Selasa, 24 September 2024

doa

 Ya Allah,

aku mau sehat.
supaya kelak aku bisa menggendong anak dan cucuku, menemani mereka bermain, berlari, berkemah, mendaki, dan semuanya...

tapi, kalau permintaan ini terlalu mudah untuk dikabulkan,
tolong kabulkan yang ini juga,

aku mau sehat
sehat lebih lama lagi
aku mau kuat seperti dulu
agar mampu melakukan semua aktifitas yang kusuka,
beribadah kepadaMu
mengunjungiMu ke tanah haraam itu juga impianku,
berhaji,
umrah

mudah bagiMu untuk mengabulkannya ya Allah...

aku mau menemani suamiku sampai tua, sampai keriputan,
sampai salah satu dari kami dipanggil pulang kepadaMu
aku mau masak untuk suamiku,
sampai dia bosan dan malas beli makan di luar, karena suamiku hanya mau makan masakanku
aku mau melakukan semua hal yang menarik di dunia ini dengannya,
banyak tempat yang belum kami kunjungi
jadi ya Allah, kabulkanlah..
aku mau sehat lagi, aku mau kuat lagi

kalau permintaan ini, terlalu mudah untukMu dikabulkan
maka, akan mudah bagiMu juga untuk permintaanku yang ini...

Ya Allah, Yang Maha Agung
Yang Maha Penyembuh
Yang Maha Esa, Maha Tunggal
Yang Memiliki Seluruh Semesta

aku hanya hamba yang kecil yang membutuhkanmu...
berikanlah aku kesembuhan,
agar aku tidak membuat orang tuaku, orang yang menyayangiku, orang-orang sekitarku khawatir atas diriku

aku ingin sehat lebih lama lagi,
kuat lebih lama lagi.
aku masih punya ibu dan bapak yang harus kubahagiakan..
aku masih punya adik yang harus aku bantu masa depannya..
aku masih punya suami yang harus terus kudampingi..

Ya Allah, mudah bagiMu untuk mengabulkan ini semua. mudah bagiku untuk menerima kasih sayangMu, karena Engkau Maha Penyayang.

maka, kabulkan lah ya Allah...
kabulkanlah...
kabulkanlah...


Aamiin ya Allah... Aamiiin



24 sept 2024

Kamis, 21 Desember 2023

A Letter to My Self

hi nindi 🏳️

2023 is a tough year, right? never been easy since day one.

banyak banget persimpangan yang harus kamu lalui, harus kamu pilih jalannya. saat itu juga. kamu enggak dikasih waktu untuk napas sebentar aja, memilih yang mana yang harus kamu ambil. seperti semuanya bergerak cepat, sementara dirimu terjebak di lampu merah. begitu kan, nin?

walaupun harus menghadapi banyak sekali kekecewaan, kegagalan, dan pertengkaran dengan diri sendiri. dan terkadang kamu menangis, meragukan diri sendiri. kamu gak tahu apa yang harus dilakukan, karena semua ini terasa sangat sulit.

tapi gapapa. kita udah sampai di ujung tahun, nih. gak nyangka ya! satu tahun ini melewati masalah demi masalah dari hari ke hari. bisa loh kamu nin. hebat, bangga sekali padamu nindi.

walau kenyataannya sulit, tapi kamu belajar. kita sama-sama belajar, bahwa hidup ini hanya untuk loncat dari satu masalah ke masalah lainnya. mungkin bentuknya saja yang berbeda hari ke harinya. kita juga belajar, setiap orang sedang menghadapi kesulitan dan masalahnya sendiri. jadi jangan terlalu mengandalkan orang lain. kamu juga belajar bagaimana mengatur waktu, membaginya untuk banyak kepentingan. tapi jangan lupakan waktu untuk dirimu sendiri, ya.

saat ini, kamu kembali lagi ke dunia yang sudah lama kamu tinggalkan. apakah itu menyenangkan, nin?

tahun ke tahun, kamu harus belajar menjadi dewasa. bukan untuk dirimu saja, tapi untuk orang di sekitarmu juga. menjadi dewasa itu sulit, ya.. bertumbuh itu perjalanan yang panjang, dan tidak mudah.

terlihat baik-baik saja juga sangat melelahkan.. kadang kamu ingin seluruh dunia tahu bahwa kamu lelah, capek, dan enggak baik-baik aja. tapi, rasanya semua orang memunggungimu. mereka gak mau melihat itu. orang-orang hanya mau tahu, bahwa kamu baik-baik saja. itu adalah hal yang, menyakitkan.... untungnya, kamu selalu punya seseorang yang sangat mengerti, dan mendukungmu. dia selalu ada pihak kamu, nindi.

tahun ini juga kamu banyak belajar, bahwa orang terdekat tidak akan pernah meninggalkanmu. orang yang menyayangimu akan selalu ada disampingmu. jadi, jangan lupa berterima kasih kepada mereka ya!
semua hal yang terjadi di tahun ini akan membentukmu menjadi orang yang lebih kuat dan percaya diri, di tahun-tahun berikutnya.

nin, mimpi-mimpi itu, yang sedang kamu kejar dan kamu usahakan mati-matian itu.. dilemparkan oleh Semesta karena Dia tahu, kamu akan selalu menemukan cara untuk mewujudkannya. jadi, kamu jangan berhenti berjuang ya. kamu harus selalu belajar untuk memberikan yang terbaik. percayalah pada dirimu sendiri.

nin, semoga kamu enggak lagi khawatir tentang pikiran-pikiran kecil yang mengganggu setiap kamu mau tertidur. janganlah terlalu keras atau terlalu santai pada diri sendiri.

ingat ya nin, karena walaupun kelihatannya mustahil--- rasakan, pikirkan, sesuatu yang baik, itu pasti akan datang kepadamu juga. segala sesuatu mempunyai waktunya masing-masing. dan tentu saja kamu berhak bahagia, seperti orang lain. percayalah. jangan khawatir, nindi. kamu sudah melakukannya dengan baik. sudah, dengan baik.

terima kasih nindi untuk tahun ini, sampai jumpa di tahun berikutnya.


dari dirimu sendiri,
Nindi Aulia Rahmah
10 hari terakhir di 2023.

Rabu, 01 Maret 2023

Pernikahan Kapas

Cotton.

Pernikahan kapas. iya, istilah untuk 2 tahun pernikahan adalah kapas, cotton. masih ringan, bisa terbang terombang-ambing angin. Tapi, hebat sudah melalui 2 tahun yang tentu saja tidak mudah. Semoga bisa ke merayakan ulang tahun pernikahan di tahun-tahun berikutnya! aminnnn

Gak kerasa, sudah 2 tahun menikah. sampai skrg, aku gatau kenapa aku bisa menikah dengan suamiku. wkwkwk. Tiap hari, aku selalu bertanya ke suami "kenapa kamu nikahin aku?" dan dia selalu menjawab, "karena pengen" as simple like that.

Kalau kuingat kembali, di tahun 2020 ke awal perkenalan kami, di situ adalah tahun paling sedih buatku. dan, dia datang menawarkan madu. ciaelah wkwk

Perkenalan kami sampai ke akhirnya lamaran hanya sekitar 5 bulan. singkat, sat set. 3 bulan kemudian kami menikah. bahkan, teman2 terdekatku saja kaget, aku mau menikah. keluarga besarku juga. sebab saat itu  yang dikonfirmasi mau menikah dalam waktu dekat adalah adik sepupuku dulu. Dia bahkan sudah izin mau melangkahiku. wkwkwk. Jadi keputusanku menikah saat itu mengejutkan banyak pihak. 

Dan sampai saat ini pun, 2 tahun pernikahan, aku masih bertanya-tanya mengapa aku menikah secepat itu. Tidak, aku tidak menyesali pernikahan ini, hanya saja aku masih bertanya-tanya dengan semua proses yang satsetsatset itu. hahahaha.

Pernah kubayangkan, sesekali, kalau hari ini atau saat ini, aku belum menikah, aku sedang apa ya?

Tapi, aku bersyukur sekali dengan pernikahan ini. dengan seseorang yang kunikahi, suamiku. Dia adalah orang yang sangat amat tepat untukku. Sabarnya nomor satu!🫶

Kurasa, dibalik satsetsatsetnya pernikahanku yang tanpa sedikitpun ragu dalam prosesnya, itu adalah campur tangan Tuhan alias kuasa Allah SWT alias Takdir. Klise tapi ya emang udah jodohnya, jadi satsetsatset. gituloh...

Alhamdulillah. 

Senin, 28 Februari 2022

Pernikahan Kertas

halo, aku mau bercerita. aku mendedikasikan tulisan ini untuk suamiku, juga untuk kenangan kami.

setahun sudah kami menikah, bahagia. senang sekali menjalaninya. tapi, di tulisan ini aku mau menceritakan bagaimana aku sebelum bertemu dengannya, bagaimana Tuhanku menjawab kontan semua pertanyaanku, mengabulkan apa pintaku.


tahun 2020, setelah dua sahabat dekatku menikah berbarengan. perasaan ingin menikah juga menggelitik hatiku. saat itu, aku habis putus hubungan dengan seseorang yang konon serius padaku tapi no action. bacot doang, nyakitin doang. (lah curhat, maaf).


pokoknya, setelah dua sahabat baikku menikah. aku mulai memikirkannya juga. karena, mungkin sudah memasuki usia matang untuk menikah berdasarkan standar sosial, wkwk. tapi, sampai usia 24-25 aku belum juga dekat serius dengan lelaki manapun. karena, aku berteman dgn banyak orang. dekat dengan banyak orang. beberapa temanku bilang, si A naksir elu nin. tapi enggaa, dia gak pernah berani bilang sama aku. kita akhirnya terjebak friendzone. beberapa kali aku ada di lingkaran setan itu. puncaknya ketika teman dekatku, lelaki itu, akhirnya menikah. aku diolok-olok habis-habisan oleh teman²ku dan keluarganya (karena kami saling kenal). rasanya aku menyesal telah datang ke pernikahannya, aku ingin hilang saja saat itu.


di situlah, aku mulai gaber alias galau berat. sampai pernah seputus asa itu perihal jodoh, aku menyiapkan formulir untuk taaruf dan duit buat ikutan kelas jodoh. hehehe. kaya... dahlah, bismillah, mau ikhlas aja siapapun yang cocok pas taaruf. (padahal, taaruf bagus ya tapi kenapa aku kayak hopeless yak?)


sampai akhirnya, Dewis memaksaku buat kenalan. konon, Dewis bilang ada yang kepo sama aku. wih, aku langsung GR kenapa yak wkwk, berarti aku masih menarik lah 😂😂

aku berkali-kali nanya ke dewis, aku orangnya bukan type yg bisa lgsg klop asik sama orang baru. butuh waktu, tapi Dewis selalu bilang dia orangnya baik, mungkin cocok, coba aja. Dan aku iyain, mau deh kenalan.


Setelah kenalan, anehnyaaaa ada beberapa orang juga yang deketin aku. kaya misal hari ini pagi aku dianter kerja sama si A, sorenya dijemput sama si B. besoknya, main sama si C.  dan semua orang² itu menyenangkan untuk diajak ngobrol, karena basicnya dari temanan.


tapi pemenangnya adalah, suamiku, bayyinuddin ahmad! 


Suatu hari, di masa galau berat itu aku pernah menulis di buku harian, aku mau menikah diakhir 2020 atau awal 2021. aku mau menikah bukan karena omonga orang tapi karena aku mau menikah. aku mau suamiku dan aku, perannya sama. tidak terlalu ringan atau terlalu berat. kita sama, setara, seimbang.


dan, boom. Allah kabulin, kontan!

aku menikah awal tahun, dengan kesadaran sendiri tanpa campur tangan omongan tetangga. wkwkwk. dikasi bonus, suamiku yang tidak patriarki, ia menghargaiku sbg perempuan merdeka, diberi kebebasan untuk menentukan pilihanku sendiri. bahagianyaaaaa!

rumah yang kami tinggali berdua, bukan saja tugasku untuk menjaga dan merawatnya tapi menjadi tugas kami. kami berbagi peran. mencuci masak dan beberes bukan hanya tugas perempuan dan suamiku tidak malu akan itu. aku bahagia!


sekarang, hari ini, 28 februari genap sudah usia  pernikahan kami satu tahun. aku tau, masih banyak hal² yang belum kami lewati untuk ujian rumah tangga berikutnya. tapi, aku percaya sekali tahun pertama adalah fondasinya. kedepannya, kami tentu akan lebih kuat.


kami masih menunggu hadirnya buah hati, semoga memasuki tahun kedua ini kami segera diberikan titipan. 


sekian ceritaku, terima kasih

Jumat, 15 Oktober 2021

Nindi menikah!

 Hai, sudah lama sekali enggak nulis. hehe

Btw, aku sekarang sudah menikah. Alhamdulillah. Aku menikah dengan laki-laki yang enggak kuduga. Kalau melihat kembali tulisan-tulisan di blog ini, tak pernah kusangka aku menikah dengan orang yang gak pernah kutuliskan ceritanya di blog ini. Maka, ini adalah tulisan pertamaku tentang suamiku di blog ini.

Ternyata, aku menikah dengan seniorku di kampus. Hehe. Kita beda 4 tahun, jadi saat aku masuk kuliah dia sudah lulus. Makanya kita gak pernah ketemu, atau bersinggungan secara langsung. Aku hanya tahu, dia senior yang cukup disegani oleh angkatanku dan senior lainnya. Konon, dia adalah pendiri teater di Fakultasku. Oh iya, yang kuingat juga dia adalah pacarnya senior perempuan yang saat itu cukup dekat denganku.

Bagaimana awalnya kami bertemu?

Semua karena Dewis!~

Aku gak pernah menyangka akan menikah di umur 25. Rencananya, aku akan menikah saat aku 27 tahun. Karena, aku mau menunggu seseorang yang saat itu sudah menjanjikan dirinya untuk menikah denganku di umur 27. Tapi ternyata, toh enggak jodoh. Dijauhkan dengannya dan malah didekatkan dengan suamiku sekarang.

Namanya Bayyinuddin, bagus sekali ketika aku tahu namanya. Orangnya baik, dewasa, dan penuh cinta. Hari itu, tiba-tiba Dewis whatsapp dan bilang, "Nin, lu mau gak kenalan?'. Dewis tahu betul, aku susah sekali membuka hati. Jadi, kumeyakinkan diri berkali-kali ke Dewis bisa gak ya aku buat kenalan sama orang baru? Saat itu, aku meyakini sekali bahwa gak bisa suka atau cinta sama orang yang baru kukenal. Menikah pun aku mau dengan temanku sendiri, yang sudah mengenal diriku baik jeleknya sejak lama.

Semesta emang becanda melulu, akhirnya kujalani juga perkenalan dengan suamiku. Beberapa kali kami bertemu, beberapa kali kami jalan. ulang tahun ke 25 kulewati dengan makan bersama dirinya, sementara orang yang kuharapkan melupakannya. huh, sedih banget saat itu.

Hingga, mungkin 3 minggu setelah ulang tahunku dan 3 bulan perkenalan kami. Dia mengajakku ke rumahnya, di Halimpu Beber, yang kini kami tinggali bersama. Di sana, ya gak ngapa-ngapain. Cuma ngobrol dan makan. Hingga, setelah mengantarku pulang. Dia whatsapp, panjang sekali. Pake "Bismillah", seolah kupinang kau dengan Basmallah. wkwk.

Iya! Dia meminta aku untuk menjadi istrinya, "Bismillah, Nindi Aulia Rahma. Mau engga kamu jadi istri saya?...." aku terkekeh. Menulis nama lengkapku saja salah, Huh. Tawaran dan ajakannya menikah itu, selama sebulan atau mungkin lebih, enggak kujawab. Karena? Gatau. Aku betulan gatau harus jawab apa saat itu. Menikah tidak ada di rencana jangka pendekku. 

Kemudian hari terus didesak untuk diminta jawaban, akhirnya kuserahkan ke Mamaku. Dan ya, direstui dan diridhoi. Semuanya berjalan lancar walau ada krikil sana sini yang semesta lempar, tapi dilalui dengan baik. 6 Desember kami lamaran, dan menentukan tanggal 28 Februari 2021 untuk akad nikah.

Saat itu, tersiar kabar bahwa aku menikah cepat karena hamil duluan. Wkwkwk. Ya ampun, ciuman aja aku belum pernah. Ciuman pertamaku, ya suamiku saat sudah menikah. Btw, saat ini aku belum dikasih titipan sama Allah. Semoga secepatnya aku hamil, ya! amin

Udah deh, begitu ceritanya sampai kami menikah. Jodoh gak ada yang tahu ya!

Senin, 12 Agustus 2019

Menjadi jahat

Halo Semesta, apa kabar?

Pertama-tama, aku ucapkan selamat berlebaran idul adha bagi kamu semua yang merayakannya.
Apa yang kamu kurbankan tahun ini?

Aku berkurban tahun ini.
Aku mengorbankan perasaan yang sesungguhnya  belum aku miliki.

Di hari raya kemarin, aku mengambil peran sebagai perempuan jahat. Aku mungkin saja telah menyakiti seorang pria, yang padahal (mungkin saja) dengan tulus, menyayangiku. Aku juga tidak tahu perasaan dia yang sesungguhnya. Siapa memang yang tahu kedalaman hati seorang manusia?

Kalau kamu pria itu, dan kebetulan kamu membaca ini. Tolong maafkan aku, dan mari kita terus berteman. Aku tidak ingin kehilangan orang baik di hidupku. Maafkan aku, sekali ini saja.


***

Rabu, 29 Agustus 2018

Puisi untuk kamu

aku ingin bilang bahwa aku mencintaimu,
tapi aku kecewa pada bahasaku yang terbatas
sehingga aku kesulitan mengutarakannya

aku mencintaimu
mengagumi tak hanya parasmu
tapi utuhnya kamu sebagai dirimu
aku mengagumi keberanianmu, pikiranmu, sikapmu, sopanmu, tutur bahasamu dan leluconmu yang kadang tidak lucu itu
aku mencintai segala yang ada pada dirimu

aku mencintaimu di luar dugaanku
bahkan ketika kupikir ini hanya euphoria sesaat
atau meski aku merasa begitu kerdil di hadapanmu, karena tidak mampu mengimbangi kamu dan mimpimu
aku tetap mencintaimu
di luar ruang dan waktu
terus mengembang seperti nebula di jagat raya

aku sungguh mencintaimu
hingga sesuatu yang sembunyi pada diriku berkata, "aku harus menunggumu, aku ingin menikah denganmu"
tapi aku tak berani bilang padamu

Beber, 29 Agustus 2018

Jumat, 20 Juli 2018

Celoteh Nindis: Toxic Friend

Halo.
Gue mau curhat.
Gue gak habis pikir sama "jalan pikiran" manusia yang seolah-olah dia tahu segalanya, dia lebih hebat, dia merasa lebih deh pokoknya.
Mau itu temen lo yang udah lama kenal, atau cuma sebatas teman doang, atau kenalan doang. Tetep sih buat gue manusia yang jenisnya kek gitu adalah manusia paling nyebelin.

Dia ngerasa, "gue lebih tahu segala hal dibanding lo, dengerin deh apa kata gue" dengan penekanan kalimat yang mengintimidasi dan terkesan merendahkan. Lah dikata kita orang gak tau apa-apa tentang dunia ini?
Padahal ya padahal, secara sosialisasi gue rasa yang paling banyak teman dari berbagai kalangan ya gue. Yang paling sering wara-wiri ya gue. Dibanding dia loh.
Ya namanya juga sifat atau watak orang, emang susah diilangin. Harusnya sih, tipe-tipe orang kek gini tuh kita harus bikin jarak supaya gak akrab-akrab banget. Tapi, herannya gue bener-bener tulus temanan sama dia. Dia dapet kabar baik, bla bla. Gue seneng. Tapi nih orang, gue punya kabar baik dsb, seolah gue dilarang melebihi pencapaian dia.
Jujur sih, temenan ama dia agak menyebalkan. But, namanya temen ya temen. Plus lu udah lama kenal. Dia tau buluknya kita gimana.
Namanya temen ya temen. Ga sesempurna yang lu mau. Yaudah sih gitu aja.

Sabtu, 09 Juni 2018

Celoteh Nindis; Sosmed = hiburan + pukulan

Dunia sosmed atau dunia maya, bisa jadi sarana hiburan dan pukulan.

Jadi hiburan kalau ketemu akun dengan konten yang lucu bikin terhibhr, jadi termotivasi kalau ketemu akun dengan konten positif, jadi teredukasi kalau ketemu akun yang konsen dengan pengetahuan dan wawasan.

Tapi, jadi pukulan kalau ketemu akun kawan lama yang sudah menikah, punya anak dan terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya.

Iya. Temen-temen sekolahku dari mulai SD sampe Kuliah ini, sudah banyak yang menikah. Ketika buka sosmed, dan pas banget mereka-mereka ini posting kebahagiaan mereka dengan keluarga kecilnya. Dalam hati cuma bisa ngucap, "Ya Allah, bahagia banget ya dia udah nikah dan punya bayi. Lucuk bgt pula bayinya."

Nindi ngiri?
ENGGA.
Nindi pengin nikah ya?
Ya iyalah. Pengin nikah, pengin punya anak, pengin berkeluarga dan bahagia.

Tapi rencana menikah masih jauh dalam benak seorang Nindi. Saat ini, rupanya aku cuma belum terbiasa ngontrol emosi agar enggak gampang baper untuk melihat teman-teman yang udah berkeluarga. Rasanya kayak terharu aja, lihat mereka sudah berkeluarga dan bahagia.

Kayak dalam pikiranku muncul perasaan, "dia udah, nanti kamu ya Nin. Tunggu aja giliranmu"
Nah, begitu.

Belum ada rencana menikah untuk waktu dekat ini. Masih banyak yang harus aku bayar dulu untuk keluarga. Masih ingin menikmati masa apa-apa sendiri, kemana-mana sendiri, ngapain-ngapain sendiri, dan waktu sendiri.

Tapi sungguh deh, kalau buka sosmed, lalu muncul "hal-hal demikian", aku langsung merasa terpukul. Haruskah aku berhenti dari dunia sosmed ini? Hm :(

Kamis, 07 Juni 2018

Ditinggal seseorang yang cukup berarti di hidup seorang Nindi

Sekitar habis adzan isya, gw lagi siap-siap mau bikin kue untuk hari raya ntar. Pas lagi ngayak gula halus, tiba-tiba aja dapet telepon dari bibi.

"Teh, Wa Haji Walim meninggal"

Jleb. Sakit banget.
Ngerasa bersalah terhadap 2 hal.

Satu, karena belum sempet jengukin Uwa, padahal udah tau beliau masuk ICU dari beberapa hari lalu. Dua, karena kemaren-kemaren dengan "jahatnya" gw ngebayangin 'nanti gimana ya lebaran, pas ziarah ke makam yang pimpin doa siapa, kalau Uwa Haji masih sakit?' bukan malah mendoakannya terlebih dulu. Uwa, maafin Nindi.

Uwa Walim, dua hari sebelum sidang skripsi beliau ke rumah. Sengaja, ingin ngobrol sm Nindi. Banyak yang diobrolin, banyak nasehat yang dikasih Uwa. Intinya, gw harus segera nyelesain kuliah, apapun halangannya. Kalau bisa kuliah lagi!

Uwa Walim ini, salah satu orang yang selalu ngedukung gw. Waktu lulus SMA, gw gak lolos snmptn. Dengan gampangnya beliau bilang, "nih buru beli pin ke bank, sana ikutan sbm" tapi gw tolak karena gw emang gak niat utk sbm. Besok-besoknya, beliau datang lagi ke gw dan lagi-lagi bilang, "sana ikutan UM Unnes, nih ongkosnya". Sayangnya gw saat itu gak ada semangat jadi gw tolak lagi.

Jadi inget, dulu waktu masih kecil, belajar ngaji sama Uwa Walim. Dimarahin karena salah bacaannya. Pokoknya, Uwa ini insyaAllah salah satu yang cukup berarti utk Nindi.

Dan, sekarang Uwa udah enggak ada. Sedih banget. Kemarin tarawih di imamin 4 rakaat sama Uwa, Alhamdulillah.
Semoga uwa tenang di sisi Allah, uwa udah enggak ngerasain sakit lagi. InsyaAllah.

Uwa, terima kasih. Sampai jumpa agi, InsyaAllah.

Beber, 6 Juni 2018.

Senin, 26 Maret 2018

Aku dan Menikah

Sekitar kelas 2 SMA, aku pernah berujar ke temanku, "aku pengin nikah muda".
Lalu setelah lulus SMA, aku memilih kuliah dibanding lgsg bekerja. Kemudian, aku lupa dengan keinginan menikah muda itu. Dunia kampus membuatku asik sendiri.
Sekarang, ketika usiaku di masyarakat dipandang sudah cukup umur untuk menikah karena banyak teman-teman seangkatanku bahkan angkatan di bawahku sudah menikah, keinginan itu kembali menggelitik hatiku.
Saat aku memikirkan ingin menikah muda, usiaku masih 16 tahun. Aku mengalami banyak hal. Bibiku yang sudah menikah, dan punya anak, kuurus anaknya sejak bayi. Kakak-kakak sepupuku, menikah dan punya anak, lucu menggemaskan. Kuurus dan kusayang.
Tapi, mereka, bayi-bayi itu tumbuh besar, punya teman, lalu lupa dengan aku. Posisiku hanya sebagai tante atau teteh untuk mereka. Sedih. Aku ingin jadi seseorang yang amat 'bayi-bayi' itu sayang.
Jadilah aku kepikiran ingin punya anak, di usiaku yang 17 saja belum.
Aku ingin menikah muda saat itu, karena aku ingin bayi, aku ingin mengurus anak. Impianku saat itu ingin menjadi Ibu, seseorang yang amat sangat penting, berarti dan dicintai si bayi. Sederhana kan.
Tapi impian menikah muda itu, ya cuma mimpi. Karena sekarang, memang sudah usianya untuk menikah. Jadi, kalaupun aku menikah dalam waktu dekat ini, sudah tidak bisa dibilang nikah muda. Hehehe.
Tetapi, impian untuk menjadi ibu yang baik untuk bayi-bayiku gak akan pernah hilang. Kalau dipikir-pikir, sepertinya itu adalah impian terbesarku. Dibanding dengan karir lainnya, jadi ibu adalah cita-citaku.

Allah yang baik, semoga Engkau mengabulkan mimpi besar ku ini. Setepatnya saja ya Allah, terserah Engkau. Allah, Engkaulah yang paling tahu bagaimana baik atau buruknya untukku. ❤❤

Rabu, 14 Februari 2018

hujan di bulan februari

Halo Februari

Terlambat sekali menyapamu

Setiap orang adalah cinta pertama bagi orang lain. Aku penasaran, apakah aku menjadi cinta pertama bagi seseorang? Siapakah dia? Dekatkah ia di hidupku?

Februari
Kali ini, izinkan aku sedikit berterimakasih  kepada luka-luka, rasa sakit karena dikhianati, perasaan kecewa, marah dan segumpal perasaan tidak sehat lainnya yang pernah aku rasakan
Terimakasih, patah hati. Berkatmu aku mengerti, ada harga yang harus dibayar mahal untuk sebuah pendewasaan.

Dan, setiap orang pasti pernah mengalami patah hati, sakit hati. Entah patah hati karena orang yang dicintai, atau mematahkan hatinya sendiri.

Aku keduanya.

Pernah aku mematahkan hatiku sendiri. Aku berhenti mengasihi, tapi tidak bisa membenci. Aku mematahkan hatiku sendiri hanya karena tidak ingin berharap lebih dari apa yang mampu seseorang itu beri. Kemudian aku memilih mematahkan hatiku, entah bagaimana caranya, aku mendapati diriku terluka tapi tidak ada bekasnya di tubuhku. Berkali-kali aku mematahkan hatiku, untuk orang yang sama.

Harus kau tahu, aku ini tipikal orang yang lurus-lurus saja. Aku ini setia pada satu.

Sekali waktu, hatiku dipatahkan oleh seseorang. Seseorang yang lain. Kala itu, aku mencoba merekatkan kembali patahan hatiku, seseorang yang lain itu datang. Katanya ia mau membantu. Tapi ia malah menambahkan cidera yang lain, di hatiku.

Bagaimana rasanya dikhianati? Sekali, aku bisa memaafkan. Dua kali, aku mungkin maklum. Tiga kali, aku ingin berhenti. Aku tidak ingin terikat pada hubungan yang justru membuat hatiku ngilu.

Mungkin aku tidak cantik. Tidak mengapa karena memang. Tapi, bukan karena fisikku tidak sebagus yang dimau, aku jadi disakiti seenaknya. Nanti, kutunjukan aku memiliki sesuatu yang cantik, yang saat itu tidak disadarinya.

Sudah cukup. Aku malah jadi melantur. Poin penting dari tulisan ini adalah,
aku memang belum lupa pada semua rasa sakit, kecewa, amarah yang pernah aku rasakan. Tapi, dari semua itu aku belajar. Bahwa, satu-satunya yang bisa diandalkan untuk melindungiku ya diriku sendiri. satu-satunya yang bisa dipercaya untuk menjaga perasaanku ya diriku sendiri.

meminta dan mengharap pada seseorang, kalau dia tidak menghendakinya, kita yang kecewa. Tahi kucing dengan komitmen. Setiap individu ingin merdeka. Aku, kamu, ingin bebas. Bukankah begitu? Hehehe

Saat ini, aku begitu. Aku ingin bebas.

Perempuan merdeka,
merdeka dari rasa sakit hati
merdeka dari penjajahan perasaan
merdeka dari pertanyaan "kapan nikah?"
*if you know what i mean* :)))))

Selasa, 26 Desember 2017

aku dan kesenanganku

kepada desember yang kadang mendatangkan badai dan terik. dan demi januari yang kehangatannya mulai terasa di batas kota ini.

aku mencoba untuk tidak terlalu ambisius. sebab dewasa ini, aku menyenangi sesuatu yang natural dan sederhana saja.

kesenangan yang kumaksud itu bisa berwujud pesan singkat, yang kadang dapat membuatku berjingkrak bila dapat satu darimu. atau potret dirimu yang sengaja kau bagi sendiri. sesederhana itu. darimu, apa pun, yang memberi kesenangan (buatku) di dalam diam.

iya. kamu adalah kesenangan itu. kamu yang kata banyak orang susah untuk kujangkau. mereka bilang aku terlalu bermimpi. aku jadi tidak percaya diri. tapi tak apa, karena buatku, kamulah kesenangan itu. perasaan damai dan penuh keindahan bila memikirkan kamu dan aku ke masa depan yang ingin kurangkai.

kamu adalah kesenangan yang menimbulkan rindu. rindu yang bukan hanya pada kamu yang sedikit -- seperti hanya kamu dalam bentuk pesan singkat dan potret dirimu -- tetapi juga rindu pada kamu dalam versi lengkap dengan segala kekurangan, dan kelebihan kamu yang melimpah.

aku sedikit memaksa kepada Tuhan. aku selalu menyebut namamu atau mengingat wajahmu, setiap kali di hadapan-Nya. kujadikan doa sebagai satu-satunya jalan tempuhku bila ingin mendapatkan kamu, kesenangan itu. aku tahu caraku ini tidak benar tapi juga tidak salah. biar Tuhan saja yang menimbang, akankah hatimu bergerak kepadaku atau justru Tuhan melemparkan sejauh-jauhnya?

pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa sekali lagi. aku mendoakan semua kualitas terbaik yang Tuhan cipta dikeluarkan-Nya kepadamu. semoga kita bisa bertemu di sebuah waktu, di masa yang datang, di mana semua lebih natural dan sederhana. sesungguhnya Tuhan itu Maha Cinta. Ia tentu lebih paham. semoga saja kita berjodoh.

salam, nindiarh.
sesekali aku ingin jujur seperti ini.

Senin, 20 Februari 2017

POHON KERSEN


FEBRUARI sudah mendekati penghujung. Siapa yang tidak mengenal bulan ini? Semua juga tahu, Februari memiliki tempat masing-masing di hati siapapun. Satu, dua, tiga mulai bercerita tentang masa-masa indah. Kemudian kamu. Empat, lima, enam, hingga sebelas, peristiwa berubah jadi kenangan.
Kenangan bagiku seperti bawang. Semakin aku kupas, semakin tidak kutemukan intinya. Semakin aku iris, semakin perih mata menangis. Kenangan bagiku adalah kamu. Nama yang pernah kuukir indah di sebuah pohon.
Kenangan memang nakal, seringkali ia mengusik ketentraman. Ketentraman yang tumbuh dari luka dan luka yang terbuka karena cinta. Barangkali karena cinta itulah aku berani menuliskan indah namanya.
Dua dasawarsa berlalu. Kenangan itu harusnya tertinggal jauh di belakang. Tapi sekuat apapun aku berlari menjauh, ia justru amat dekat. Lekat sekali dalam ingatan. Sampai-sampai aku hafal bau kenangan yang akan muncul setiap kali aku menatap sesuatu.
Pagi ini di tanah kelahiranku, aku menghirup kenangan. Manis betul ia berkeliaran di kepalaku. Masa-masa indah puluhan tahun silam. Masa di mana aku masih beringsut sarung selepas mengaji di tajug. Menenteng sajadah dan memeluk erat Alquran. Berkejar-kejaran dengan teman di bawah temaram rembulan yang menggantung bulat dengan takhzim di angkasa. Rembulan malam ke lima belas.
“Nur.. Nur.. ini si Gani suka!” teriak Abdul, kawanku, kepada Nur.
Nur adalah cahaya. Ia kemilau yang paling indah. Terang yang paling terang. Hingga siapapun ingin memiliki cahaya itu. Nur adalah keajaiban. Nun di ujung jalan sana, Nur tersenyum malu. Aku ― Si Gani, dapat melihat sempurna indahnya senyum Nur. Nur yang kucinta.
Benar. Kenangan memang nakal. Menyentil sedikit saja perasaanku jadi kembang kempis. Nur, adalah nama yang kuukir di sebuah pohon kersen. Pohon pemilik kenangan setiap orang. Adakah yang tidak memiliki kenangan padanya?
Pohon kersen adalah sejenis perdu yang berbuah kecil dan manis serta berwarna merah kalau matang. Pohon kersen tumbuh tidak terlalu tinggi, paling sekitar 5 hingga 7 meter. Aku sering sekali memanjatnya. Pohon kersen ini tumbuh begitu saja. Tidak ada yang menanam. Pohon dengan cabang-cabang yang mendatar dan menggantung diujungnya, membentuk naungan yang rindang. Ranting-rantingnya berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar, begitu pula pada daunnya.
Suatu sore di senja yang megah, duduk aku pada bangku panjang di bawah pohon kersen bersama Nur, cahayaku. Kami tidak berdua saja memang, ada Abdul, Koni, Emah dan kawan-kawan lainnya sedang bermain gobak-sodor. Usiaku saat itu 13, dan Nur 11 tahun. Kami selisih 2 tahun.
Apa yang dirasakan anak baru gede saat dilanda kasmaran? Aku serasa terbang, ingin memeluk Nur erat tanpa dilepas. Tapi, apalah daya, duduk berdua di bangku saja sudah dicap budak nakal. Duduk berdua dengan Nur, dengan jarak lima jengkal jauhnya, dengan pandangan saling menunduk, dengan dada yang gemuruh. Antara senang dan cemas. Takut ketahuan Uwak Haji, bisa mati dibunuh aku.
Nur adalah keajaiban. Nur adalah anak dari seorang tokoh agama di desaku, oleh masyarakat biasa dipanggil Uwak Haji. Beliau dihormati dan disegani semua orang. Aku belajar mengaji pada Uwak Haji di tajug selepas sembahyang Isya, dengan Nur juga dan teman-teman yang lain. Sementara aku hanya anak petani, Bapakku membajak sawahnya Uwak Haji, mengolahnya hingga panen dan bila musim panen hasilnya dibagi dua.
Aku mengagumi Nur sejak dia masih ingusan. Ketika usiaku 8 tahun dan Nur 6 tahun, aku pernah menemani Bapak ke rumah Uwak Haji mengantarkan hasil panen. Aku melihat Nur sedang bermain. Nur memakai kudung putih tertawa lepas, gigi depannya ompong, aku suka sekali melihatnya. Aku tidak tahu apakah itu perasaan cinta atau bukan, tapi sejak saat itu aku selalu ingin melihat Nur. Nur adalah cahaya.
Di bawah pohon kersen inilah, beberapa puluh tahun lalu, aku duduk bersama dengan Nur. Terpisah jarak lima jengkal. Hatiku berdebar. Ada senang bercampur cemas. Aku ingat hari itu. Hari dimana aku berani betul. Padahal saat itu, banyak kudengar Uwak Haji galak bila ada yang mendekati Nur. Kudengar juga ada pemuda dari desa sebrang, berani-beraninya menemui Nur di rumahnya langsung kena semprot Uwak Haji.
“Nu.. Nuur..” Kataku sedikit gugup.
“hmm.. kenapa A Gani?” tanyanya menatapku, sementara aku tak mampu balas menatapnya hanya menunduk melihat tanah merah yang mulai kering.
“Boleh aku tulis namamu disini?” kataku sambil menunjuk pohon kersen dan tetap menunduk.
“Wah boleh, ayo kita tulis namaku dan nama A Gani juga teman-teman yang lain. Ini bisa jadi pohon kenangan kita!” Ucap Nur antusias, matannya pasti berbinar indah.
“Tapi aku hanya ingin menulis namamu saja, Nur. Boleh?”
“Hmm.. boleh deh, yang indah ya A Gani!”
Di pohon kenangan ini, aku menulis namanya. Nur. Setelah Nur pulang dan teman-teman yang lain pulang juga untuk bersiap-siap pergi ke tajug, aku masih tetap duduk di bangku ini. Aku menatap nama Nur yang terukir indah di pohon kersen. Lalu tanganku dengan magisnya menuliskan nama lain untuk mendampingi nama Nur, namaku. Sehingga di pohon itu, kini terukir  NUR dan GANI.
***
Sudah dua dasawarasa sejak kejadian itu, tapi masih lengket melekat dibenak. Sekarang, beginilah kehidupanku. Duduk termenung dalam waktu yang lama, dan hanya memandang ke satu arah; kepada pohon kenangan. Lekat-lekat kutatap namaku dan nama Nur. Sesekali Nur lewat, bersama suaminya si Abdul.

Nindiarh
Penulis Amatiran

Rabu, 15 Februari 2017

Duh, Nindi

Duh, Nindi.
Konon, kamu tidak pernah tahu Semesta dengan segala takdirnya membawamu melangkah ke arah mana. Di satu titik persimpangan, kelak kamu menyadari telah sejauh ini melangkah. Kembali ke belakang sama halnya dengan menumbuk tepung. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah terus melangkah, berlari bila perlu. Jangan hiraukan yang telah tertinggal, biarkan mereka atau sesuatu itu pada tempatnya. Setiap orang atau setiap sesuatu punya porsinya masing-masing.

Selasa, 17 Januari 2017

Sebuah cerita yang tidak layak kamu atau siapapun tahu

Aku memulai menulis cerita ini dengan sesuatu yang menggenang di sudut mata.

Suatu hari aku melalui perjalanan panjang dengan teman-temanku, ke suatu kota nun jauh dari kota tempat tinggalku. Di perjalanan aku bertanya pada salah satu dari teman-temanku, bagaimana kalau aku mencintai seorang pria sejak lama, apakah aku harus bilang atau tetap diam saja seperti ini?. Temanku itu menjawab, kalau kamu ingin dipandang sebagai perempuan pada kodratnya, biarkan perasaan itu, jangan diungkapkan. Aku diam menunduk, aku tahu hakikatnya perempuan adalah menunggu. Mau semodern apapun, kodratnya perempuan adalah untuk dipilih. Dia, temanku, berkata benar. Dia menghormati diriku sebagai perempuan. Kemudian, aku menyanggahnya, tapi bagaimana ya, ini sudah di tahun akhir masa kuliah kita. Aku menyukainya sejak semester awal, hingga kini masih saja aku suka. Entah dia sadar atau tidak.
“Apakah dia ada di lingkaran pertemanan kita?”, temanku bertanya.
“Iya”, jawabku.
“Kamu pernah menunjukkan kamu mencintainya?”
“Selalu. Aku selalu menunjukan diriku ini nyata untuknya, aku ada mencintainya tapi sepertinya dia hanya memandangku sebagai teman.”
“Kasihan. Hahaha”
“Kurang ajar! Hahaha”
“Jangan diungkapkan, biar saja. Itu saranku, terimalah.”
“Baiklah, terimakasih.”

***

Dan, di sinilah aku. Tetap diam menunggu waktu terbaik kapan harus kuungkap perasaan itu. Sungguh, saran dari seorang laki-laki yang tengah patah hati itu, amat membekas. Duh teman, bagaimana pula aku bisa segila ini jatuh cinta pada kawanmu.

Adalah temanku yang lainnya, yang membuatku jatuh cinta sejak awal bertemu. Timbul begitu saja ketertarikan itu. Berusaha diam saja seperti ini, sejak lama, semakin menebalkan kekaguman akan sosoknya.

Terlalu banyak kesukaan aku dengannya. Cacat fisik kami, kopi kesukaan kami, waktu kesukaan kami, dan segala hal yang mungkin aku paksa hubung-hubungkan demi menyenangkan hatiku sendiri.

Susah memang menjalani cinta sepihak, cinta pada teman sendiri. Sering kali diminta jadi pendengar kisahnya dengan perempuan lain, diminta pendapat untuk hubungannya, dan selalu dipandang sebagai teman.

Hal-hal biasa di matanya yang dilakukan untukku, selalu menjadi istimewa di kenangku.

Yang paling kusuka adalah ketika berdua kita meraba jalan pulang di malam gelap dan hujan besar itu. Yang paling kurindu adalah satu meja denganmu, menatapmu menyeruput kopi dan menghisap rokok. Hanya kita berdua. Yang paling kuingin adalah mendengarkan semua lagu ciptaanmu, meski musiknya bukan seleraku, apapun tentangmu kusuka. Yang paling kuingat adalah semua tentangmu, segala hal yang kau lakukan selalu kusuka. Sejelek apapun kau saat tidur, sebau apapun kentutmu, selama apapun kau makan. Sungguh  selalu menarik bagiku tentangmu.

Ya Tuhan, bagi perempuan di usia yang sudah dewasa ini entah mengapa kisahku ini begitu kekanak-kanakan. Salahkah aku bila selama ini aku hanya melihat ke arahnya?

Ah, dia yang mungkin tak pernah menyadari temannya yang satu ini begitu mendewakannya.

Kamu, kalau sempat membaca ini, tolong sampaikan salamku pada keponakan-keponakanmu yang katanya menyukaiku, sampaikan padanya, doakan agar Teh Nindi bisa menjadi Tante Nindi. Tolong ya, lebih banyak doa lebih baik.


Aku mencintaimu. Seseorang itu.

Jumat, 18 November 2016

Mengapa?

Mengapa akhirnya kau pilih dia yang tidak berjuang sekuat aku mencoba? Akhirnya kita akan asing bagi diri masing-masing.

18112016

Minggu, 06 November 2016

Kau Menjelma Aku

Kita tidak pernah mengerti Semesta dengan segala permainannya dalam setiap pertemuan juga perpisahan. Meski tahu betul setiap pertemuan akan berakhir perpisahan. Tapi, siapa ingin berpisah bila sudah menikmati tiap-tiap hal dalam pertemuan?

Kau adalah anugerah yang Semesta berikan. Sayangnya, aku menyadari hal tersebut di ujung waktu. Padamu aku tahu di bumi ini ada seseorang sepertimu. Aku melihat diriku dalam bentuk lain pada dirimu. Aku lima tahun yang lalu. Kau menjelma aku sebagai bentuk lain yang bukan aku.

Kelak, aku tahu ini bukan perasaan cinta atau semacamnya. Tidak wajar. Begitu yang mereka katakan. Seminggu belakangan ini rasanya seperti mau gila memikirkannya. Tapi malam ini aku yakin betul, ini hanya daya tarik. Kau menjelma aku.

Maafkan atas perasaan keliru belakangan ini.

Nindiarh, 6 November.

Selasa, 11 Oktober 2016

Celoteh Nindis; Kangen.

Apa kabar? Bagaimana kamu melalui 70 hari belakangan ini?

Oh iya.
Selamat malam, atau pagi, atau sore. Bagaimanapun bentuk cuacanya, kuucapkan selamat buatmu.

Aku kelabu.

Ada banyak hal yang melayang-layang di benakku tapi sulit kutangkap, sehingga tak bisa kusajikan buatmu. Mari kita lupakan saja.

Sebab pada tulisan ini, sepenuhnya beralamat padamu. Entah akan kau baca atau tidak, aku tidak menjaminnya. Tidak besok, atau lusa, tidak minggu ini juga minggu depan. Bulan depan atau tahun depan, atau tidak sama sekali, itu juga tidak apa-apa.

Bagiku cukup kau abadi dalam tulisanku, hidup dalam kenanganku. Terukir sebagai salah satu manusia yang menjadi sejarah di kehidupanku, biarlah kau melegenda untukku.

Selamat 9 hari menjelang ulang tahun, ya!
Kalau kau bertanya -mungkin juga tidak- apa yang menjadi doaku buatmu, aku akan menjawabnya dengan malu-malu. Aku mendoakanmu agar kau segera tergenapi dalam hidupmu, dan pastikanlah di masa depanmu nanti adalah aku sebagai apapun yang terbaik di hidupmu, aku tidak memaksa.

Kalau kau tahu, ini adalah pengakuan keduaku. Perasaan itu, sebagaimana aku mencoba menikamnya dalam-dalam, sungguh tidak bisa kulenyapkan begitu saja. Sebagaimana kau memintaku bersikap sebiasa mungkin, pada kenyataannya ia telah mengakar di hatiku, tumbuh subur tanpa pernah kusiram.

Selama 70 hari ini, apakah kau pernah sekali saja benar-benar rindu padaku?

Apakah nanti, setelah kita melanjutkan kehidupan masing-masing, aku dengan cita-citaku dan kau dengan segala mimpimu, kau akan merasa rindu padaku?

Tapi aku bisa apa? Sekalipun rindu ada padaku. Rindu yang lain, rindu yang bukan teman kepada teman. Kalau kau mengerti.

Ah. Mari kita lupakan kembali.
Kondisiku sedang tidak baik-baik saja, dan yang kupikirkan adalah kamu. Bagaimana ini?
Padahal,
Sebatas aku hanya temanmu, sebatas kamu hanya khayalanku.

Sehat-sehatlah selalu. Aku sungguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh rindu!

Salam, aoelia.
11 Oktober 2016

Selasa, 20 September 2016

Hilang

Untuk mengenang kembali perjalanan menuju titik 3078 mdpl 17 Agustus 2015.

Aku sudah selesai mengeja namamu, tidak kutemui kejanggalan. Aku membacanya berulang kali. Satu, dua hingga tiga, namamu masih bisa kueja. Empat, lima lalu sebelas tiba-tiba namamu tidak jelas. Pandanganku kabur, namamu tak bisa lagi kujangkau.

Sepanjang langkah kutapak di bebatuan pasir menuju puncak, kuucap kembali namamu biar terus ku kenang. Sembari menahan sesak yang kadung memenuhi dada, seperti kehabisan oksigen. Aku tak menemui namamu di batas horison, antara bumi dan langit.

Lepas kemarau kering kemarin yang kau semai, satu hal kumenyadari, inginku bukan maumu. Untuk apalagi kita menahan? Maka kulepaskan engkau di ketinggian ini. Diamlah, terkubur, tertinggallah namamu di sana. Dan aku kembali dengan hilang.

Nindiarh, 17 September 2016.