Jumat, 20 Juli 2018

Celoteh Nindis: Toxic Friend

Halo.
Gue mau curhat.
Gue gak habis pikir sama "jalan pikiran" manusia yang seolah-olah dia tahu segalanya, dia lebih hebat, dia merasa lebih deh pokoknya.
Mau itu temen lo yang udah lama kenal, atau cuma sebatas teman doang, atau kenalan doang. Tetep sih buat gue manusia yang jenisnya kek gitu adalah manusia paling nyebelin.

Dia ngerasa, "gue lebih tahu segala hal dibanding lo, dengerin deh apa kata gue" dengan penekanan kalimat yang mengintimidasi dan terkesan merendahkan. Lah dikata kita orang gak tau apa-apa tentang dunia ini?
Padahal ya padahal, secara sosialisasi gue rasa yang paling banyak teman dari berbagai kalangan ya gue. Yang paling sering wara-wiri ya gue. Dibanding dia loh.
Ya namanya juga sifat atau watak orang, emang susah diilangin. Harusnya sih, tipe-tipe orang kek gini tuh kita harus bikin jarak supaya gak akrab-akrab banget. Tapi, herannya gue bener-bener tulus temanan sama dia. Dia dapet kabar baik, bla bla. Gue seneng. Tapi nih orang, gue punya kabar baik dsb, seolah gue dilarang melebihi pencapaian dia.
Jujur sih, temenan ama dia agak menyebalkan. But, namanya temen ya temen. Plus lu udah lama kenal. Dia tau buluknya kita gimana.
Namanya temen ya temen. Ga sesempurna yang lu mau. Yaudah sih gitu aja.

Sabtu, 09 Juni 2018

Celoteh Nindis; Sosmed = hiburan + pukulan

Dunia sosmed atau dunia maya, bisa jadi sarana hiburan dan pukulan.

Jadi hiburan kalau ketemu akun dengan konten yang lucu bikin terhibhr, jadi termotivasi kalau ketemu akun dengan konten positif, jadi teredukasi kalau ketemu akun yang konsen dengan pengetahuan dan wawasan.

Tapi, jadi pukulan kalau ketemu akun kawan lama yang sudah menikah, punya anak dan terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya.

Iya. Temen-temen sekolahku dari mulai SD sampe Kuliah ini, sudah banyak yang menikah. Ketika buka sosmed, dan pas banget mereka-mereka ini posting kebahagiaan mereka dengan keluarga kecilnya. Dalam hati cuma bisa ngucap, "Ya Allah, bahagia banget ya dia udah nikah dan punya bayi. Lucuk bgt pula bayinya."

Nindi ngiri?
ENGGA.
Nindi pengin nikah ya?
Ya iyalah. Pengin nikah, pengin punya anak, pengin berkeluarga dan bahagia.

Tapi rencana menikah masih jauh dalam benak seorang Nindi. Saat ini, rupanya aku cuma belum terbiasa ngontrol emosi agar enggak gampang baper untuk melihat teman-teman yang udah berkeluarga. Rasanya kayak terharu aja, lihat mereka sudah berkeluarga dan bahagia.

Kayak dalam pikiranku muncul perasaan, "dia udah, nanti kamu ya Nin. Tunggu aja giliranmu"
Nah, begitu.

Belum ada rencana menikah untuk waktu dekat ini. Masih banyak yang harus aku bayar dulu untuk keluarga. Masih ingin menikmati masa apa-apa sendiri, kemana-mana sendiri, ngapain-ngapain sendiri, dan waktu sendiri.

Tapi sungguh deh, kalau buka sosmed, lalu muncul "hal-hal demikian", aku langsung merasa terpukul. Haruskah aku berhenti dari dunia sosmed ini? Hm :(

Kamis, 07 Juni 2018

Ditinggal seseorang yang cukup berarti di hidup seorang Nindi

Sekitar habis adzan isya, gw lagi siap-siap mau bikin kue untuk hari raya ntar. Pas lagi ngayak gula halus, tiba-tiba aja dapet telepon dari bibi.

"Teh, Wa Haji Walim meninggal"

Jleb. Sakit banget.
Ngerasa bersalah terhadap 2 hal.

Satu, karena belum sempet jengukin Uwa, padahal udah tau beliau masuk ICU dari beberapa hari lalu. Dua, karena kemaren-kemaren dengan "jahatnya" gw ngebayangin 'nanti gimana ya lebaran, pas ziarah ke makam yang pimpin doa siapa, kalau Uwa Haji masih sakit?' bukan malah mendoakannya terlebih dulu. Uwa, maafin Nindi.

Uwa Walim, dua hari sebelum sidang skripsi beliau ke rumah. Sengaja, ingin ngobrol sm Nindi. Banyak yang diobrolin, banyak nasehat yang dikasih Uwa. Intinya, gw harus segera nyelesain kuliah, apapun halangannya. Kalau bisa kuliah lagi!

Uwa Walim ini, salah satu orang yang selalu ngedukung gw. Waktu lulus SMA, gw gak lolos snmptn. Dengan gampangnya beliau bilang, "nih buru beli pin ke bank, sana ikutan sbm" tapi gw tolak karena gw emang gak niat utk sbm. Besok-besoknya, beliau datang lagi ke gw dan lagi-lagi bilang, "sana ikutan UM Unnes, nih ongkosnya". Sayangnya gw saat itu gak ada semangat jadi gw tolak lagi.

Jadi inget, dulu waktu masih kecil, belajar ngaji sama Uwa Walim. Dimarahin karena salah bacaannya. Pokoknya, Uwa ini insyaAllah salah satu yang cukup berarti utk Nindi.

Dan, sekarang Uwa udah enggak ada. Sedih banget. Kemarin tarawih di imamin 4 rakaat sama Uwa, Alhamdulillah.
Semoga uwa tenang di sisi Allah, uwa udah enggak ngerasain sakit lagi. InsyaAllah.

Uwa, terima kasih. Sampai jumpa agi, InsyaAllah.

Beber, 6 Juni 2018.

Senin, 26 Maret 2018

Aku dan Menikah

Sekitar kelas 2 SMA, aku pernah berujar ke temanku, "aku pengin nikah muda".
Lalu setelah lulus SMA, aku memilih kuliah dibanding lgsg bekerja. Kemudian, aku lupa dengan keinginan menikah muda itu. Dunia kampus membuatku asik sendiri.
Sekarang, ketika usiaku di masyarakat dipandang sudah cukup umur untuk menikah karena banyak teman-teman seangkatanku bahkan angkatan di bawahku sudah menikah, keinginan itu kembali menggelitik hatiku.
Saat aku memikirkan ingin menikah muda, usiaku masih 16 tahun. Aku mengalami banyak hal. Bibiku yang sudah menikah, dan punya anak, kuurus anaknya sejak bayi. Kakak-kakak sepupuku, menikah dan punya anak, lucu menggemaskan. Kuurus dan kusayang.
Tapi, mereka, bayi-bayi itu tumbuh besar, punya teman, lalu lupa dengan aku. Posisiku hanya sebagai tante atau teteh untuk mereka. Sedih. Aku ingin jadi seseorang yang amat 'bayi-bayi' itu sayang.
Jadilah aku kepikiran ingin punya anak, di usiaku yang 17 saja belum.
Aku ingin menikah muda saat itu, karena aku ingin bayi, aku ingin mengurus anak. Impianku saat itu ingin menjadi Ibu, seseorang yang amat sangat penting, berarti dan dicintai si bayi. Sederhana kan.
Tapi impian menikah muda itu, ya cuma mimpi. Karena sekarang, memang sudah usianya untuk menikah. Jadi, kalaupun aku menikah dalam waktu dekat ini, sudah tidak bisa dibilang nikah muda. Hehehe.
Tetapi, impian untuk menjadi ibu yang baik untuk bayi-bayiku gak akan pernah hilang. Kalau dipikir-pikir, sepertinya itu adalah impian terbesarku. Dibanding dengan karir lainnya, jadi ibu adalah cita-citaku.

Allah yang baik, semoga Engkau mengabulkan mimpi besar ku ini. Setepatnya saja ya Allah, terserah Engkau. Allah, Engkaulah yang paling tahu bagaimana baik atau buruknya untukku. ❤❤

Rabu, 14 Februari 2018

hujan di bulan februari

Halo Februari

Terlambat sekali menyapamu

Setiap orang adalah cinta pertama bagi orang lain. Aku penasaran, apakah aku menjadi cinta pertama bagi seseorang? Siapakah dia? Dekatkah ia di hidupku?

Februari
Kali ini, izinkan aku sedikit berterimakasih  kepada luka-luka, rasa sakit karena dikhianati, perasaan kecewa, marah dan segumpal perasaan tidak sehat lainnya yang pernah aku rasakan
Terimakasih, patah hati. Berkatmu aku mengerti, ada harga yang harus dibayar mahal untuk sebuah pendewasaan.

Dan, setiap orang pasti pernah mengalami patah hati, sakit hati. Entah patah hati karena orang yang dicintai, atau mematahkan hatinya sendiri.

Aku keduanya.

Pernah aku mematahkan hatiku sendiri. Aku berhenti mengasihi, tapi tidak bisa membenci. Aku mematahkan hatiku sendiri hanya karena tidak ingin berharap lebih dari apa yang mampu seseorang itu beri. Kemudian aku memilih mematahkan hatiku, entah bagaimana caranya, aku mendapati diriku terluka tapi tidak ada bekasnya di tubuhku. Berkali-kali aku mematahkan hatiku, untuk orang yang sama.

Harus kau tahu, aku ini tipikal orang yang lurus-lurus saja. Aku ini setia pada satu.

Sekali waktu, hatiku dipatahkan oleh seseorang. Seseorang yang lain. Kala itu, aku mencoba merekatkan kembali patahan hatiku, seseorang yang lain itu datang. Katanya ia mau membantu. Tapi ia malah menambahkan cidera yang lain, di hatiku.

Bagaimana rasanya dikhianati? Sekali, aku bisa memaafkan. Dua kali, aku mungkin maklum. Tiga kali, aku ingin berhenti. Aku tidak ingin terikat pada hubungan yang justru membuat hatiku ngilu.

Mungkin aku tidak cantik. Tidak mengapa karena memang. Tapi, bukan karena fisikku tidak sebagus yang dimau, aku jadi disakiti seenaknya. Nanti, kutunjukan aku memiliki sesuatu yang cantik, yang saat itu tidak disadarinya.

Sudah cukup. Aku malah jadi melantur. Poin penting dari tulisan ini adalah,
aku memang belum lupa pada semua rasa sakit, kecewa, amarah yang pernah aku rasakan. Tapi, dari semua itu aku belajar. Bahwa, satu-satunya yang bisa diandalkan untuk melindungiku ya diriku sendiri. satu-satunya yang bisa dipercaya untuk menjaga perasaanku ya diriku sendiri.

meminta dan mengharap pada seseorang, kalau dia tidak menghendakinya, kita yang kecewa. Tahi kucing dengan komitmen. Setiap individu ingin merdeka. Aku, kamu, ingin bebas. Bukankah begitu? Hehehe

Saat ini, aku begitu. Aku ingin bebas.

Perempuan merdeka,
merdeka dari rasa sakit hati
merdeka dari penjajahan perasaan
merdeka dari pertanyaan "kapan nikah?"
*if you know what i mean* :)))))

Selasa, 26 Desember 2017

aku dan kesenanganku

kepada desember yang kadang mendatangkan badai dan terik. dan demi januari yang kehangatannya mulai terasa di batas kota ini.

aku mencoba untuk tidak terlalu ambisius. sebab dewasa ini, aku menyenangi sesuatu yang natural dan sederhana saja.

kesenangan yang kumaksud itu bisa berwujud pesan singkat, yang kadang dapat membuatku berjingkrak bila dapat satu darimu. atau potret dirimu yang sengaja kau bagi sendiri. sesederhana itu. darimu, apa pun, yang memberi kesenangan (buatku) di dalam diam.

iya. kamu adalah kesenangan itu. kamu yang kata banyak orang susah untuk kujangkau. mereka bilang aku terlalu bermimpi. aku jadi tidak percaya diri. tapi tak apa, karena buatku, kamulah kesenangan itu. perasaan damai dan penuh keindahan bila memikirkan kamu dan aku ke masa depan yang ingin kurangkai.

kamu adalah kesenangan yang menimbulkan rindu. rindu yang bukan hanya pada kamu yang sedikit -- seperti hanya kamu dalam bentuk pesan singkat dan potret dirimu -- tetapi juga rindu pada kamu dalam versi lengkap dengan segala kekurangan, dan kelebihan kamu yang melimpah.

aku sedikit memaksa kepada Tuhan. aku selalu menyebut namamu atau mengingat wajahmu, setiap kali di hadapan-Nya. kujadikan doa sebagai satu-satunya jalan tempuhku bila ingin mendapatkan kamu, kesenangan itu. aku tahu caraku ini tidak benar tapi juga tidak salah. biar Tuhan saja yang menimbang, akankah hatimu bergerak kepadaku atau justru Tuhan melemparkan sejauh-jauhnya?

pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa sekali lagi. aku mendoakan semua kualitas terbaik yang Tuhan cipta dikeluarkan-Nya kepadamu. semoga kita bisa bertemu di sebuah waktu, di masa yang datang, di mana semua lebih natural dan sederhana. sesungguhnya Tuhan itu Maha Cinta. Ia tentu lebih paham. semoga saja kita berjodoh.

salam, nindiarh.
sesekali aku ingin jujur seperti ini.

Senin, 20 Februari 2017

POHON KERSEN


FEBRUARI sudah mendekati penghujung. Siapa yang tidak mengenal bulan ini? Semua juga tahu, Februari memiliki tempat masing-masing di hati siapapun. Satu, dua, tiga mulai bercerita tentang masa-masa indah. Kemudian kamu. Empat, lima, enam, hingga sebelas, peristiwa berubah jadi kenangan.
Kenangan bagiku seperti bawang. Semakin aku kupas, semakin tidak kutemukan intinya. Semakin aku iris, semakin perih mata menangis. Kenangan bagiku adalah kamu. Nama yang pernah kuukir indah di sebuah pohon.
Kenangan memang nakal, seringkali ia mengusik ketentraman. Ketentraman yang tumbuh dari luka dan luka yang terbuka karena cinta. Barangkali karena cinta itulah aku berani menuliskan indah namanya.
Dua dasawarsa berlalu. Kenangan itu harusnya tertinggal jauh di belakang. Tapi sekuat apapun aku berlari menjauh, ia justru amat dekat. Lekat sekali dalam ingatan. Sampai-sampai aku hafal bau kenangan yang akan muncul setiap kali aku menatap sesuatu.
Pagi ini di tanah kelahiranku, aku menghirup kenangan. Manis betul ia berkeliaran di kepalaku. Masa-masa indah puluhan tahun silam. Masa di mana aku masih beringsut sarung selepas mengaji di tajug. Menenteng sajadah dan memeluk erat Alquran. Berkejar-kejaran dengan teman di bawah temaram rembulan yang menggantung bulat dengan takhzim di angkasa. Rembulan malam ke lima belas.
“Nur.. Nur.. ini si Gani suka!” teriak Abdul, kawanku, kepada Nur.
Nur adalah cahaya. Ia kemilau yang paling indah. Terang yang paling terang. Hingga siapapun ingin memiliki cahaya itu. Nur adalah keajaiban. Nun di ujung jalan sana, Nur tersenyum malu. Aku ― Si Gani, dapat melihat sempurna indahnya senyum Nur. Nur yang kucinta.
Benar. Kenangan memang nakal. Menyentil sedikit saja perasaanku jadi kembang kempis. Nur, adalah nama yang kuukir di sebuah pohon kersen. Pohon pemilik kenangan setiap orang. Adakah yang tidak memiliki kenangan padanya?
Pohon kersen adalah sejenis perdu yang berbuah kecil dan manis serta berwarna merah kalau matang. Pohon kersen tumbuh tidak terlalu tinggi, paling sekitar 5 hingga 7 meter. Aku sering sekali memanjatnya. Pohon kersen ini tumbuh begitu saja. Tidak ada yang menanam. Pohon dengan cabang-cabang yang mendatar dan menggantung diujungnya, membentuk naungan yang rindang. Ranting-rantingnya berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar, begitu pula pada daunnya.
Suatu sore di senja yang megah, duduk aku pada bangku panjang di bawah pohon kersen bersama Nur, cahayaku. Kami tidak berdua saja memang, ada Abdul, Koni, Emah dan kawan-kawan lainnya sedang bermain gobak-sodor. Usiaku saat itu 13, dan Nur 11 tahun. Kami selisih 2 tahun.
Apa yang dirasakan anak baru gede saat dilanda kasmaran? Aku serasa terbang, ingin memeluk Nur erat tanpa dilepas. Tapi, apalah daya, duduk berdua di bangku saja sudah dicap budak nakal. Duduk berdua dengan Nur, dengan jarak lima jengkal jauhnya, dengan pandangan saling menunduk, dengan dada yang gemuruh. Antara senang dan cemas. Takut ketahuan Uwak Haji, bisa mati dibunuh aku.
Nur adalah keajaiban. Nur adalah anak dari seorang tokoh agama di desaku, oleh masyarakat biasa dipanggil Uwak Haji. Beliau dihormati dan disegani semua orang. Aku belajar mengaji pada Uwak Haji di tajug selepas sembahyang Isya, dengan Nur juga dan teman-teman yang lain. Sementara aku hanya anak petani, Bapakku membajak sawahnya Uwak Haji, mengolahnya hingga panen dan bila musim panen hasilnya dibagi dua.
Aku mengagumi Nur sejak dia masih ingusan. Ketika usiaku 8 tahun dan Nur 6 tahun, aku pernah menemani Bapak ke rumah Uwak Haji mengantarkan hasil panen. Aku melihat Nur sedang bermain. Nur memakai kudung putih tertawa lepas, gigi depannya ompong, aku suka sekali melihatnya. Aku tidak tahu apakah itu perasaan cinta atau bukan, tapi sejak saat itu aku selalu ingin melihat Nur. Nur adalah cahaya.
Di bawah pohon kersen inilah, beberapa puluh tahun lalu, aku duduk bersama dengan Nur. Terpisah jarak lima jengkal. Hatiku berdebar. Ada senang bercampur cemas. Aku ingat hari itu. Hari dimana aku berani betul. Padahal saat itu, banyak kudengar Uwak Haji galak bila ada yang mendekati Nur. Kudengar juga ada pemuda dari desa sebrang, berani-beraninya menemui Nur di rumahnya langsung kena semprot Uwak Haji.
“Nu.. Nuur..” Kataku sedikit gugup.
“hmm.. kenapa A Gani?” tanyanya menatapku, sementara aku tak mampu balas menatapnya hanya menunduk melihat tanah merah yang mulai kering.
“Boleh aku tulis namamu disini?” kataku sambil menunjuk pohon kersen dan tetap menunduk.
“Wah boleh, ayo kita tulis namaku dan nama A Gani juga teman-teman yang lain. Ini bisa jadi pohon kenangan kita!” Ucap Nur antusias, matannya pasti berbinar indah.
“Tapi aku hanya ingin menulis namamu saja, Nur. Boleh?”
“Hmm.. boleh deh, yang indah ya A Gani!”
Di pohon kenangan ini, aku menulis namanya. Nur. Setelah Nur pulang dan teman-teman yang lain pulang juga untuk bersiap-siap pergi ke tajug, aku masih tetap duduk di bangku ini. Aku menatap nama Nur yang terukir indah di pohon kersen. Lalu tanganku dengan magisnya menuliskan nama lain untuk mendampingi nama Nur, namaku. Sehingga di pohon itu, kini terukir  NUR dan GANI.
***
Sudah dua dasawarasa sejak kejadian itu, tapi masih lengket melekat dibenak. Sekarang, beginilah kehidupanku. Duduk termenung dalam waktu yang lama, dan hanya memandang ke satu arah; kepada pohon kenangan. Lekat-lekat kutatap namaku dan nama Nur. Sesekali Nur lewat, bersama suaminya si Abdul.

Nindiarh
Penulis Amatiran