buku-buku milik ibu tentang ekonomi, aku tidak terlalu suka. Katanya Ibu seorang akuntan.
Usiaku 13 tahun kala tahu pekerjaan kedua orangtuaku. Aku merasa bangga meski tidak tahu betul apa itu sastrawan dan akuntan.
***
Juni 2015. 3 bulan lagi usiaku dua puluh tahun tiga tahun. Bapak dan Ibu masih setia dengan kopi tubruk dan teh melati. Aku masih setia dengan tetap mencintai keduanya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati Ibu. Di usiaku yang sekarang, aku tidak lagi dianggap gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Aku sudah dipandang dewasa. Dewasa dalam menghadapi segala hal. Dewasa dalam menghadapi luka, bahagia dan segala permasalahan hidup.
Kata Bapak aku seperti Kopi, dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Sedang menurut Ibu aku seperti teh melati, memberi kenyamanan, ketentraman dalam damai.
3 bulan yang lalu, sebuah cincin melingkar dijari manis tangan kiriku. Dan 3 bulan yang akan datang, tepat di hari dimana aku genap berusia dua puluh tiga tahun, aku akan menikah. Dengan pria pilihanku yang mampu menggenapkan keganjilan dalam hidupku. Pria yang mampu mencintai kopi dan teh tanpa harus memilih.
Menjelang hari pernikahanku, Bapak dan Ibu kian sibuk mempersiapkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Setiap malam aku disuguhi wejangan ala kopi dan teh.
“Andita akan berkeluarga, Pak, Bu..” Kataku di sore hari yang hangat dengan secangkir kopi, teh dan susu dan sepiring pisang goreng.
“Gadisnya Ibu sudah besar, tau-tau besok sudah jadi istri orang, ya, Pak” Ibu tersenyum, melirik Bapak sambil menyeruput teh melatinya. Matanya memejam sebelum diminum, Ibu menghirup aroma kedamaian dari teh melati.
Bapak terkekeh, kemudian Bapak bilang, “Kata Agus Noor, pada kopi ada revolusi juga cinta yang tak pernah mati.”
“Maksudnya apa, Pak?” tanyaku.
“Bagi Bapak, kamu adalah kopi yang murni. Selain mahal juga rasanya nikmat, tak banyak yang bisa memiliki. Itu artinya spesial.” Bapak menjelaskan sambil sesekali menyeruput kopi tubruknya.
“Pada kopi ada revolusi, juga cinta yang tak pernah mati. Revolusi: perubahan. Kopi yang berupa biji berubah menjadi bubuk-bubuk tepung yang ada di toples, di dapur sana, kan? Nah, Bapak pernah bilang, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Begitulah kiranya, engkau, anakku. Andita sudah besar, sudah Bapak pupuk dengan kesabaran, pemahaman-pemahaman yang baik dan dimatangkan usia. Tetapi pada revolusi dirimu, anakku, ada cinta yang tak pernah mati dari Bapak, dari Ibu.”
Aku mengangguk-anggukan kepala, berusaha memahami nasehat Bapak. Nasehat ala sastrawan, wejangan a la kopi. Aku sungguh mencintai kopi seperti aku mencintai Bapak. Kulihat Ibu, dia tersenyum kemudian memelukku. Aku sungguh mencintai lembut dan harumnya teh melati, seperti aku mencintai Ibu.
“Andita, dari segelas teh ini, kamu akan tahu bagaimana hakikatnya sebuah teh bisa terasa.” Kali ini ibu yang akan memberikan wejangan a la teh. Ibu berkata sambil memegang cangkir teh melati favoritnya.
“Bagaimana, Bu?” tanyaku.
“Dari secangkir teh ini, kita akan tahu hangat dan nyamannya sebuah kedamaian. Dalam secangkir teh, kita seperti membaca ulang sebuah kalimat. Seperti kalimat panjang Bapak tadi, minum saja teh ini, kita seperti bisa mengulang semuanya. Kenapa? Karena teh selalu membuatmu alami. Itulah rahasia mengapa Ibu amat mencintai teh, sebab Ibu bisa membaca ulang semua hal. Nasihat Bapakmu, resep masakan, debet – kredit dan banyak hal lainnya.”
“Satu lagi, Andita” Lanjut Ibu, “Karena teh itu seperti mengenang setiap inci perjalanan, dan ketabahan hati. Coba ingat bagaimana proses pembuatan teh untuk kemudian ada di cangkir ini? Sama seperti kopi, menempuh proses yang maha panjang. Teh adalah kesederhanaan, tapi bukan sekadar minuman dalam tampilan sederhana dalam warna yang itu-itu saja. Hijau, coklat atau sedikit kemerahan dengan aroma yang tidak nyata namun terasa, kadang kuat atau samar. Pahit dan manis di beberapa bagian. Tapi teh tidak terlalu tajam, tidak pernah terlalu kuat, akan mengalir begitu saja untuk masuk ke dalam kerongkongan. Seperti cinta yang tidak kamu ketahui, yang tiba-tiba menatapmu lekat mengajakmu mengarungi masa depan, menjanjikanmu masa depan yang lebih baik, Andita.”
“Iya, Bu, Pak. Terimakasih. Andita cinta Bapak dan Ibu, seperti cinta kopi kepada teh atau sebaliknya. Cinta yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia, cinta yang alami, sederhana. Cinta yang tidak kita ketahui, tiba-tiba saja ia hadir.” Ucapku bergetar, kemudian memeluk keduanya. Harumnya kopi dan hangatnya teh berbaur dengan keringatku yang berbau susu.
Hari itu, aku tidak tahu mengapa aku bahagia sekali memiliki Bapak dan Ibu yang luar biasa romantisnya. Seperti tidak sedang menasehati putrinya yang hendak menikah, lebih seperti mengajak berpikir seorang teman yang akan memulai hidup baru dengan filosofi kopi dan teh dari masing-masing dirinya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati ibu.
Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan kuatnya kopi tubruk dari Bapak. Aku mencintai kopi dan teh seperti aku mencintai Bapak dan Ibu. Secangkir kopi, teh dan obrolan menjelang pernikahan.
*Penulis adalah mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unswagati