Senin, 31 Agustus 2015

Kontemplasi diri menjemput 'golden age'

Tulisan ini dibuat pada tanggal 28 Agustus, baru diposting sekarang. Ingin menumpahkan kegelisahan yang merajam diriku. Heheheh

Selarut ini aku belum bisa memejamkan mata, menidurkan jiwa dan mendamaikan lelah. Tadi kulihat di smartphone bututku sekarang sudah pukul 23.14 WIB. Sudah kucoba terpejam tqpi pikirku melayang-layang. Sudah kujauhkan gadget, kumatikan lampu biar kamar jadi gelap tapi tetap susah terlelap. Padahal saat ku bercermin kala membersihkan wajah, mataku sudah bengkak merah-merah tanda ngantuk berat.

Sudah lebih kurang sebulan terakhir ini aku merasakan gelisah yang muntab luar biasa. Setiap menjelang tidur, aku selalu resah hingga terkadang baru bisa tidur menjelang subuh. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menangis tertidur di atas kasur, memeluk boneka besar hadiah ulangtahun ke 19 dari Mama. Tangisan yang tertahan. Sebab takut terdengar penghuni rumah lainnya.

Disela-sela tangisan, aku mengingat usiaku yang kian mendekati 20 tahun. Aku merasa usia 20 adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Tapi tak ada yang bisa aku banggakan di usia yang tidak lagi kanak-kanak. Entah kenapa aku mendadak jadi amat sentimentil. Rasanya hidupku begini-begini saja, aktivitas dalam pola yang itu-itu saja. Sekolah-duit-belajar-orang tua kerja dan aku belum menghasilkan apa-apa.

Menjelang usia 20, entah kenapa aku menjadi lebih cengeng dari biasanya. Jauh dari Mama, menangis semalaman. Mata bengkak. Tidur kurang. Berkabar dengan Bapak, kemudian tahu Bapak tengah malam masih bekerja. Menangislah sejadi-jadinya. Merasa bersalah telah lahir ke bumi. Tahu kalau ternyata aku lahir hanya akan membebani (meski aku yakin sebenarnya Mama dan Bapak menanggapku bukan beban, tapi entahlah), aku memilih untuk tidak dilahirkan. Akan lebih memilih gugur membusuk di lauhul mahfudz sebelum sempat terkurung di rahim Mama.

Atau setidaknya nasib kami sedikit lebih baik dari ini? Aku merasa tidak kekurangan, semua aku Alhamdulillah-kan saja. Tapi kalau sedikit saja lebih baik, kan Bapak dan Mama tidak perlu bekerja terlalu keras. Bagaimana kalau kami tinggal memetik emas dari sebuah pohon lalu kami jual? Jadi tidak perlu lagi Bapak dan Mama capek-capek bekerja. Hehehe. Tetapi, apapun yang Tuhan gariskan untuk aku, sungguh aku ridho. InsyaAllah, ikhlas.

Mungkin, kegelisahan yang belakangan menyergap jiwaku ini adalah sebuah bentuk kontemplasi diri. Perenungan. Tentang bagaimana aku harusnya bersikap lebih bijak. Bukankan usia 20 sudah harus dipandang dewasa? Dewasa dalam segala hal. Bijak menghadapi kehidupan. Mandiri untuk menyosong masa depan.

Mama, Bapak, Nindi mohon kepada Mama dan Bapaj untuk bersabar sedikit lebih lama lagi. Kuatlah terus hingga hari itu tiba. Tapi, akan Nindi pastikan hari itu akan sesegera mungkin tiba. Hari dimana Mama dan Bapak tak usah lagi bekerja terlalu lelah. Tak usah! Banyak-banyaklah santai di rumah yang kita buat dengan cinta dan keringat. Nikmati usia yang semakin bertambah. Biar, biarlah Nindi yang mengambil alih. Biarkan Nindi yang bekerja keras. Tinggalah Nindi yang bertanggung jawab selaku anak tertua. Nindi janji Ma, Pak, hari itu akan segera tiba.

Love you Ma, Pak.
Terimakasih telah membesarkan Nindi.
I just wanna love you all mylife, Mama Bapak Fasya ♥♥

*usia 20 bagiku golden age. Harus bisa lebih produktif. Hehehe

Rabu, 19 Agustus 2015

Puisi untuk Bapak; Selamat Ulang Tahun, Supermanku!

Diatas roda raksasa, dibalik kemudi. Peluhmu juga lelahmu mengkristal dengan niat yang kau hendaki. Bapak, istirahatlah sebentar. Sini kubuatkan kopi hitam yang sedikit manis, untuk pulihkan tenagamu.

Selagi aku membuat kopi, mandilah Bapak. Basuh tubuhmu yang berdebu, ganti pakaianmu yang lusuh akibat berhari-hari kau kenakan. Keramaslah Bapak, nanti kucabuti ubanmu.

Nikmatilah secangkir kopi yang gadismu buat, Bapak. Lalu kita ngobrol sebentar. Kumohon dalam percakapan kali ini, jangan anggap aku masih berusia lima. Gadismu sudah menjelma dewasa, Bapak.

Nikmati kopimu, seruputlah perlahan-lahan
Jangan cepat-cepat, sebab obrolan kita akan panjang. Jangan pasang wajah serius, Bapak. Anakmu ingin bercanda gurau seperti hari-hari terbaik kita. Tetapi hari-hari kita selalu terbaik, ya Bapak.

Beberapa tahun yang akan datang, gadismu ini akan dipinang seseorang. Entah tetangga sendiri atau jauh dari seberang. Tolong Bapak pilihkan yang terbaik untuk anak sulungmu.

Mari kita putar sedikit kenangan manis kita, Bapak. Betapa lucunya aku dulu digendong kemana-mana oleh engkau. Digelitiki kumismu, dipangku, dicium dan dimanja engkau. Katanya anak pertama memang mirip dengan Bapaknya. Tiadalah salah perihal itu, wajahku tegas mewarisi wajahmu, Bapak. Alis mataku tebal bak ulat bulu. Mata cokelatku, kulit cokelatku, tinggi badanku.

Akan ku ingat betul, perjuangan-perjuangan Bapak demi menyekolahkanku. Akan kuingat masa-masa sulit kita dulu. Dulu, aku begitu abai akan hadirmu. Sekarang, betapa hadirmu begitu aku rindu.

Meski lebih sering diam, dan tak berkomentar banyak. Tapi aku tahu, kauamat menyayangiku. Bapak amat khawatir dengan keadaanku. Kemarin, baru kutahu sisi lainmu. Betapa menyakitkan, hingga aku merasa dendam. Entah benar atau salah.

Bapak yang tercinta, terimakasih atas segalanya. Percayalah Pak, tiada peluh yang tercurah percuma, tiada usaha yang sia-sia. Percayalah Bapak, akan tiba masanya kau menikmati jeri payahmu. Akan terus kuusahakan kebahagianmu, kebahagian keluarga kecil kita. Akan terus kuusahakan menjadi kebanggaanmu, memenuhi pintamu, juga memenuhi segala janji.

Harus Bapak tahu, di dunia ini hanya ada satu lelaki yang tidak pernah membuatku kecewa dan itu adalah engkau, Bapak. Hanya ada satu lelaki yang gagah dan bertanggung jawab, yang tidak pernah menyakitiku dan itu hanyalah Bapak, yang bahkan rela menyakiti tubuh sendiri demi kebahagian anaknya.

Maafkan aku Bapak. Bersabarlah sedikit lagi, sebentar lagi. Akan kuusahakan yang terbaik bagi kita. Harus Bapak tahu, aku mencintai Bapak lebih dari apapun!

Aku cinta padamu, Bapak.
Selamat ulang tahun, Superman-ku!

*19082015
Selamat mengulang tahun lahir ke-42 ☺😍😘😚

Senin, 15 Juni 2015

Secangkir Kopi, Teh dan Obrolan Jelang Pernikahan

         Pagi hari di rumah milik keluargaku, selalu tercium aroma teh melati dan kopi tubruk dari ruang keluarga. Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan nikmatnya kopi tubruk dari Bapak. Ibu memperkenalkan teh sejak aku masih kanak-kanak sebagai minuman penghangat perut saat sarapan atau sekadar minuman penghangat sore hari. Selalu hangat, sebab bagi Ibu teh melati yang hangat lebih memberikan kedamaian ketimbang teh melati yang dicampur es. Wangi melati yang sekilas dihirup, namun kemudian menetap di bibir dan merembes ke lidah.
Sementara saat usiaku 9 tahun, aku mengenal kopi tubruk. Kopi tubruk tanpa gula kesukaan Bapak, minuman favoritnya ketika sarapan, makan siang, sore hari dan makan malam. Tak sekalipun Bapak melewatkan si kopi tubruk. Bapak mengizinkan aku berkenalan dengan pahitnya rasa kopi sebagai bagian dari keasyikan menikmati hidup. Bapak bilang, dia lebih suka segala sesuatu sesuai dengan kodratnya, seperti kopi yang dibiarkan tetap pahit tanpa gula tanpa pemanis. Kopi. Lagi-lagi kopi dan selalu kopi yang dibicarakan kalau sedang dengan Bapak. Kata Bapak lagi, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia.
Kopi tubruk di pagi hari dapat menentukan suasana hati Bapak selama 1440 menit ke depan. Tapi saat itu, di usiaku yang 9 tahun, aku tidak dibolehkan mencecap rasa si kopi tubruk karena takut kandungan kafeinnya belum mampu ditopang oleh tubuhku yang masih kecil, sebagai gantinya aku hanya diizinkan untuk menghirup aromanya.
Aroma kopi tubruk Bapak begitu kuat, karena aku bisa menciumnya dari kamar tidurku. Kopi ini telah menempuh proses panjang hingga akhirnya ia menghuni sebuah toples milik Bapak, yang kemudian dipindahkan kedalam gelas dan ditimpa air mendidih. Mengendaplah kopi dalam gelas kaca yang hendak diseruput oleh Bapak. Ada banyak toples yang berjejer rapi di lemari dapur, berisi berjenis-jenis kopi. Seyogianya memang penikmat kopi pasti akan mengoleksi bermacam jenis kopi. Sampai-sampai bau ciuman Bapak di pipiku adalah bau kopi hitam; harum yang menguasai ruang yang tak mudah pergi.
Hingga pada usiaku yang ke 13, barulah aku diperkenankan mencicipi pahitnya kopi. Lidahku tidak menolak tetapi lambungku butuh sedikit adaptasi. Aku tidak bilang aku tidak suka kopi atau teh. Aku mencintai keduanya sama seperti aku mencintai Ibu dan Bapak.
Aku mencintai teh melati seperti aku mencintai Ibu. Di dalam secangkir teh melati aku melihat wajah Ibu. Cokelat, keruh, berbintik hitam tapi tetap menghangatkan dan memberi ketentraman. Di hangatnya secangkir teh dan harum aromanya, aku melihat Ibu dan segala kasih sayangnya. Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu meminum teh melati hangat. Sebab selain memberikan kenyamanan, kehangatan dan ketentraman, meneguk teh melati seperti membawaku pulang ke rahim ibu, tempat paling nyaman untuk meringkuk sendirian.
Sedang kopi hitam, aku mencintainya seperti aku mencintai Bapak. Bagi seorang anak perempuan sepertiku, Bapak adalah cinta pertamanya. Alasan mengapa anak perempuan mencintai bapaknya adalah bahwa setidaknya ada satu lelaki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitinya, tidak akan pernah mengecewakannya.
Pernah pada suatu pagi hari di penghujung bulan yang gerimis, ketika Ibu sedang menyeduh teh, kopi dan susu secara bersamaan. Ketika Bapak sedang membaca sebuah buku sastra, aku bertanya kepada Bapak mengapa ia begitu mencintai kopi, dan Bapak menjawab,
“Kata Jokpin, kurang atau lebih setiap rejeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”
Aku mengerutkan kening, berusaha memahami kalimat Bapak. “Siapa Jokpin?” tanyaku akhirnya.
“Joko Pinurbo, disingkat Jokpin. Dia adalah penyair, penulis. Dia sastrawan”
“Seperti Bapak?”
“Iya, seperti Bapak” tiba-tiba Ibu ikut menyahut dalam obrolanku dengan Bapak. Aku mengangguk-angguk, tidak bertanya lagi karena Ibu sudah membawakan senampan sarapan kami. Perpaduan teh melati, kopi dan susu cokelat di meja makan. Dengan goreng pisang dan roti bakar, di penghujung bulan, pagi yang gerimis.
Seiring dengan aku terus tumbuh dan bertambah usia. Sejalan dengan aku memahami hakikat kopi dalam hidup Bapak dan teh pada diri Ibu. Aku mulai memahami pekerjaan keduanya. Aku mengenal sastra dari aroma kopi milik Bapak, dan mengenal untung-rugi dari wangi teh melati milik Ibu.
Bapak biasa diundang dalam seminar-seminar, katanya Bapak sastrawan. Buku di ruang kerjanya berjejer rapi di rak. Kebanyakan cerita dan aku suka membaca. Sebelah rak dan lemari buku milik Bapak, ada meja kerja milik Ibu. Meja kerja ibu berisi banyak buku besar, komputer dan alat hitung. Buku-buku milik ibu tentang ekonomi, aku tidak terlalu suka. Katanya Ibu seorang akuntan.
Usiaku 13 tahun kala tahu pekerjaan kedua orangtuaku. Aku merasa bangga meski tidak tahu betul apa itu sastrawan dan akuntan.
*** 
Juni 2015. 3 bulan lagi usiaku dua puluh tahun tiga tahun. Bapak dan Ibu masih setia dengan kopi tubruk dan teh melati. Aku masih setia dengan tetap mencintai keduanya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati Ibu. Di usiaku yang sekarang, aku tidak lagi dianggap gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Aku sudah dipandang dewasa. Dewasa dalam menghadapi segala hal. Dewasa dalam menghadapi luka, bahagia dan segala permasalahan hidup.
Kata Bapak aku seperti Kopi, dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Sedang menurut Ibu aku seperti teh melati, memberi kenyamanan, ketentraman dalam damai.
3 bulan yang lalu, sebuah cincin melingkar dijari manis tangan kiriku. Dan 3 bulan yang akan datang, tepat di hari  dimana aku genap berusia dua puluh tiga tahun, aku akan menikah. Dengan pria pilihanku yang mampu menggenapkan keganjilan dalam hidupku. Pria yang mampu mencintai kopi dan teh tanpa harus memilih.
Menjelang hari pernikahanku, Bapak dan Ibu kian sibuk mempersiapkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Setiap malam aku disuguhi wejangan ala kopi dan teh.
“Andita akan berkeluarga, Pak, Bu..” Kataku di sore hari yang hangat dengan secangkir kopi, teh dan susu dan sepiring pisang goreng.
“Gadisnya Ibu sudah besar, tau-tau besok sudah jadi istri orang, ya, Pak” Ibu tersenyum, melirik Bapak sambil menyeruput teh melatinya. Matanya memejam sebelum diminum, Ibu menghirup aroma kedamaian dari teh melati.
Bapak terkekeh, kemudian Bapak bilang, “Kata Agus Noor, pada kopi ada revolusi juga cinta yang tak pernah mati.”
“Maksudnya apa, Pak?” tanyaku.
“Bagi Bapak, kamu adalah kopi yang murni. Selain mahal juga rasanya nikmat, tak banyak yang bisa memiliki. Itu artinya spesial.” Bapak menjelaskan sambil sesekali menyeruput kopi tubruknya.
“Pada kopi ada revolusi, juga cinta yang tak pernah mati. Revolusi: perubahan. Kopi yang berupa biji berubah menjadi bubuk-bubuk tepung yang ada di toples, di dapur sana, kan? Nah, Bapak pernah bilang, kopi adalah buah yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia. Begitulah kiranya, engkau, anakku. Andita sudah besar, sudah Bapak pupuk dengan kesabaran, pemahaman-pemahaman yang baik dan dimatangkan usia. Tetapi pada revolusi dirimu, anakku, ada cinta yang tak pernah mati dari Bapak, dari Ibu.”
Aku mengangguk-anggukan kepala, berusaha memahami nasehat Bapak. Nasehat ala sastrawan, wejangan a la kopi. Aku sungguh mencintai kopi seperti aku mencintai Bapak. Kulihat Ibu, dia tersenyum kemudian memelukku. Aku sungguh mencintai lembut dan harumnya teh melati, seperti aku mencintai Ibu.
“Andita, dari segelas teh ini, kamu akan tahu bagaimana hakikatnya sebuah teh bisa terasa.” Kali ini ibu yang akan memberikan wejangan a la teh. Ibu berkata sambil memegang cangkir teh melati favoritnya.
“Bagaimana, Bu?” tanyaku.
“Dari secangkir teh ini, kita akan tahu hangat dan nyamannya sebuah kedamaian. Dalam secangkir teh, kita seperti membaca ulang sebuah kalimat. Seperti kalimat panjang Bapak tadi, minum saja teh ini, kita seperti bisa mengulang semuanya. Kenapa? Karena teh selalu membuatmu alami. Itulah rahasia mengapa Ibu amat mencintai teh, sebab Ibu bisa membaca ulang semua hal. Nasihat Bapakmu, resep masakan, debet – kredit dan banyak hal lainnya.”
“Satu lagi, Andita” Lanjut Ibu, “Karena teh itu seperti mengenang setiap inci perjalanan, dan ketabahan hati. Coba ingat bagaimana proses pembuatan teh untuk kemudian ada di cangkir ini? Sama seperti kopi, menempuh proses yang maha panjang. Teh adalah kesederhanaan, tapi bukan sekadar minuman dalam tampilan sederhana dalam warna yang itu-itu saja. Hijau, coklat atau sedikit kemerahan dengan aroma yang tidak nyata namun terasa, kadang kuat atau samar. Pahit dan manis di beberapa bagian. Tapi teh tidak terlalu tajam, tidak pernah terlalu kuat, akan mengalir begitu saja untuk masuk ke dalam kerongkongan. Seperti cinta yang tidak kamu ketahui, yang tiba-tiba menatapmu lekat mengajakmu mengarungi masa depan, menjanjikanmu masa depan yang lebih baik, Andita.”
“Iya, Bu, Pak. Terimakasih. Andita cinta Bapak dan Ibu, seperti cinta kopi kepada teh atau sebaliknya. Cinta yang dipupuk kesabaran dan dimatangkan usia, cinta yang alami, sederhana. Cinta yang tidak kita ketahui, tiba-tiba saja ia hadir.” Ucapku bergetar, kemudian memeluk keduanya. Harumnya kopi dan hangatnya teh berbaur dengan keringatku yang berbau susu.
Hari itu, aku tidak tahu mengapa aku bahagia sekali memiliki Bapak dan Ibu yang luar biasa romantisnya. Seperti tidak sedang menasehati putrinya yang hendak menikah, lebih seperti mengajak berpikir seorang teman yang akan memulai hidup baru dengan filosofi kopi dan teh dari masing-masing dirinya. Kopi tubruk Bapak dan teh melati ibu.
Aku mengenal lembutnya teh melati dari Ibu dan kuatnya kopi tubruk dari Bapak. Aku mencintai kopi dan teh seperti aku mencintai Bapak dan Ibu. Secangkir kopi, teh dan obrolan menjelang pernikahan.


*Penulis adalah mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unswagati

Kamis, 07 Mei 2015

Sepotong Pelangi untuk Aldi

ALDI tersayang, bersama surat ini aku kirimkan kepadamu sepotong pelangi ― dengan pemandangan bukit yang basah yang tampias oleh hujan, cahaya yang menari berwarna-warni. Semoga kamu menerimanya dengan lengkap. Sama seperti saat aku mengirimkan pelangi ini. Pelangi yang ada di atas bukit pinus itu, seperti yang pernah kita nikmati bersama 4 tahun yang lalu. Apakah kamu mengingatnya? Ada beberapa ekor capung yang terbang menemani kita kala itu, dan desir angin yang memercikan sisa hujan ke wajah kita. Tapi pada sepotong pelangi yang ku kirim ini, aku tidak mengeceknya dengan teliti. Aku sibuk membayangkan ekspresimu kala menerima sepotong pelangi ini, kekasih.

Februari memang puncak musim penghujan. Jabodetabek saja sudah terendam hingga ada mencapai 2 meter. Mengerikan sekali. Bagaimana dengan tempat tinggalmu? Semoga aman selalu ya, supaya kamu bisa menikmati pelangi dengan suka cita.

Kukirimkan sepotong pelangi ini untukmu Aldi, dalam amplop besar berwarna coklat dan bergaris biru – merah disetiap sisinya. Amplop ini tertutup rapat, aku meminta disegel kepada kurirnya, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata kepadamu. Aku ingin menyampaikan kerinduanku dengan berbeda dari cara yang biasa kusampaikan. Tak terhitung berapa banyak kata-kata yang kutulis untukmu, tapi tak pernah kau baca juga, bukan? Sebab itulah aku mengirim sepotong pelangi ini. Aku ingin kau juga mengenang kebersamaan kita dulu, empat tahun yang lalu. Semoga kau masih mengingatnya. Segala hal yang ingin aku lakukan di dunia ini bersamamu, meski aku tahu itu semua sudah jauh tertinggal dibelakang. Semua itu hanya akan tinggal kemungkinan-kemungkinan kecil yang menjadi kenyataan.

Ku kirimkan sepotong pelangi ini kepadamu, Aldi. Pelangi ini aku harap dapat mewakili perasaan rinduku yang menggunung. Ribuan hari yang aku lewati tanpa kehadiranmu. Siksa yang menyenangkan, kau tahu? Aku benar-benar menjalani hariku tanpa dirimu, tanpa pesan apalagi semangat. Tanpa senyumanmu. Ku pikir duniaku akan binasa, ternyata tidak. Ku pikir aku akan membencimu yang telah pergi meninggalkanku, ternyata tidak bisa. Bahkan semenjak kepergianmu aku berkeras pada diriku sendiri, bahwa sepanjang sisa usiaku ini adalah doa untukmu, Aldi. Aku tak peduli seberapa sakit yang pernah kauberi kepadaku, seberapa dalam yang kau toreh di hatiku. Aku tidak peduli, meski sakitnya masih kurasa. Meski lukanya sulit ku lupa. Aku selalu berdoa untukmu, Aldi.

Aldi yang sangat ku rindu, akan ku ceritakan sedikit bagaimana aku memperoleh pelangi ini untukmu. Kau pasti ingin tahu bukan, bagaimana gadis cengeng ini nekat mengambil pelangi di langit? Baiklah, aku akan bercerita.

Sore itu, sekitar pukul 16.21 WIB aku duduk di ayunan di bukit pinus itu. Tempat yang sama saat kita menyaksikan pelangi, empat tahun yang lalu. Aku mengenang semuanya. Nampaknya angin musim penghujan memang ditakdirkan sebagai pemutar kenangan, aku tidak heran dengan itu, aku merasakannya. Aku hanya sendirian di bukit itu, melarikan diri dari rutinitas yang memuakan di kampus ku. Sore itu hujan telah usai, di sela-sela jari hujan pelangi mulai tampak. Selama 47 detik aku mematung, terpukau indahnya pelangi. Kemudian aku teringat akan kamu, Aldi. Ku ambil pisau lipat hadiah darimu, empat tahun yang lalu. Maka ku potong pelangi itu sebelum terlambat dan menghilang. Ku kerat empat sisi memanjang. Ku masukan ke dalam tas, pelangi dan sedikit potongan bukit yang tampias. Ku pikir pelangi ini akan menarik untukmu, Aldi. Dengan begitu keindahan pelangi ini akan abadi dan aku bisa memberikannya untukmu.

Setelah itu aku beranjak pergi  dari bukit dengan segera. Aku takut ketahuan telah ‘mencuri’ pelangi ini. Meski perasaanku sangat senang dan langkahku ringan memikirkan segala kemungkinan yang ada jika kamu menerima pelangi ini. Aku selalu membayangkan suatu saat bisa menikmati pelangi di atas bukit ini denganmu, Aldi. Duduk berdua didepan tenda dome, menikmati secangkir kopi dan memandang pelangi sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya tentang masa depan. Apakah itu akan jadi kenyataan?

Pelangi ini, bisa kamu bawa kemana-mana atau kamu taruh saja di langit-langit kamarmu. Supaya kamu bisa sedikit saja mengingat kita, empat tahun yang lalu.

Ketika aku meninggalkan bukit itu, ternyata beberapa orang menyadari ada yang kosong di langit sana. Aku menoleh kebelakang, melihat mereka yang berbondong-bondong menanyakan kemana hilangnya pelangi sore itu di langit? Mereka jadi gempar. Ku lihat cakrawala itu berlubang sebesar amplop ini.

Semua ini telah terjadi dan kejadiannya memang seperti itu. Aku kemudian mempercepat langkahku sebelum orang-orang di sana menyadari akulah yang memotong langit. Meski aku tahu tidak ada undang-undang yang melarang memotong langit, apalagi mengambil pelangi, tapi aku tetap saja takut, Aldi. Aku terus berjalan cepat dan berlari, menuju ke hutan. Melewati banyak sungai dan rawa-rawa. Berlari terus hingga lelah. Hingga orang-orang itu berhenti mengejarku.

Sampailah aku pada sebuah desa. Desa dimana setiap sudutnya ada pelangi. Aduhai, ini ajaib sekali, Aldi. Aku terperangah, lebih dari 47 detik. Desa ini tidak diguyur hujan dan tidak ditempa matahari, tapi di setiap sudutnya ada pelangi. Astaga, kamu boleh tidak mempercayainya Aldi, tapi kamu akan terus membaca ini hingga usai. Di desa itu ada penghuninya, tidak banyak tapi cukup ramai. Wajah mereka semua bercahaya. Ada anak-anak yang sedang bermain lompat tali, setiap kali melompat setiap kakinya menyentuh tanah maka keluar percikan cahaya yang maha cantik. Cahaya mejikuhibiniu seperti warna pelangi. Aku bingung, apakah di dunia ini ada kehidupan macam desa ini? Aku tidak sedang bermimpi saat itu, Aldi. Kau boleh tidak mempercayainya.

Aku berjalan santai menikmati pelangi yang banyak di desa ini, desa yang kuberi nama Paradise Rainbow. Orang-orang menyapaku ramah, beberapa mengajak berbincang. Setelah aku pikir-pikir, untuk apa banyak sekali pelangi disini jika setiap orang di desa ini bisa membuat pelangi dengan tangan dan kakinya, sebanyak yang mereka mau. Wajah mereka saja sudah bercahaya bagai pelangi. Maka kudekati orang tua yang dianggap kepala suku oleh warga desa, aku memohon meminta satu pelangi yang menggantung takhzim di atas bukit desa itu. Menjelaskan bahwa di desa ini terlalu banyak pelangi, maka tak akan ada perubahan yang berarti jika diambil satu saja. Ajaibnya, kepala suku desa Paradise Rainbow itu mengangguk, menyetujui. Katanya “Ambil saja pelangi yang kamu suka, Nona. Kami selalu berbaik hati kepada gadis menyedihkan memendam rindu. Cinta yang tak pernah tersampaikan dan kisah yang tak pernah selesai”.

Astaga Aldi, gadis menyedihkan yang memendam rindu? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti apa yang dikatakan si kepala suku itu. Apakah aku terlihat begitu menyedihkan memendam rindu ini kepadamu? Ribuan hari yang kulewati tanpa hadirmu, aku berusaha hidup senormal mungkin. Tetapi setiap malam, aku selalu meratap dalam doa panjang untukmu. Sungguh. Hanya doa yang bisa kuusahakan kala rindu itu menyapa. Tak ada yang paling kurindu, selain kematian dan dirimu, Aldi.

Maka ku kerat kembali pelangi dari desa itu. Ku potong dengan pisau lipat pemberianmu, empat tahun yang lalu. Pisau lipat yang selalu aku bawa kemana-mana. Sehingga tersisa di cakrawala lubang sepesar amplop yang kau terima ini. Ku masukan pelangi itu kedalam tasku. Dengan dua pelangi didalam tasku, aku melangkah pulang. Bumi seakan berhenti berputar, dan semesta berhenti beredar. Aku berjalan menuju bukit tempatku mengambil pelangi yang pertama. Dengan dua pelangi didalam, tas kecilku bercahaya memancarkan warna pelangi yang memukau. Aku simpan pelangi dari desa Paradise Rainbow, kupasang pelangi itu diatas cakrwala di bukit itu. Ternyata pas. Orang-orang sudah tidak mengkhawatirkannya. Lantas kukirimkan pelangi yang asli dari atas bukit itu. Aku ingin kamu menikmati apa yang aku lihat pertama kali. Pelangi yang pernah kita lihat juga diatas bukit yang sama, empat tahun yang lalu.

Aldi yang kurindu, dan selalu kurindu.

Terimalah pelangi ini. Mungkin benar apa kata si kepala suku di desa Paradise Rainbow itu. Cinta yang kupunya ini tak akan pernah tersampaikan kepadamu, tapi aku nekat mengirim ini kepadamu. Aku tidak ingin kisah kita menjadi kisah yang tak berujung, tak pernah usai. Maka dengan sepotong pelangi ini, semoga kisah kita berhenti. Aku lelah, aku ingin menemukan pelangi yang lain. Seperti kamu yang sudah berbahagia beternak senja.

Dengan pelangi ini, kukirimkan seluruh rinduku yang meluruh dengan cahaya mejikuhibiniu. Untukmu, hanya untukmu. Dengan cium, peluk dan bisikan terhangat. Dengan cinta sepanjang hayat. Dari tempat yang paling menyenangkan di dunia ini. (*)

 

*terinspirasi dari cerpen Seno Gumira: Sepotong Senja untuk Pacarku
**dimuat di Koran Harian Radar Cirebon, 21 Februari 2015; http://www.radarcirebon.com/sepotong-pelangi-untuk-aldi.html

Jumat, 24 April 2015

Hari ini

Benci kuakui tapi pagi tadi ada yang ku tunggu. Entah kenapa tapi sapaannya kemarin lusa membuat dada kembang kempis. Semalam sajakah?
Begitu saja pun sudah membekas.
Demi apa aku menunggumu? Duhai lawan debatku kini jadi yang kunanti?
Beber, 24 april 2015

Rabu, 22 April 2015

Caraku mencintamu.

Bagiku mencintamu dalam tulisan yang kureka dan kucipta ini sudah lebih dari cukup. Tak perlu bagiku untuk berterus terang kepadamu. Apakah tak kau rasa setiap huruf ini dituju padamu? Setiap katanya ditaburi cinta. Bagiku cukup mencintaimu lewat kata-kata. Semacam puisi kualitas rendah atau prosa tanpa sastra. Tapi silakan diadu, cintakulah yang paling apa adaanya.

Asal denganmu.

Menjelang gelap menghadang
Dalam riuhnya dengung aku merapal doa
Semoga kelak terulang
Akan kuterjang asal dengan kau

Dua gelas kopi diatas meja
Sebatang rokok dijarimu
Bersama hujan yang mengempur
Aku merapal doa, tak apa begini lagi asal selalu denganmu